
Beberapa hari kemudian, setelah hubunganku dan Jiya kembali dekat. Momi menyarankan agar kami segera melakukan resepsi pernikahan.
Dia juga memberi saran dan mengajukan diri untuk mengurus semua hal yang diperlukan. Jadi, aku dengan Jiya hanya tinggal ungkang-ungkang kaki saja.
Mamah Vivi juga punya respon yang sama dengan Momi. Malahan mertuaku itu sudah menyewakan tempat resepsi beserta tempat untuk bulan madu kedua, supaya cepat menimang cucu.
Yang kontan saja, membuatku dan Jiya hanya bisa saling pandang satu sama lain, saat kami diajak diskusi diruang tamu begini.
"Jeng Vivi, gimana kalau resepsi mereka indoor ala-ala drama Korea. Selain sweet pasti uwu banget, pas ngeliat Jiya jalan di atas karpet merah sambil megang bunga ke arah Ferdi yang udah nunggu di atas altar. Astaghfirullah!" pekik Momi tiba-tiba sembari menutup mulutnya sendiri.
"Bisa-bisanya nggak ngeh kalau altar itu bukan buat kita. Maaf yah, Momi khilaf saking senengnya." Momi menjelaskan seraya tercengir lebar, saat melihat kami semua.
"Gimana kalau resepsi yang simpel, Jeng? Kayak ngadain acara party kecil-kecilan di dekat tepi pantai, kota Bali?" saran Mamah Vivi yang langsung disambut teriakan setuju oleh Jiya.
__ADS_1
"Ih, kalau Bali Jiya mah langsung setuju. Ya, kan Om?" tanyanya, dengan kepala sedikit ditelengkan, tepat di depan wajahku.
Dan jujur saja, itu benar-benar membuatku kehilangan konsentrasi, untuk beberapa menit. Jiya sendiri yang hafal betul dengan perubahan ekspresi wajahku ini. Tampak tersenyum puas. Kemudian mengecup bibir ini secara tiba-tiba dihadapan Momi dan Mamah Vivi yang jelas-jelas masih ada di sini.
"Ji!" teriakku gugup.
Kulihat Jiya semakin tersenyum lebar menatap reaksi kagetku yang mungkin tampak begitu lucu dimatanya.
"Tahan dulu dong, mesra-mesraannya. Inget, di sini masih ada kami yang lagi sibuk bahas acara buat kalian," celetuk Momi, tanpa mengalihkan perhatiannya dari desain undangan pernikahanku dan Jiya.
Ya selain menggelar acara resepsi sederhana. Momi dan Mamah Vivi juga membuat undangan pernikahan juga. Bahkan mereka berdua mendesain undangan resepsi kami secara mandiri.
Seniat itu!
__ADS_1
"Bener, bentar lagi Mamah juga mau pulang ke rumah. Jadi tahan dulu yah," sahut Mamah Vivi, seraya melirik ke arah wajahku dan Jiya secara bergantian.
Kalau begini, aku jadi merasa tak enak. Apalagi, cuma aku seorang yang berjenis kelamin laki-laki diantara mereka bertiga. Jujur, keadaan ini cukup membuatku merasa tegang dan gelisah. Meskipun aku tahu, kalau mereka semua orang-orang terdekatku.
"Hahaha ... Maklum, Jeng. Gara-gara baru baikan jadi penginnya nempel mulu kayak perangko sama amplop. Hayo ngaku, bener nggak nih?" tebakan Momi, membuat semburat rona merah tiba-tiba muncul dipermukaan wajahku.
Melihat reaksiku yang malu-malu itu, membuat tawa membahana Momi, keluar kembali begitu saja.
"Hm, iya deh, iya. Yang Momi omongin barusan emang bener," balasku sengaja mengalah karena tak mau membuat masalah lagi dengan Momi.
"Kamu dengar itu, Ji?" Kulihat, Momi melirik sekilas ke arahku, yang kemudian beralih mellihat ke arah Jiya, yang duduk tak jauh dariku.
"Walaupun kayak gini dan nggak pekaan. Ferdi itu aslinya pemalu banget kalau disuruh buat mengungkapkan perasaannya. Jadi, jangan bosen-bosen yah buat jagain anak Momi ini, kedepannya nanti."
__ADS_1