
"Om, kolam renangnya aman 'kan?" tanya Jiya, seraya membalikkan tubuhnya, menjadi menghadap ke arahku. Membuat jarak diantara kami tersisa hanya beberapa centi saja.
Alih-alih menjawab, aku malah memalingkan muka ke arah lain. Mendadak tak bisa berpikir dan tak tahu harus menjawab pertanyaan Jiya tadi bagaimana.
Otakku blank dan lagi apa iya aku harus jujur? Aku takut, bocah rese itu malah akan menertawakan diriku ini.
Ditengah-tengah kebingunganku harus menjawab apa. Muka Jiya yang tadinya masih sekitar lima centian dariku. Kini berangsur-angsur mendekat, hingga aku bisa mencium aroma permen karet dari napasnya itu.
Saking dekatnya jarak wajah kami, aku juga bisa melihat tahi lalat kecil dibawah mata Jiya seperti waktu itu.
"Om Ferdi, kok tiba-tiba keringetan begini? Om nggak, sak-hmpphh ..."
Belum selesai mengatakannya, aku sudah lebih dulu membungkam mulut Jiya dengan bibirku sendiri. Melahapnya begitu rakus, hingga kurasakan pukulan cukup keras dari Jiya dibahu.
"Heuh ... Pelan-pelan, Jiya nggak bisa napas," jelasnya, sesaat setelah aku melepaskan ciuman kami.
Meski terdengar kesal, namun sorot mata Jiya berkata lain. Seolah-olah, menyuruhku untuk melakukan lebih.
Untuk beberapa detik, kami hanya terdiam dengan pandangan yang tak pernah lepas dari mata masing-masing. Mungkin, hanya ada suara dari napas kami yang masih ngos-ngosan tadi, memecah keheningan malam itu.
Hingga didetik berikutnya, tangan Jiya terulur perlahan ke arah wajahku. Jari-jemari tangannya yang lentik itu menyentuh permukaan pipiku, yang perlahan-lahan mulai menjalar ke arah telinga lalu turun ke arah tengkuk bagian belakang.
Mengusapnya lembut, bagian sensitif dibelakang kepalaku itu pelan. Membuatku mulai kehilangan akal sehat, dan hanya bisa memejamkan mata, menikmati tiap sentuhannya itu.
"Ji ..." geramku rendah.
Aku masih saja menahan diri untuk menyaksikan tindakan apa, yang akan bocah rese itu lakukan terhadapku.
Membiarkan tangan kecil Jiya menjamah tiap lekuk tubuhku, hingga kini berakhir diantara dada dan perut kotak-kotakku.
Akibat sentuhan Jiya barusan, aku bahkan tak merasakan suhu dingin air kolam. Sebaliknya, suhu tubuhku mendadak memanas. Dan aku ingin segera memeluk tubuh ringkih Jiya itu erat.
__ADS_1
"Jiya baru tahu, kalau bagian dada cowok itu sensitif. Buktinya, baru aja disentuh dikit, Om Ferdi udah ngeblush begitu. Mirip kayak kepiting rebus hehe ..." ucap Jiya seraya menyentuh permukaan kulit dadaku naik-turun.
"Jangan buat mainan, itu hahh astaga, Ji!" ucapku tertahan, saat mendapati Jiya mengecup permukaan dadaku tiba-tiba. Seraya meninggalkan bekas merah di sana.
"Kamu benar-benar nakal! Aku pasti bakal balas kamu malam ini!"
Secepatnya kucekal pergelangan tangan Jiya, sembari menyudutkan tubuh bocah rese itu ke arah sudut kolam renang. Memeluk pinggangnya yang ramping untuk mempersempit jarak diantara kami.
Jiya tampak tak menolak, meskipun mulanya dia juga terkejut. Namun, bocah rese itu tetap menurut, saat diriku mulai menghujaminya dengan berbagai ciuman. Yang tanpa sadar membuatnya merintih memanggil-manggil namaku.
"O-Om Ferdi, uhhh!"
Aku yang mendengar rintihannya itu malah semakin bersemangat. Melakukannya lebih dan lebih lagi, hingga napas kami tersengal-sengal bersama.
"Mau pindah?" tanyaku, saat melihat wajah Jiya yang mulai pucat.
Aku khawatir, terlalu lama berendam di dalam kolam bisa membuat bocah rese itu demam besok pagi. Apalagi, malam semakin larut. Selain itu, angin dingin yang berembus juga sangat menusuk ke dalam tulang.
Mengangguk pelan, Jiya lantas menyampirkan kedua tangannya melingkari leherku. Sebelum kemudian, bocah rese itu berbisik di depan wajah ini, seraya menyentuhkan pangkal hidungnya ke hidungku.
Yang tak bisa kutolak, tentunya. Tak berselang lama setelah itu, kuangkat tubuh Jiya dan menggendongnya di depan, dengan tangan dan kaki yang begitu sigap langsung melingkari tubuhku, supaya tak terjatuh.
Mungkin, hampir ditiap langkah. Kami akan saling bertukar ciuman panas sampai tak terasa tiba di dalam kamar.
Perlahan kududukan tubuhku ditepi ranjang, dengan Jiya yang kini duduk dipangkuan. Masih bertukar ciuman, hingga sesekali menelan saliva masing-masing.
"Ji," panggilku mencoba menghentikan kegiatan kami.
Kulihat wajah Jiya sudah merah sekali, sekaligus dipenuhi kabut nafsu yang begitu kentara dari sorot matanya yang bisa memabukanku itu.
"Y-yah?" balasnya parau.
__ADS_1
Kutatap mata milik Jiya dalam-dalam, sebelum mengutarakan apa yang ingin kusampaikan ini.
"Aku tanya sebelum kita ke hal yang lebih serius. Apa kamu udah siap? Kalau belum, kamu bisa beranjak dari atas pahaku. Terus kita bisa lanjut tidur aja kayak bisa, seolah-olah nggak pernah terjadi apa-apa. Tapi, kalau kamu setuju. Silakan cium aku. Gimana?" tawarku.
Menurutku, melakukan hubungan suami-istri itu adalah kesepakatan dari kedua belah pihak. Dan jika salah satu dari pasangan kita masih merasa belum siap, aku bisa menerimanya dan memberikan dia waktu sampai masanya tiba.
Jadi, aku berani memberikan Jiya pertanyaan seperti itu. Agar tidak ada paksaan saat kami melakukannya. Selain itu, aku sendiri menjadi tahu kalau bocah rese itu mulai membuka hatinya untukku, jika Jiya menyetujuinya.
Hening beberapa saat. Sampai aku menyimpulkan sendiri, jika Jiya akan segera beranjak dari atasku.
Akan tetapi, hal yang tak kuduga tiba-tiba saja terjadi. Yakni, saat kurasakan sapuan lembut bibir milik Jiya yang menyentuh ujung bibirku dengan cepat.
"Jiya mau," balasnya malu-malu, yang membuat senyumku langsung terkembang seketika.
"Oke, kalau gitu aku nggak bakal berhenti setelah ini." Aku berucap, seraya mendorong tubuh Jiya jatuh ke atas ranjang.
Menindihnya perlahan, sembari mengecupi tubuhnya sesekali. Sampai membuat tangan Jiya menjambak-jambak ujung rambutku frustasi. Terlebih lagi, saat kulepaskan satu-satunya kain yang menutupi area tubuhnya itu, serta meninggalkan jejak merah di sana. Jiya langsung merintih-rintih tak berdaya dibawahku.
Tak lama setelah itu, kami mulai melakukannya. Saling menindih tubuh masing-masing dengan suara rintihan yang saling bersahutan memecah kesunyian malam. Membuat suhu AC kamar yang dingin, menjadi begitu panas sampai pagi tiba.
Entahlah, aku lupa pukul berapa kami mengakhiri malam yang panas itu. Yang jelas, saat aku membuka mata pagi ini, serta melihat ke sekeliling kamar. Sudah ada Jiya yang masih terbalut selimut dengan tubuh yang masih polos, tengah memeluk tubuhku erat. Dan menjadikan dada bidangku sebagai bantalan.
Aku yang melihat Jiya masih memejamkan mata, hanya bisa tersenyum tipis. Seraya memainkan ujung rambut miliknya yang jatuh menutupi wajah. Menyelipkan kebelakang telinga miliknya, membuat Jiya perlahan-lahan membuka mata karena terusik oleh tindakanku barusan.
"Morning, My Angel! " sapaku lembut dengan suara khas orang bangun tidur.
Jiya yang mendengarnya, membalas sapaanku tadi dengan senyuman yang terkembang, sekaligus dengan kecupan singkat dibibir ini.
"Morning to, My Guardian."
Note :
__ADS_1
Khusus @Aisyah nih. Wajib komen nggak mau tau! Di bab berapa aku sempat notice, kalau pas pecah telor harus panas. Dan karena ideku mentok jadi bisanya begini aja.
Sejujurnya, aku cuma Author genre Fantasi yang tiba-tiba mencoba genre Rumtag begini. Jadi, kalau masih kacau-balau ya, sorry-sorry, minhae jebal hehehe ...