Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Misi Kejar Jiya


__ADS_3

Sesuai dengan tekadku kemarin, untuk membuat Jiya kembali lagi padaku. Mulai hari ini aku akan melakukan sebuah misi, yang kuberi nama 'Kejar Jiya'.


Misi dengan satu prinsip, yakni apapun rintangan dan halangannya aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat hati bocah rese itu luluh. Meskipun, aku harus menjadi pria tanpa urat malu. Tapi, aku tak mempermasalahkan. Sebaliknya, aku malah dibuat semakin bersemangat untuk memulai misinya.


Misi pertama, kuputuskan untuk mengirimkan sebuket bunga mawar dengan sepucuk surat penuh kata-kata cinta yang bisa membuat baper level dewa, via layanan antar-pesan. Dan itu harus, tergeletak tepat di atas meja kerja milik Jiya.


Yah, meskipun ujung-ujungnya aku sering melihat. Kiriman buketku itu berakhir di tong sampah depan perusahaannya yang berdiri tepat di depan perusahaanku.


Namun, aku tak langsung menyerah begitu saja. Jika bunga dirinya tolak, mungkin lain cerita dengan colekat. Toh, kebanyakan wanita suka hal-hal berbau romantis dan cukup misterius begini.


Aku jamin, dia pasti luluh mulai sekarang.


"Maaf Pak, di depan ada paket cokelat dari kurir. Katanya, kiriman khusus untuk, Pak Ferdi," jelas Gisel lewat telepon singkat padaku.


Tentu saja, aku yang mendengar kabar itu langsung mengernyitkan dahi. Merasa heran, dengan penjelasan Gisel barusan. Terlebih lagi, aku tak ingat pernah membeli atau memesan cokelat via online untuk diriku sendiri.

__ADS_1


Tunggu, kalau begini apa mungkin itu paket yang Jiya kebalikan?


Belum selesai dengan pradugaku itu, pintu ruanganku tiba-tiba diketuk dari luar pelan. Yang tak lama setelah itu, memunculkan sosok Aaron yang memasuki ruangan dengan beberapa tumpukan berkas yang menggunung, sampai menutupi wajahnya sendiri.


"Maaf Pak, saya masuk tanpa izin. Tapi, tangan saya udah nggak kuat bawa berkas sebanyak ini dari ruang produksi sendiri. Oh iya, saya juga sekalian mau nganter paket colekat punya bapak yang tadi dititipkan Gisel." Aaron berujar formal layaknya seorang bawahan teladan.


Namun, langsung berubah kembali pada karakter aslinya hanya dalam hitungan detik. Karena sikap formalitasnya barusan cuma basa-basi.


"Paket dari siapa Fer? Romantis amat, pagi-pagi udah di kasih sekotak cokelat sama surat. Jangan bilang, lo punya penggemar rahasia?" tanyanya mirip biang gosip.


Aku yang sudah tahu itu kiriman cokelatku sendiri. Memilih untuk menyodorkannya kepada Aaron. Yang langsung membuat wajahnya dipenuhi binar.


"Iya Sapi, makan aja." Aku membalas cuek, yang malah mendapat pelukan serta kecupan singkat dipipi.


"Makasih Ferdi, lo emang sohib gue paling baik di dunia. Mungkin kalau gue cewek, gue bakal ngejar-ngejar lo, kayak Maya sama Gisel. Hihihi ..."

__ADS_1


Segera kutatap wajah Aaron itu sinis, yang membuatnya langsung salah tingkah sendiri.


"Najis!" teriakku seraya mengusap permukaan pipi, bekas jigong Aaron barusan.


"Lain kali lo nyium pipi gue lagi, bonyok tuh muka!" lanjutku mengancam. Membuat Aaron lari tunggang-langgang seketika.


"Momi, Ferdi galak!" pekiknya histeris sampai keluar ruangan.


Bisa-bisanya, Aaron manggil-manggil nama Momi yang notebene nggak bakal muncul di kantor ini. Sudah begitu, dia mirip anak TK yang masih suka ngerusuh dari pada ketua divisi. Huft, untung teman sendiri.


Lalu bicara soal misi kejar Jiya, kupikir aku bakal pakai cara lain lagi. Berhubung bunga sama colekat sudah dirinya tolak mentah-mentah. Apa perlu, kukirim sesuatu yang berbau K-Pop?


Lagian, dia dulu sangat menyukai hal-hal semacam itu. Bahkan sampai punya kamar kesayangan yang isinya merchandise full member boyband Korea favoritnya.


Tapi, sesuatu yang bagaimana? Aku khawatir, Jiya sudah mengoleksi semuanya. Sampai rasanya begitu sulit untuk menghadiahkannya satu item lagi, sebagai barang koleksi.

__ADS_1


Keesokannya, aku tak segera pergi ke kantor. Malahan, aku pergi ke kantor Jiya yang ada diseberang, kemudian meminta waktu pada resepsionis agar aku bisa bertemu dengan Jiya walaupun beberapa menit.


Untungnya, hari itu dia ada satu jadwal yang kosong. Jadi, setelah disuruh menunggu begitu lama. Akupun dipanggil, serta di suruh masuk ke dalam ruangan Jiya.


__ADS_2