
Aku merasa hari-hari yang kujalani makin sendu saja semenjak kejadian waktu itu. Andai, aku tak penasaran dan menguntit Jiya. Mungkin, hidupku sekarang akan terasa berbeda. Yah, walaupun harus tak tahu apa-apa. Namun, setidaknya aku masih bisa berbicara santai dengan bocah rese itu tanpa merasa canggung.
"Lecek banget tuh, muka. Lo lagi galauin siapa sih, Fer? Biasanya juga lempeng-lempeng aja tuh, meskipun lo jomblo," celetuk Aaron yang tiba-tiba duduk disamping kursi sebelahku saat makan siang.
Aku hanya tertawa sinis menanggapinya. "Yang nyuruh lo duduk di situ siapa?"
Aaron tersenyum sekilas lantas menjawab dengan santai. "Nggak ada, cuma gue peka aja sama orang yang lagi galau. Btw, gimana kalau lo ikut gue ke bar. Minum-minum sambil ngeliatin cewek nari strip-hmph"
"Bacot! Kalau lo di sini cuma mau bikin gue tambah banyak pikiran mending pergi aja sana. Makan bareng Maya tuh, dipojokkan." Aku berkata seraya menyumpal mulut Aaron dengan potongan tahu.
"Eiuw, nggak deh, selera gue kan kayak Gisel. Kalau Maya, buat mang Ujang aja hehehe ..." balas Aaron sok kegantengan.
Aku lantas bergidik. Bisa-bisanya aku punya teman modelan kayak Aaron yang hobi mainin cewek. Kalau dipikir-pikir, bukannya teman itu mencerminkan diri kita sendiri yah? Lah ini, wallahu alam banget.
Mungkin kalau diibaratkan, aku sama Aaron itu kayak pohon mangga sama benalu wkwkwk ...
Astaghfirullah, nyebut Fer! Ingat, dosa nge-bully teman sendiri.
"Biasa aja kali Fer, gue tahu kalau gue ganteng. Mak gue yang sering bilang bahkan tiap pagi sebelum berangkat kerja," ujar Aaron sambil mengerling genit ke arahku tiba-tiba.
"Idih, najong. Awas kena ayan lo, Ron. Inget sesuatu yang berlebih-lebihan Allah nggak suka," nasehatku udah mirip Mak Dedeh.
"Dih, sejak kapan lo alim begitu, Cok! Berasa gue antagonis aja di sini."
"Kan, lo emang antagonis wkwkwk ..." balasku sambil ketawa ngakak.
Sejenak lupa dengan permasalahan asmara yang kualami. Berarti, bisa dibilang beruntung juga punya teman kayak Aaron. Meskipun dia player, tapi soal berkawan kayaknya nggak perlu dipertanyakan lagi deh. Bisa dibilang, dia setia bahkan lebih baik dari pada kepasangannya sendiri.
Cuma, kalau aku jadi cewek. Ogah juga sih, dekat-dekat sama Aaron. Yang ada, aku dijadikan mangsanya lagi.
"Oh iya Fer, kalau nggak salah hari ini lo ultah yah. Wah, selamat menua, yah. Nggak nyangka gue masih ngeliat lo yang udah kepala tiga hehehe ..." celetuk Aaron, mengganti topik seketika.
__ADS_1
Aku yang diberi ucapan begitu hanya bisa tersenyum manis sambil membalas rangkulan Aaron dipundak.
Tak menyangka kalau sahabat yang sering kubully ini bakal mengucapkannya lebih dulu dari pada orang lain. Bahkan untuk Momi yang notebene melahirkan diriku sendiri.
Fiks, kayaknya dia lupa, deh. Karena saking fokusnya maraton drama Love Like The Galaxy. Jadi, aku yang anak kandung secara nggak langsung berasa di anak tiri 'kan.
Kalau Daddy? Huft, lagi-lagi dia sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Parah banget nggak tuh, karena suka nggak ada di waktu dan momen yang tepat buat ikutan kumpul keluarga.
Terakhir, bocah rese itu. Heuh, aku tak bisa menebaknya. Bagiku Jiya itu layaknya potongan puzzle yang mengandung teka-teki silang penuh misteri. Salah sedikit saja, bukannya bisa menebak. Aku malah akan terperosok dan jatuh ke dalam kekalahan.
Seperti saat ini, kupikir cuma aku saja yang benar-benar sudah jatuh hati.
Sorenya, aku kembali pulang kerja seperti biasa. Meskipun saat ini, merupakan salah satu hari bersejarah dalam hidupku. Tapi, aku tak mendapatkan ucapan maupun hadiah. Kecuali dari Aaron saat makan siang tadi.
Sebenarnya, Aaron berencana mengajak ku untuk pergi ke bar minum-minum. Kemudian, berakhir dengan menghabiskan malam dengan seorang wanita sewaan. Yah, seperti One night love gitulah.
Hanya saja, aku langsung menolak ajakan Aaron itu dengan tegas. Terlebih lagi, dengan statusku yang sudah menjadi seorang suami sekarang. Kupikir, aku tidak bisa seenaknya membuat janji-janji palsu dan melempar kata-kata manis untuk menarik perhatian wanita.
Bukankah tugas seorang imam begitu?
Hanya saja, kupikir istri kecilku itu masih perlu waktu untuk perlahan-lahan mengenal karakterku ini. Ingat, jangan terburu-buru dan jalani saja dengan ikhlas sambil sesekali berdoa.
Jika dia memang yang terbaik pasti akan didekatkan, namun jika sebaliknya. Allah pasti memberi kita pelajaran dari kejadian yang kita alami ini.
Jadi, soal Jiya. Kali ini aku sudah memasrahkan semuanya pada yang Di atas sepenuhnya.
Ditengah-tengah kekhusyukan ku berdoa. Momi tiba-tiba memintaku untuk pergi memeriksa penthouse. Dengan alasan, karena orang-orang yang Momi dan Daddy tugaskan untuk mengatur tempat tinggal baruku itu akan tiba hari ini mengantarkan barang.
Aku yang mendengar perkataannya tadi, segera bersiap-siap. Mengganti baju kokoku dengan setelan kaos hitam dan celana jeans biasa. Setelahnya, aku berpamitan kepada Momi sebelum pergi ke penthouse.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di sana. Terlebih lagi, jika kondisi jalan begitu lengang dan kita mengendarai mobil dengan kecepatan cukup tinggi. Mungkin, hanya perlu waktu 10-15 menit saja untuk sampai.
__ADS_1
Hanya saja, saat aku baru tiba. Aku tak melihat siapapun di sana. Bahkan dilorong menuju unit tempat tinggalku keadaannya masih saja sepi.
Inisiatif, aku pun berniat untuk mengecek kondisi di dalam penthouse ku itu. Berjalan ke arah pintu, kemudian mulai menekan-nekan tombol tempat password di sebelah kiri.
Cklek!
Tak lama kemudian, pintu unitku tinggal itu terbuka. Aku yang melihatnya bergegas untuk masuk.
Hanya saja, yang membuatku tiba-tiba mematung. Tatkala, netraku ini menangkap satu sosok yang paling kuinginkan itu muncul.
"Selamat ulang tahun Om Ferdi."
Aku tak menduga, bocah rese itu akan muncul mendadak di tempat ini. Selain itu, kini dia tengah tersenyum lebar menatap penuh arti padaku, sembari memegang sebuah lilin panjang tanpa kue di tangan.
Dengan langkah perlahan, sosok itu melangkah lebih dekat ke arahku yang masih saja menatap dirinya membisu. Seperti, kehilangan semua kata-kata yang sebenarnya ingin kulontarkan keluar didepannya.
"Maaf, kalau Jiya ngucapinnya telat. Dan maaf juga, kalau akhir-akhir ini Jiya ngejaga jarak dari Om Ferdi. Asal Om Ferdi tahu, sebenarnya, Jiya dan Bang Rehan itu nggak ada apa-apa. Kami cuma teman kok, dan Jiya pergi bareng dia kemarin tuh, buat beli kadonya Om Ferdi lagi. Gara-gara barang sebelumnya nggak sengaja dirusak sama bang Rehan. Ta-tapi, sekarang Jiya juga nggak punya apa-apa lagi. Bahkan kado buat Om Ferdi, Jiya nggak nemuin sesuatu yang istimewa, dan alhasil cuma bawa lilin begini," jelas Jiya panjang lebar yang membuatku tak berhenti untuk tersenyum lebar.
Segera kuraih tubuh bocah rese itu kedalam dekapanku. Memeluknya erat, seolah-olah jika kulepas, Jiya akan segera menghilang begitu saja dari pandangan.
Cukup lama, kami dalam posisi itu. Hingga, kuputuskan untuk menguraikannya lebih dulu. Menyatukan keningku pada dahinya, membuat wajah kami hanya tersisa beberapa centi saja saat ini. Pelan, aku kemudian berucap.
"No prize, but your body?"
Detik itu juga, kulihat pupil mata Jiya membesar karena terkejut. Sayangnya, mau bagaimana pun dia beraksi, aku tetap tak berniat untuk melepaskannya hari ini.
Note :
Puzzle \= potongan-potongan sesuatu benda yang biasanya disusun kembali hingga memberikan sebuah bentuk atau jawaban.
One night love \= Cinta satu malam.
__ADS_1