Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Ekstra Part Tumbal?


__ADS_3

Aku pikir, cerita dijodohin sama om-om itu cuma ada di sinetron-sinetron ikan terbang, yang sering ditonton Mamah pas malam. Atau kisah-kisah dari novel tentang pernikahan paksa yang biasanya Nadin sama Sekar bilang. Tapi aku nggak nyangka, kalau aku sendiri bakal ngalamin hal ini.


Gila! Bisa-bisanya, aku yang unyu-unyu mirip marmut harus nikah sama om-om bangkotan. Udah gitu, dia TUAAA!!! Arrghhhh! Siapapun tolong culik Jiya dari sini sekarang.


"Ji, hey! Kok malah ngelamun, sebentar lagi kita sudah mau sampai, loh." Mamah tiba-tiba menepuk pelan pundakku dari sisi kanan, yang langsung kubalas dengan dengusan sebal.


"Huh, bilang aja Mamah sama Papi mau numbalin Jiya, iya' kan? Ngaku!"


Kulihat mata cantik Mamah melotot sempurna beberapa saat, hingga didetik berikutnya Papi yang semula diam disamping pak supir, kini mulai menyahut.


"Yang mau numbalin kamu siapa? Orang Papi ini lurus, nggak ada tuh ikut-ikutan pesugihan."


"Kalau bukan numbalin terus apalagi? Jual anak, git-"

__ADS_1


Secepat kilat bibirku langsung dibekap tangan Mamah. "Anak gadis itu nggak boleh ngomong kasar, nggak sopan. Apalagi sampai balas omongan orang tua. Dan lagi berhenti seudzon, toh Mamah sama Papi melakukan hal ini buat kebaikan kamu nanti."


Aku yang mendengar itu tak kuasa lagi menahan air mata. Bukan karena terharu saat mendengar niat baik Mamah dan Papi. Tapi karena, aku tak bisa membayangkan bagaimana masa depanku nanti setelah pernikahan ini.


Mungkin kurang dari sepuluh menit kemudian, mobil Papi akhirnya sampai di kediaman yang bakal jadi tempat tinggal masa depanku kelak, yakni kediaman besar keluarga Reksa.


Kata Papi, dulu saat Mbah Reksa dan Buyutku Mbah Maja masih muda. Mereka membuat kesepakatan, yaitu menjodohkan cucu mereka satu sama lain. Apesnya, aku yang harus jadi korban. Coba saja ada mesin waktu, pasti aku akan kembali ke masa lalu untuk menggagalkan kesepakatan guyon mereka itu.


Lamumanku sesaat barusan seketika tersadar saat mendengar suara sambutan orang-orang. Tak hanya itu, kediaman yang kukira penuh dengan orang jahat ini, ternyata cukup ramah. Buktinya, seseorang seumuran Mamah tiba-tiba datang ke arahku dengan senyuman lebar sebelum mengajak cipika-cipiki.


"Mantu?"


Senyumku yang tadinya secerah fajar pagi, seketika surut layaknya air laut.

__ADS_1


"Iya, ayuk ke dalam. Sebentar lagi anak Tante sampai kok."


Dan saat itu juga, aku merasakan kakiku tak lagi menapak tanah, saking terkejutnya.


Mungkin hanya aku satu-satunya orang yang saat ini merasa paling menderita di antara puluhan orang yang begitu bahagia di tempat ini. Merasa takut, cemas, marah, benci dan juga sangat tersakiti. Jujur, ingin sekali kumaki pria tua yang mau-maunya menikahi gadis dibawah umur sepertiku ini.


Hingga, sebuah siluet seseorang yang bertubuh tegap dan tinggi berjalan tergesa melewati riuhnya orang-orang, mulai menjadi pusat perhatian semuanya. Termasuk atensiku.


"Kakek!" teriaknya cemas, yang hanya bisa kulihat dari belakang punggungnya.


Entah mengapa, untuk sesaat aku merasa tertarik hanya untuk melihat sosok itu. Namun, saat dirinya menolehkan kepala dan membuat netra kami tak sengaja bersitatap. Aku benar-benar ingin menghabisinya detik itu juga.


'Dasar bujangan lapuk, berwajah lugu. Awas saja kalau kau berani menyentuhku,' batinku geram.

__ADS_1


Note : Sejujurnya cerita ini sudah lama tamat, tapi karena saya merasa endingnya sangat menggantung serta ada beberapa bab yang terasa minim penjelasan. Akhirnya saya putuskan untuk menambahkan ektra bab. Tapi, jika dari pembaca kurang berkenan. Ekstra Part akan saya buat sampai sini saja. Terima Kasih.


~Leo


__ADS_2