Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Sekat


__ADS_3

Tak terasa, dua minggu telah berlalu begitu saja. Eum, mungkin karena disibukkan dengan perkejaan. Akhir-akhir ini aku jadi jarang pulang ke rumah, karena sering lembur sampai begadang semalam suntuk. Mirip kebiasaanku dulu, sewaktu masih jadi jomblo akut.


Ciah, berasa jadi bang Toyib aja. Yang jarang pulang.


Kira-kira Jiya gimana, yah? Selain masa magangnya yang udah abis sepuluh hari yang lalu. Aku juga jarang banget ketemu dia selama ini.


Selain karena jarak penthouseku yang lumayan jauh dari kantor. Jiya juga disuruh Momi buat tinggal dirumahnya, selama aku jarang pulang dan lembur bareng berkas-berkas kantor.


Nasib-nasib, kenapa gini banget yak? Disaat aku dan Jiya udah tahu isi hati masing-masing, sekaligus udah terang-terangan nunjukin kasih sayang.


Kenapa ada aja cobaannya, yang buat jarak kami serasa bersekat. Sudah begitu, waktu yang seharusnya aku dan Jiya gunakan untuk uwu-uwuan, malah diganti sama lembur bagai romusha.


Dasar kau Fer, budak korporat!


Menghela napas berat sesaat, aku mencoba mengambil jeda sebentar untuk beristirahat. Menatap langit-langit kantor yang selalu saja menaungiku tiap harinya. Tak berubah, tetap warna putih terang itu-itu saja yang kulihat.


Huft, apa aku dekorasi saja, yah? Seperti Jiya yang menghias semua dinding kamar kesayangannya itu dengan foto Kim Taehyung.


Mungkin, aku bisa meniru caranya. Dengan menggunakan foto Istriku yang seksi. Aduduh, jangan! Kalau terlalu seksi seperti malam itu dengan bikini merah, Aaron bisa saja tak berhenti berkedip dan malah betah untuk tinggal lama-lama di ruanganku.


Selain itu, aku pasti dicap sebagai bos cabul oleh semua karyawan. Khususnya, karyawan wanita.


Mulai bosan dengan pikiranku yang mendadak kemana-mana. Kupilih untuk menyentuh gawai yang tergeletak di atas meja. Menggeser ikon berbentuk kunci itu ke atas. Hingga membuatnya menampilkan gambar yang indah sebagai wallpaper.


Tentunya, gambar bidadari surgaku dong. Dan aku memfotonya secara diam-diam, setelah acara kelulusannya waktu itu.


Kebaya pink, idolaku!


Tanpa sadar, aku terbahak saat mengingat momen itu. Kenangan yang membuat kesal sekaligus menambah bumbu-bumbu asmara dalam hidupku. Yosh!


Hingga tak kusadari jika sudah ada berpuluh-puluh notifikasi pesan sekaligus panggilan tak terjawab dari istriku yang unyu.


"Tumben?" ucapku spontan, seraya membuka WhatsApp untuk mengeceknya.

__ADS_1


Dan kalian tahu apa yang kutemukan?


Bukan-bukan, ini bukan foto seram atau video ketawanya Miss K. Melainkan, foto Jiya yang tengah mengenakan lingerie hitam dan tengah berpose menggoda di depan cermin rias.


Sudah begitu, dia membuat caption yang makin membuatku ketar-ketir. Ingin pulang ke rumah sesegera mungkin.


'Gerah, coba aja di sini ada Om Ferdi. Jiya pasti nggak bakal kedinginan.'


Emakkkk!


Ferdi pengin buru-buru pulang buat ketemu bocah rese itu. Terus, dinina boboin sampai pagi, kayak pasangan uwu lainnya. Nggak papa, kalau cuma dielus-elus bagian kepala aja mirip kucing, yang penting bisa tidur di atas paha Jiya. Teriak batinku meratap.


Sayangnya, di sini aku cuma bisa mengusap saliva yang nggak sengaja netes. Gila! Fotomu berdamage banget buatku, Ji.


***


Keesokan harinya, aku tak menyangka bisa menahan diri dari godaan manis bocah setan itu. CK, istriku benar-benar nakal sekarang.


Nggak tanggung-tanggung lagi, mainnya pakai cara yang tak mungkin bisa kutolak hanya dengan menutup mata. Pura-pura tak melihat.


Sialan! Aku basah.


"Brengsek!"


"Fer?" tanya Aaron, seolah mengatakan isi hati semua orang saat melihatku yang tiba-tiba mengumpat saat acara meeting pagi ini.


Itu terlihat dari tatapan mata mereka yang menyorotku dengan penuh tanda tanya. Terlebih lagi, aku yang biasanya tenang dan tak pernah berkata-kata yang tak perlu saat meeting berlangsung. Malah kepergok mengumpat di depan umum.


Heuh, malu banget sumpah.


"Eum, saya rasa meetingnya sudah cukup untuk hari ini. Kalian bisa kembali ke ruangan serta tempat duduk kalian masing-masing." Aku segera berucap, setelah menemukan pikiran sadarku.


Yah, mengatakan jika meetingnya sudah usai bukan pilihan yang buruk.

__ADS_1


Tak lama setelah aku mengatakan itu, orang-orang yang tadinya duduk melihat ke arahku. Mulai beranjak dari posisi mereka satu-persatu.


Meskipun kebanyakan orang memilih untuk meninggalkan ruangan meeting secepat mungkin. Tapi, tidak dengan Aaron.


Bukannya pergi, sohibku itu malah tersenyum lebar seraya berjalan ke arahku yang masih saja memegangi jidat, tampak frustasi.


"Seberat itukah, masalah lo Fer? Sampai buat meeting aja, nggak fokus?" tanyanya beruntun seperti biasa, yang cuma kubalas dengan kibasan tangan."Gue baik."


"Yakin? Kok gue ngerasa, lo lagi frustasi akan sesuatu. Kayak nggak sengaja ketahuan abis buat tekdung anak orang," kata Aaron bercanda, namun cukup membuatku termenung beberapa saat.


"Kalau gue bilang, gue udah nikah lo bakal percaya?" celetukku tiba-tiba.


Kulihat Aaron melongo beberapa saat. Kemudian tertawa sampai mengeluarkan air mata di sudut matanya.


"Kalau lo udah nikah, berarti gue juga udah jadi Bapak beranak tiga," balas Aaron yang masih saja tak menghentikan tawanya.


Malahan suara tawanya yang keras itu makin menjadi-jadi hingga memenuhi penjuru ruangan.


"Gue serius, Cok."


"Gue juga se-heh ... Aapaaaa!!?" pekik Aaron terkejut yang langsung kubungkam mulutnya itu dengan tisu kotor di dekatku.


"Jangan keras-keras, nanti ada yang denger!"


Kulihat kepala hitam Aaron mengangguk cepat. Kemudian memintaku untuk, membantunya membuka bekapan tisu di mulutnya itu.


"Kapan? Huh, kapan lo nikah? Te-terus sama siapa? Kenapa juga lo nggak pernah cerita masalah ini ke gue. Selain itu, lo nggak ngundang gue? Padahal lo tahu, kalau gue pengin jadi pager ayu acara mantenan lo, Cok!" jelas Aaron mirip kereta api. Panjang dan tanpa henti.


Aku yang mendengar ocehannya itu, segera menutup lubang telingaku sendiri. Dan berharap supaya tidak budek besok pagi.


Benar-benar deh, mulut Aaron itu berasa mulut sepuluh orang emak-emak lambe turah di kompleks. Yang pagi-pagi udah beli sayur, sambil ngegibahin anak tetangga sebelah.


"Gue nggak mau jawab. Lo berisik soalnya, mirip kenalpot rakitan," kataku acuh tak acuh seraya beranjak pergi dari posisi dudukku. Kemudian berjalan ke arah pintu keluar, yang mendadak dihentikan dengan teriakan Aaron.

__ADS_1


"Tunggu!" cegah Aaron yang membuatku menolehkan kepala ke arahnya seketika.


"Siapapun cewek itu, gue ikut ngerasa bahagia, karena lo bisa nemuin seseorang yang bisa ngebuat lo berubah untuk menjadi lebih baik, Fer. Satu hal lagi, berkat bantuan lo waktu itu, gue sama Mila juga makin dekat. Gue harap, lo bakal dateng ke acara lamaran gue bareng istri lo yang masih misteri itu."


__ADS_2