Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
OB Baru dan Papi


__ADS_3

Entah mengapa, aku merasa suhu ruanganku begitu panas. Padahal jelas-jelas, AC-nya menyala dengan baik.


Selain itu, Jiya yang kini berada di pangkuanku tampak terengah-engah, setelah aku melepaskan ciuman kami yang sedikit panas tadi.


Tampak, dirinya menghirup oksigen dengan begitu rakus. Sebelum kembali membalas ciumanku yang sempat terhenti tadi.


Seolah-olah, tak ada kata untuk hari esok lagi. Kami balas mengecup satu sama lain, sekaligus bertukar saliva dengan begitu intensnya. Hingga ...


"Pak, Ferdi? Apa bapak ada di dalam?"


Panggil Gisel di depan pintu, yang seketika menghentikan kegiatan kami. Aku sendiri, bahkan merasa seperti pasangan kumpul kebo yang terciduk sedang berduaan dengan  seorang wanita sewaan di dalam kantorku sendiri.


Sedangkan Jiya, kulihat bocah rese itu tak kalah paniknya juga denganku. Buru-buru, Jiya mencari tempat persembunyian tanpa membenarkan pakaiannya yang masih acak-acakan.


Namun, karena ruanganku yang tak memiliki lemari untuk sembunyi. Aku akhirnya menyuruh Jiya untuk bersembunyi di bawah kolong meja tempatku duduk ini.


"Diam di situ dulu, oke!" perintahku padanya.


Jiya sendiri balas mengangguk pelan, sebelum menundukkan kepalanya masuk ke dalam kolong meja.


Tak berselang lama setelahnya, Gisel pun masuk. Awalnya, dia terlihat menyimpan kecurigaan tentangku yang tidak seperti biasanya. Selain itu, Gisel juga menatap tajam ke atas secangkir kopi yang tak mengepul lagi di atas meja.


"Tumben, Bapak belum minum kopinya. Padahal setahu saya, Pak Ferdi itu suka banget sama kopi hitam yang masih panas, loh." Gisel berkata dengan nada menyindir dibelakangnya.


"Oh iya, ngomong-ngomong siapa yang buatin Pak Ferdi kopi? Bukannya itu tugas saya, yah?" sambungnya dengan alis terangkat sebelah.


Aku yang sedari tadi hanya diam. Langsung membalas ucapan Gisel barusan dengan senyuman tipis.


"Kok, saya merasa kamu terlalu overprotektif yah, sebagai sekertaris? Dan yang saya tahu, tugas alami sekretaris bukan membuat kopi loh, Gisel. Apa perlu saya bacain ke kamu poin-poin pentingnya, jadi sekertaris?"


Detik itu juga, kulihat wajah Gisel berubah memucat. Buru-buru sekertarisku itu menundukkan kepalanya, seraya mengucapkan kata 'maaf' berulang kali.


Hanya saja, aku yang lumayan tersulut emosi tak menggubris permohonan maafnya itu. Malahan, aku menyuruh Gisel untuk segera pergi dari dalam ruanganku.

__ADS_1


Jiya yang merasa situasinya sudah membaik, kulihat mulai mendongakkan kepalanya sedikit. Perlahan-lahan, bocah rese itu mulai merangkak keluar dari dalam kolong meja. Tetapi terhenti, tepat di depan kakiku yang kini terbuka lebar.


Dan yang membuatku salah fokus, saat kepala bocah rese itu tepat berada di depan rumah si Joni sekarang. Jujur saja, itu membuatku merasa tegang dan sedikit ambigu.


"Kenapa berhenti? Kalau mau keluar ya, buruan." Aku berujar seraya memalingkan wajah ke arah lain, karena terasa mulai memanas.


Sedangkan bocah itu, perlahan-lahan menyentuh bagian dalam pahaku yang masih terbalut celana bahan, sebagai tumpuan untuk berdiri tanpa rasa bersalah sekalipun.


Untung saja, setelah keluar. Jiya bergegas pergi dari dalam ruanganku. Meskipun setelahnya aku merasa berat dan tak ingin bocah itu tinggal.


***


Tak terasa makan siang pun tiba. Aku yang sedang berjalan sendirian di koridor, tiba-tiba merasakan tepukan dipundak sebelah kiri dari Aaron.


"Brother!" panggilnya, mengingatkanku pada saat masih SMA.


Itu karena, tiap kali jam istirahat tiba. Aku dan Aaron akan pergi bersama ke kantin sekolah, dengan vibe yang begini.


"Diem-diem aja, senyum ngapa sih, Fer! Datar banget dah muka lo, mirip talenan Mak gue."


"Oh iya, Fer. Dengar-dengar nih, ada OB baru, yah?" celetuk Aaron kembali.


Yang kontan membuat kepalaku menoleh ke arahnya.


"Siapa tuh, namanya? Gue lupa, tapi mukanya bisa dibilang cantik sih, dan bodynya, jangan ditanya lagi. Mantep Cok!Ah, kayaknya dia nggak kalah jauh sama Gisel. Bisa nih, gue jadiin mangsa-arhkkkk!"


Tanpa sadar aku menginjak ujung sepatu pantofel Aaron dengan keras. Sampai membuatnya memekik kesakitan.


"Kok lo tiba-tiba nginjek kaki gue sih, Fer?!" katanya sewot.


Aku sendiri memilih untuk diam, karena malas menanggapi. Lagian, siapa suruh dia ngomongin fantasi kotornya ke Jiya, di depan wajahku yang jelas-jelas suami sahnya.


Enak aja, mau ngerebut dan mainin bini orang. Berani Aaron maju satu langkah, auto senggol bacok pokoknya. Walaupun status kita sudah bukan sekadar teman lagi, tapi urusan bini. Termasuk urusan hidup dan mati. Terutama, kalau menyangkut hal-hal begini.

__ADS_1


Pengin deh, kupotong burungnya Aaron biar dia tahu rasa. Dan nggak bisa main coblos atau pedang-pedangan lagi sama tante-tante girang. Kayaknya seru, deh.


"Lo, kenapa sih Fer?!" tanya Aaron karena tadi tak kugubris.


"Gue punya salah apa sama lo, coba ngomong, kasih tahu kesalahan gue ada di mana?" lanjutnya lagi, penuh harap.


Detik itu juga kuhentikan langkahku ini. Membuat, Aaron yang berjalan tepat dibelakangku. Tak sengaja menubruk punggungku yang lebar.


"Astaga, Fer! Serius deh, kayaknya gue benar-benar buat mood lo anjlok, yah?"


Aku hanya mengangkat bahu tak acuh sebagai balasan. Benar-benar tak berselera untuk menanggapi perkataan Aaron.


Lantas memilih untuk berjalan ke arah lain, meninggalkan Aaron sendiri, yang masih termenung di koridor.


Sekembalinya ke ruanganku, aku menemukan dua buah tiket konser yang tergeletak di atas meja. Selain itu, ada sebuah kotak berukuran sedikit panjang, di dekat tiket konser, sekaligus selembar surat berwarna hitam. Yang bertuliskan nama seseorang.


'Halo, Fer. Maaf baru ngabarin lagi. Dan kalau lo udah baca surat ini, berarti pesanan lo waktu itu udah nyampe. Gue harap lo suka dan jangan pernah bosen-bosen buat minta barang-barang beginian lagi ke gue. Pokoknya, gue tunggu orderan berikutnya dengan jumlah yang lebih gede.'


^^^Salam hangat^^^


^^^Kevin~^^^


Aku yang membaca surat itu merasa istimewa. Terlebih lagi, ini dari salah satu teman dekatku dulu.


Hm, kira-kira kapan yah aku akan memberikannya pada Jiya. Ah, membayangkan melihat reaksinya saja, aku jadi tertawa.


Aku yakin, Jiya pasti akan memekik histeris seraya meloncat-loncat kegirangan setelah menerima hadiah ini. Yah, semoga saja bocah rese itu menyukainya.


Tak lama setelah itu, kudengar ponselku bergetar. Kemudian, setelah kuusap layar kuncinya.  Muncullah sebuah notifikasi panggilan tak terjawab dari Papi.


Tunggu, Papi? Tumben sekali, dia meneleponku secara nyepam begini? Padahal biasanya kalau ada apa-apa, Mamah Vivi yang bakal mengabari duluan.


Sebenarnya ada apa, yah?

__ADS_1


Mendadak aku menjadi gelisah sendiri. Apalagi, Papi nggak kayak biasanya begini. Mungkinkah? Terjadi sesuatu pada mertuaku itu?


__ADS_2