
Aku tak habis pikir, bisa-bisanya bocah rese itu nyaman untuk tidur di atas kasur yang isinya barang-barang semua. Mungkin, hanya ada celah sedikit untuk berbaring. Dan itupun harus miring, ke kiri ataupun sebelah kanan.
Aku saja, yang baru tiduran beberapa menit sudah merasa engap. Belum lagi, dengan pelukan erat Jiya yang membuat suhu tubuhku makin memanas. Rasa-rasanya, aku ingin secepatnya fajar tiba.
Saat ku coba untuk merubah posisi menjadi miring ke kanan. Guling bergambar wajah Kim Taehyung itu, seketika terpampang jelas di depan mukaku. Dengan senyuman lebar dan jari membentuk hati.
"Saranghae ..." ucapku, saat menatap tulisan kecil di atas kepala gambar guling itu.
Haish, alih-alih salah tingkah. Aku malah merasa meng-gay beberapa detik.
Huft, gini amat nasib punya bini KPopers garis keras. Selain harus siap untuk di duakan, aku juga harus terbiasa dengan hobi-hobinya yang aneh itu. Termasuk hobi bicara sendiri Jiya, kalau lagi galau berat. Ngomong sama guling, sambil dielus-elus.
Mau heran tapi, dia bini tercintaku. Jadi, cukup senyumin aja ala-ala iklan pasta gigi.
"Om Ferdi, Jiya kebelet pipis," oceh Jiya tiba-tiba.
Kukira si bocah rese itu sudah tidur nyenyak sampai mimpi ke Jakarta. Ternyata, dari tadi Jiya, pura-pura merem.
"Tinggal ke WC aja, lagian deket juga itu. Cuma lima langkah dari tempat tidurmu," balasku.
Jiya tampak mengerucutkan bibirnya lucu. Kemudian menatap sinis ke arah wajahku. "Tinggal temenin aja kenapa sih, kalau Jiya lihat hantu gimana?"
"Paling hantunya yang ngibrit duluan, 'kan kamu galak. Selain itu lebih nyeremin ketimbang Valak."
Detik itu juga mata Jiya melotot tajam ke arahku. "Om Ferdi, iih! Nyebelin banget sih, jadi manusia."
"Tapi gini-gini, kamu suka 'kan?" balasku makin menggodanya.
Membuat Jiya misuh-misuh seperti biasa.
Esoknya, aku sudah mulai kembali ke rutinitasku untuk pergi ke kantor. Namun, Daddy yang khawatir pada keadaanku, memberi kompensasi dengan memotong waktu kerjaku sampai tengah hari saja.
__ADS_1
Sejujurnya banyak terjadi pro-kontra dalam keputusan itu. Terlebih lagi, semenjak aku dirawat, perusahaan mulai kehilangan tempatnya di muka publik.
Selain, jumlah produksi produk yang makin menurun tiap harinya. Dalam iklan produk, juga mendapat sebuah penurunan jam tayang. Kalau dipikir-pikir, hal ini cukup menguras otakku untuk menjadi orang dalam bayangan sebenarnya. Yang mengatur dari balik layar untuk beberapa hari ke depan.
Hanya saja, karena penurunannya makin signifikan sekaligus menghawatirkan. Aku jadi mengambil keputusan untuk cepat-cepat kembali ke kantor dan bekerja seperti biasa.
Lalu, untuk Jiya sendiri. Bocah rese itu juga kembali melakukan rutinitasnya sebagai OB baru. Meskipun, sering kali kulihat dia misuh-misuh sendiri karena cemburu saat melihat kedekatanku dan Gisel.
Sepertinya hanya itu saja sih, yang paling mengganggu pikiranku untuk saat ini. Kalau bukan urusan kantor, ya pasti Jiya.
Hanya saja, masalahku kembali bertambah satu saat aku tak sengaja bertemu dengan dirinya.
"Hai, Fer. Apa kabar? Nggak nyangka kamu makin ganteng dan rupawan aja."
Si mantan tunangan, yang ketahuan selingkuh sama Om ku sendiri. Sehari setelah, acara lamaran kami rampung.
Sebut, saja dia Amira. Cewek tinggi semampai yang kupikir bisa jadi ibu yang baik untuk anak-anakku kelak. Satu-satunya cewek yang mau jadi sahabatku saat kuliah dulu, sekaligus cewek pertama yang membuatku tahu apa itu artinya patah hati.
Karakternya tampak baik, hingga aku tidak tahu jika Amira hanya mengincar harta keluargaku saja. Ah, aku ingat betul. Bagaimana dia menempel pada Om Lukman, lalu menghabiskan malam panas bersama di kamarku.
"Fer, kok kamu diam aja? Padahal dulu-"
"Dulu? Maaf, Anda ini siapa, yah?" potongku cepat, dengan ekspresi wajah cuek sekali.
Sungguh aku benar-benar, benci wanita bermuka dua dihadapanku ini. Dia sama saja, bermulut manis dan pandai merayu seperti si parasit itu.
Kulihat raut wajahnya yang semula ceria itu, mendadak berubah sendu. Ekspresi wajah yang dulu sempat membuatku iba dan mau-mau saja menerima hubungan pertunangan kami.
"Aku nggak nyangka, kamu bakal ngelupain aku secepat itu? Padahal, selama dua tahun ini aku nggak bisa memaafkan diriku sendiri dan masih mencoba buat memperbaiki hubungan kita." Amira berujar, seraya terisak pelan.
Aku yang menyaksikan aktingnya itu diam-diam terkekeh di dalam hati.
__ADS_1
Hhh, dia pikir aku yang sekarang masih saja mudah ditipu? Sorry bung, aku tak mau lagi mengulangi kesalahanku yang dulu. Terlebih lagi, untuk menjalin hubungan dengan wanita seperti Amira ini. Jangankan menjadi sahabat, berteman saja mungkin akan segera kutolak mentah-mentah.
"Bisa minggir sebentar? Saya buru-buru meeting sekarang," balasku tanpa mengindahkan kata-kata Amira tadi.
Yah, masa lalu biarlah menjadi masa lalu. Apalagi jika itu sebuah kenangan pahit dan tidak ingin kita ungkit. Bukankah lebih baik, untuk dihapus seiring berjalannya waktu?
Termasuk, untuk cerita hidupku dan Amira. Semuanya sudah selesai semenjak hari itu. Meskipun masih menyesakkan jika aku mengingatnya. Namun, aku sadar. Tanpa kejadian itu, mungkin saja aku tidak akan bertemu dengan Jiya.
Sosok bocah cerewet nan lugu, yang mampu mengubah kehidupan dan jati diriku. Menjadi Ferdi yang seperti sekarang ini.
"Jiya!" panggilku saat tak sengaja berpapasan dijalan dengannya.
Jiya yang masih membawa nampan kosong ditangan, segera menghampiri diriku setakh kupanggil tadi.
"Iya, Om. Ada apa?" tanyanya dengan raut wajah penasaran.
Alih-alih menjawabnya, aku malah menyeret pergelangan tangan Jiya. Supaya gadis itu berjalan mengekor dibelakang tubuhku ke suatu tempat.
Tepatnya, ke pintu tangga darurat di lantai bawah yang jarang sekali dipakai orang-orang. Aku membawa Jiya masuk ke dalam sana, kemudian mengurung tubuhnya sesaat setelah pintu gudang tertutup rapat.
"Om, ada apa? Kenapa tiba-tiba ngajak Jiya masuk sini?" tanyanya lagi, masih penasaran.
Aku hanya diam dan malah mendekatkan wajahku ke arah telinganya untuk berbisik, "Cium aku."
Mata Jiya yang semula dipenuhi rasa penasaran tinggi, mendadak berubah kaget. Kulihat juga, pupil matanya yang berwarna cokelat terang itu perlahan-lahan melebar saat tanganku mengusap lembut bibir bawahnya.
Mendekatkan wajahku kembali ke arah wajah bocah rese itu, hingga membuat napas hangat kami saling bertemu.
"O-Om Ferdi, ta-tapi Jiya takut. Gimana kalau di sini ada penampakan? Bi-bisa nggak kita pindah tempat dulu?" katanya polos yang membuatku terkekeh mendadak.
"Huh, kamu mah, nggak asik. Udah dapat feel-nya tadi malah ngelawak. Ya udah deh, kita pindah. Emang, kamu kemana?"
__ADS_1
Kulihat kepala Jiya langsung menoleh ke arahku yang sudah membuat jarak dengannya. Kemudian berseru.
"Kedai Boba. Jiya udah lama tuh, nggak minum Boba. Nanti pas makan siang, mampir ke sana yah, Om!"