Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Tersadar


__ADS_3

Setelah Pak Soleh mengajak Jiya untuk duduk dan makan bersama di meja kami. Suasana yang tadinya biasa mendadak canggung sekali.


Sudah begitu, aku merasakan aura sesak dan negatif di sebelah kiriku. Rasanya benar-benar mencekat ditenggorokan, sampai membuatku kesulitan hanya untuk mengambil napas.


"Dek Jiya, kalau saya nanya-nanya urusan pribadi boleh? Lagian, ini udah kelar acara, loh," celetuk Pak Soleh yang membuat kepalaku dan Jiya menoleh bersama.


Otomatis, hal kecil yang tak sengaja disaksikan oleh Pak Soleh itu langsung menimbulkan sebuah kecurigaan.


"Tunggu, kenapa saya ngerasa kalau kalian berdua punya kesamaan, yah?" ujarnya dengan kedua mata menyipit.


"Saya baru sadar, kalau muka kalian hampir mirip. Sudah begitu, kalian terlihat lebih cocok. Yang satu cantik, dan yang satunya ganteng. Benar-benar deh, pasangan good looking. Sudah begitu karier kalian juga bagus. Perfect! Kalau punya anak pasti lucu."


Entah mengapa, mendengar hal itu membuat Jiya buru-buru beranjak dari tempat duduknya. Kemudian berpamitan untuk pergi lebih dulu.


Aku yang melihat raut wajahnya berubah murung, lantas ikut beranjak juga dari kursiku. Entah mengapa, melihatnya begitu membuatku ingin secepatnya merengkuh tubuhnya yang rapuh.


Pak Soleh yang melihat gerak-gerikku yang aneh, awalnya melayangkan protes. Apalagi, dia merasa kalau aku berniat untuk meninggalkan dirinya sendiri saat makan malam.


Namun, saat melihat raut wajahku yang tampak mengeras. Dia memilih untuk diam dan tak jadi menahan kepergianku.


Setelah tak ada lagi topik yang perlu kami bicarakan. Aku pun bergegas untuk pergi mengikuti Jiya. Berjalan perlahan-lahan, dengan jarak cukup jauh darinya.


Dari sini aku bisa melihat punggung Jiya mulai naik-turun lagi, seperti waktu itu. Meskipun aku tak mendengar suara apapun. Tapi aku yakin sekali, kalau dia sedang menangis sekarang.


Kulihat, Jiya mulai berbelok ke arah kiri. Melewati jalan setapak yang mengarah ke area taman belakang hotel yang cukup sepi. Lalu, langkahnya berhenti di depan sebuah bangku bercat putih. Dia pun duduk di sana, dengan kepala terdongak menatap langit malam, yang hari itu tampak mendung.


Kemudian, sepersekian detik setelah itu. Kulihat dia mulai menangis. Mengusap permukaan wajahnya sendiri dengan punggung tangannya berulang kali.


Haruskah aku mendekat? Ada perasaan bersalah sekaligus sesak saat melihatnya begitu. Namun, jika aku diam saja. Bukankah aku akan mengulang kesalahan yang sama?

__ADS_1


Kupikir, cukup dua tahun saja aku bertindak seperti orang bodoh karena telah mengacuhkan dirinya. Menilai jika keputusan Jiya waktu itu benar, serta dapat membuatnya merasa lebih tenang.


Nyatanya, kebungkamanku waktu itu malah menorehkan luka yang sangat mendalam padanya. Membuat sosoknya semakin jauh dariku hingga terasa susah sekali untuk diraih kembali.


Oh, Jiyaku! Masih pantaskah diriku untuk bersamamu?


Kukira, aku benar-benar menjadi sosok lelaki paling bodoh di dunia, karena baru menyadarinya sekarang. Menyadari, bahwa keegoisanku waktu itu telah membuatmu begitu jauh dariku.


Namun, setelah sadar kini. Aku ingin kau kembali ke sisiku. Mengulang tiap waktu yang sangat berharga, menjadi sebuah momen yang paling indah hanya untuk disebut sebagai kenangan.


Tanpa menunggu waktu lama lagi, kudekati sosoknya yang tengah menangis itu. Kemudian menarik tubuhnya ke dalam dekapanku secara tiba-tiba.


Jiya yang sadar dengan kehadiranku awalnya meronta. Mencoba melepaskan diri dengan sekuat tenaga yang dia bisa.


Namun, aku yang tak ingin melepaskan dirinya. Semakin mengeratkan pelukan kami. Membuat Jiya akhirnya menyerah dan menangis sekencang-kencangnya dengan tangan memukul-mukul dadaku.


"Jiya benci sama Om Ferdi, huhuhu ..."


"Kenapa dari sekian banyaknya orang, harus Om Ferdi yang Jiya temui?"


"Kenapa?!" teriaknya membabi buta di depan wajahku.


Aku sendiri tetap diam saat dia mulai menyumpah serampahi diriku ini. Memukuliku tanpa ampun, hingga tersalurkan semua amarah yang Jiya pendam selama ini padaku.


Sampai akhirnya, dia berhenti sendiri karena lelah. Lalu menenggelamkan kepalanya dalam-dalam kedekapan hangatku ini.


"Jiya memang benci, tapi Jiya juga nggak bisa memungkiri kalau Jiya masih suka sama Om Ferdi. Bukannya Jiya ini bodoh yah, karena masih mencintai orang yang udah menorehkan luka yang nggak bisa dihapus sama waktu? Jiya tahu, sangat tahu kok. Kalau Om Ferdi cuma kasihan sama Jiya, dan menganggap Jiya ini cuma anak kecil yang perlu diurus, supaya jadi lebih baik. Iyakan? Om Ferdi nggak ada rasa apa-apa selama ini sama Jiya, kan?" tanyanya beruntun dengan tangis yang masih pecah.


Mungkin, waktu sudah mengubahnya menjadi sosok wanita yang lebih tegas dan berani. Tapi, dimataku Jiya tetaplah sama. Seorang istri kecil, yang begitu rapuh. Hingga harus kujaga mati-matian untuk kedepannya.

__ADS_1


"Kamu salah, aku nggak pernah mikir begitu. Mungkin, awalnya memang aku cukup terganggu sama kehadiranmu. Tapi, seiring berjalannya waktu, aku sadar. Kalau aku bukan cuma sekadar butuh. Tapi, aku sudah menganggap kamu sebagai rumah, tempatku untuk berpulang. Entah saat duka maupun suka, ataupun saat sulit maupun senang sekalipun," kataku lembut seraya mengusap sayang puncak kepala Jiya sayang.


Aku bahkan lupa, kapan terakhir kali aku melakukan hal ini padanya. Terlalu lama berpisah, membuatku menjadi sosok yang dingin dan tak memedulikan sekitar. Sampai kondisi kesehatanku sendiri.


Mentalku anjlok, dan lagi aku terkena depresi ringan. Serta gangguan tidur. Mungkin, selama dua tahunan ini aku hanya tidur sepuluh sampai lima belas menit saja sehari. Paling lama, sejam lebih sedikit.


Aaron yang tahu kondisiku, mencoba membantu dengan mengajakku ke psikolog. Namun, sampai beberapa hari yang lalu aku belum juga pulih. Hingga tadi, saat aku tak sengaja mencium aroma tubuh Jiya, aku mulai merasakan rasa kantuk yang luar biasa. Sepertinya, kehadiran Jiya memang sepenting itu untukku.


Jiya yang mendengarku terus terang begitu kembali terisak. Lantas menangkup wajahku lembut dengan kedua tangannya itu. Mengusap permukaan pipi ini sayang, lantas meraihnya untuk semakin dekat ke arah wajahnya, membuat pandangan kami bertemu lebih dekat saat itu juga.


"Jangan sakit, Jiya nggak suka kalau Om Ferdi kenapa-napa," ujarnya dengan pandangan mata begitu sendu melihat ke arahku.


Aku bahkan bisa melihat ketulusan dari kelereng cokelatnya itu. Yang membuatku menjadi serakah dan ingin membuatnya hanya bergantung padaku, di saat yang sama.


"Kamu nggak marah? Padahal aku pantas buat dibenci, Ji. Dan kamu berhak soal itu," balasku merasa tak terima dengan dirinya yang memaafkan sikapku ini begitu mudahnya.


Namun, alih-alih marah. Kulihat Jiya malah tersenyum. Menampilkan sebuah, senyuman manis yang sudah lama sekali tak kulihat diwajahnya itu.


"Udah Jiya bilang, sebenci apapun Jiya sama Om Ferdi. Jiya nggak bisa menampik, kalau rasa cinta Jiya itu lebih besar."


Tuhan, bukankah aku begitu beruntung karena menemukan dirinya di dalam hidupku?


Note :


Aku nggak mengharuskan siapapun untuk suka sama cerita ini. Bisa dibilang, kalau suka yah Alhamdulillah kalau nggak, yah nggak apa-apa. Lagi pula ini pertama kalinya aku buat genre rumah tangga. Memberanikan diri dari yang tadinya nulis fantasy anti romance pindah haluan ke genre huru-hara rumtag begini, meskipun ini masih ke novel ringan menurutku. Karena aku pribadi belum, serta nggak terlalu suka rumtag yang rumit. Soalnya aku sendiri masih lajang jadi pas buat uwu-uwuan atau konflik suka mumet sendiri hehehe ...


Pokoknya gitu ajalah, lagian aku nulis buat have fun dan ngisi waktu luang. Tapi kalau cuan, ya nggak papa banget hehehe ...


Tertanda, author tercinta Leoooo~

__ADS_1


__ADS_2