
Sepulangnya menjemput Jiya, aku benar-benar tak punya mood untuk berbicara. Aku bahkan langsung berjalan lesu menaiki anak tangga, dan tak menggubris teriakan Momi di lantai satu yang menyuruhku minum obat dokter dulu.
Sedangkan Jiya, kulihat bocah rese itu terus-menerus tercengir lebar bak orang sedang kasmaran semenjak meninggalkan sekolahan.
Dia juga menyandungkan lagu dalam bahasa Korea yang kelihatannya berarti cinta.
"Darararararari nol bogo isum umagi babe. Norul wihan melody, melody yeah. Nega myujunikka jaldurobwa play it ..."
Asyu, nggak tahukah dia kalau hatiku udah kebakaran jenggot sedari tadi? Bahkan bau gosongnya menyengat banget, sampai buat sesak dada nih.
"Arghhh, Bang Rehan!" pekiknya tiba-tiba sambil menutup pintu kamar.
Aku yang kebetulan menyaksikan tingkah lakunya itu, seketika mengernyitkan alis bingung.
"Siapa Rehan?" monologku, gusar.
Tak terasa malam hari pun tiba. Aku yang baru saja selesai makan malam, tak sengaja melihat pintu kamar Jiya terbuka saat berjalan melewati depan kamarnya.
Mulanya aku hanya berniat untuk menutup pintu kamar Jiya saja. Namun, saat indera pendengaranku mendengar isakan, aku segera mengurungkan niatku tadi.
Dan betapa terkejutnya aku saat mendapati penampakan Jiya yang sudah mirip tarzan di sudut ruangan. Selain itu, aku tak menyangka kamarnya yang biasanya rapi akan berantakan mirip kapal pecah begini.
Terlihat tisu-tisu penuh ingus berserakan ditiap penjuru. Selain itu, bulu-bulu angsa yang Momi beli dari luar negeri untuk mengisi bantal, juga bertebaran dimana-mana.
Fyi, masa iya bocah rese itu mendadak depresi?
Padahal, jelas-jelas tadi siang dia masih ketawa-ketiwi mirip Kunti, kenapa sekarang nangis kejer begitu? Jangan bilang, dia lagi curhat lagi sama biasnya, Kim Taehyung kayak waktu itu, soal kejamnya dunia ini?
Dalam diam, aku masih memantau Jiya yang terlihat belum ada niatan juga untuk berhenti menangis. Bocah setan itu masih saja, terisak-isak mirip seorang gadis yang baru saja diputusin pacarnya sampai tak menyadari kehadiranku di sini.
Sebentar, apa jangan-jangan ini ada hubungannya sama Rehan? Lagi pula tadi sebelum menangis, dia juga sempat meneriaki nama Rehan. Batinku.
"Kenapa lagi, kamu? Galau?" tanyaku akhirnya membuka percakapan.
Tak tega kalau melihat Jiya menangis begitu, lama-lama. Apalagi, nangisin si Rehan yang aku sendiri nggak tahu wujudnya kayak apa. Gara-gara pas jemput tadi, langsung minta puter balik buat pulang ke rumah.
Malas, melihat adegan uwu-uwuan anak-anak zaman sekarang yang kadang nggak tahu tempat. Terlebih lagi, itu biniku sendiri. Hadeh, bisa-bisa kalau kelamaan di sana udah serangan jantung akunya.
__ADS_1
Untung saja, Momi bisa diajak kerjasama. Meskipun selama perjalanan pulang, dia ngetawain aku ngakak banget sampai nggak sengaja pipis dikit di celana.
Gini banget yah, nasib anak kandung yang terbully? Ngenes.
"Ngomong-ngomong siapa itu Rehan?" tanyaku lagi, saat belum juga mendapat jawaban dari Jiya.
Kulihat, bocah rese itu masih sibuk mengeluarkan ingusnya, sambil sesekali mengembuskan napas berat, kecewa.
"Temen."
Alisku kotan terangkat sebelah. Merasa kurang percaya dengan kata yang keluar dari mulut Jiya barusan.
"Moso, seh? Terus kenapa kamu nangis sampe sembab begitu, kayak maling abis dipukulin masa aja." Candaku berusaha mengembalikan moodnya.
Sayangnya, reaksi Jiya tak sesuai dengan ekspektasiku. Bukannya ketawa, dia malah menatap tajam wajahku ini. "Om, bisa nggak sih nyari perumpamaan yang bagus dikit. Masa Jiya disamain sama maling."
"Kan emang kamu maling, maling hatiku eaks!" balasku, sambil membuat pose pistol ke arah wajah Jiya yang makin-makin kesal.
"Nggak lucu!" katanya ngegas.
Kini hidung Jiya terlihat kembang-kempis, menahan emosi.
"Keluar nggak, kalau enggak Jiya gigit nih!" ancamnya lucu, yang membuatku semakin ingin menggodanya.
"Aduh takut, deh. Eh tapi mau dong digigit, kalau yang ngelakuin itu kamu."
Seketika, sebuah benda berbentuk bulat sedikit lonjong melayang ke arahku. Hampir mengenai wajah tampan ini, kalau aku tak segera bergeser.
Brak!
"Huwa!!! Army bomku pecah!" jerit Jiya histeris yang membuatku mematung seketika.
Dengan air mata yang kembali bercucuran. Kulihat bocah rese itu bergegas menghampiri benda yang pecah di sampingku itu. Diambilnya hati-hati, sambil ditata serpihannya satu-persatu dengan sayangnya.
"Hiks, padahal kita udah lama bareng. Tapi gara-gara Om bangkotan itu, kita jadi harus berpisah," kata Jiya meratap.
Aku yang tak tahu apa-apa dan memang tak bersalah, hanya bisa menonton aktingnya itu. Lumayanlah, kapan lagi bisa melihat Jiya ngedrama begini.
__ADS_1
"Om Ferdi!" teriaknya dengan tatapan yang begitu nyalang.
"Pokoknya Jiya nggak mau tahu, Om Ferdi wajib ganti Army bom Jiya sama yang baru," lanjutnya lagi.
"Oke-oke, nanti tak beliin di pasar Senen. Lagian kayak gitu banyak 'kan, yang jual di sana. Nanti tak beliin sepuluh wes."
"Dih, gampang banget ngomongnya. Army bom Jiya itu limited edition tahu, karena ada ttdnya BTS. Jadi, nggak ada yang jual, harus ikut fanmeet dulu," kata Jiya makin mencak-mencak nggak jelas.
Aku yang keburu pusing, hanya melambaikan tangan saja. Kemudian bergegas untuk pergi dari hadapan bocah rese itu yang masih menyumpah serampahi diriku ini dari jauh.
Eum, bicara soal kamar kami yang terpisah itu sebenarnya usul dari Momi. Dengan alasan, supaya Jiya fokus belajar selama ujian kelulusannya. Dan nggak sering berantem pas ketemu aku tentunya.
Cuma, tetap saja. Mau dimana dan kapanpun kita ketemu, pasti bakal ribut kayak tadi. Benar-benar deh, nggak ada mesra-mesranya kayak pasutri biasa.
Kayaknya, ribut itu udah jadi makanan sehari-hariku deh, sama Jiya. Jadi yah, dibawa enjoy aja.
'Halo Fer, kenapa lo tiba-tiba nelpon gue begini?'
Aku tersenyum sesaat, sebelum menjawab kemudian.
'Iya-iya maaf Vin kalau nelpon lo mendadak begini. Btw, gue dengar lo kerja jadi salah satu staff artis gitu yah, di negeri Ginseng?'
Cukup lama, tak ada jawaban dari seberang telepon. Membuatku menunggunya dengan harap-harap cemas, seperti saat hasil ujian kelulusan akan keluar.
'Sorry, tadi gue masih prepare buat ngurus konser. Lo nanya apa tadi?'
'Lo masih kerja jadi salah satu staff artis?'
'Iya nih, udah jalan lima tahunan. Emang kenapa?'
'Bisa bantu gue soal something?'
Tak lama setelah itu, panggilan kami pun berakhir. Ah, kalau dipikir-pikir aku biasanya orang yang cuek dan tak begitu peduli dengan sekitar. Tapi, kenapa yah, semenjak Jiya muncul, kehidupanku berubah drastis begini.
Contoh kecilnya saja, seperti tadi. Meskipun aku kelihatan begitu tak acuh di depan bocah rese itu. Tapi setelah sampai kamar, aku langsung mencari cara untuk membuatnya kembali tersenyum. Terlebih lagi, seminggu lagi kita akan pindah dan tinggal berdua saja di penthouse.
Rasa-rasanya, aku ingin segera menghapus jarak serta beribu sekat di antara kita.
__ADS_1