Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Jiya!!!


__ADS_3

Wajib dengerin lagu 'How I can love the heartbreak, Youre the one, I love. Punya Akmu.


Rupanya beredar rumor tentangku dan Clara yang kemarin berduaan di ruang rapat. Entah siapa yang menyebarkan rumor itu. Yang jelas, informasi itu sudah menjalar serta menjadi buah bibir dimana-mana.


Anehnya, Clara tampak tenang dan tak mempermasalahkan hal itu. Berbeda denganku yang mulai sedikit menjaga jarak darinya. Dengan niatan, agar rumor ini tak semakin memanas.


Nyatanya, usahaku tak membuahkan hasil. Bukannya bisa meredam rumor itu, malahan membuatnya semakin memanas.


Jiya yang melihatku tampak murung, segera berjalan mendekat ke arah meja kerjaku di penthouse. Kemudian, mendudukkan dirinya di atas pangkuan seraya merangkul leherku erat.


"Ada masalah apa? Ayok cerita sini. Jiya siap kok, buat dengerin," tawar Jiya dengan senyuman manis dibibirnya.


Aku yang melihat sorot matanya yang tulus itu, segera menjatuhkan kepalaku ke atas pundak sebelah kanannya. Membenamkan wajah ini dalam-dalam, hingga dapat mencium aroma tubuhnya yang mampu menenangkanku kapanpun itu.


"Nggak papa, mungkin kecapean." Aku membalas singkat seraya memeluk pinggang istri kecilku itu erat.


Dan masih berdiam diposisi yang sama. Membenamkan mukaku, sampai Jiya tertawa kecil karena merasa geli, saat terpaan nafas hangatku mampir di atas permukaan kulitnya yang sensitif.


"Kalau kayak gini, Om Ferdi lucu. Kelihatan kayak anak kecil yang lagi ngadu ke mamahnya kalau abis dijauhi temen. Beda banget sama Om Ferdi yang biasanya Jiya tahu cuek dan Sugar Daddy able."


Kurasakan jari-jemari lentik milik Jiya membelai lembut puncak kepalaku. Yang makin membuatku merasa nyaman dan mulai sedikit mengantuk.


"Kamu bisa aja, deh. Btw, hari ini mau pergi keluar? Udah lama, kan kita nggak nyari angin bareng?" ajakku, setengah mendongakkan kepala.


Kulihat Jiya tersenyum, lalu mengangguk antusias. "Mau! Kalau gitu Jiya siap-siap dulu."


Cuma saat tubuhnya mau beranjak dari atas pangkuan. Aku menahannya, yang kontan membuat Jiya langsung menolehkan kepalanya dengan salah satu alis mengernyit. Seolah berkata, kenapa?


Aku yang bisa membaca ekspresi wajahnya itu, lantas menjawab. "Cium dulu."


Cup!


Kecupan singkat itu mendarat dipermukaan bibirku dengan cepat. Yang sedikit membuatku merasa kecewa, apalagi setelah kulihat sosok Jiya yang langsung pergi begitu saja.


Dasar, si bocah rese itu. Emang paling jago buat memporak-porandakan perasaanku ini.


Tak terasa, lima belas menit telah berlalu. Aku dan Jiya pun sudah dalam perjalanan naik sepeda berdua. Berniat untuk mengitari jalanan komplek, sembari menunggu sunset.


Awalnya aku ingin bocah rese itu untuk membonceng dibelakang. Namun, dengan kekeuh Jiya menolak keras ajakanku itu. Malahan memilih untuk menaiki sepeda lipatnya sendiri.


Malas berdebat, akupun mengiyakannya. Dengan syarat dia harus lebih berhati-hati saat menaiki sepedanya. Apalagi, saat ini ada satu nyawa lagi yang dia bawa. Jadi aku harus over protektif sedikit padanya.


Kami bersepeda bersama melewati gang-gang kompleks yang cukup ramai oleh anak-anak. Melewati pematang sawah yang kanan-kirinya dihiasi dengan pemandangan padi menguning, sudah siap panen.

__ADS_1


Merasakan embusan angin sore yang begitu hangat dan juga menyejukkan hati. Serta, mengagumi hamparan bunga kenikir yang tumbuh subur dan bermekaran warna-warni di sepanjang jalan.


Jujur, itu sangatlah cantik untuk diabadikan dengan ingatan. Terlebih saat kulihat potret diri Jiya yang begitu indah di depan sana. Tanpa sadar, aku jadi senyam-senyum sendiri dibelakangnya.


Ah, terima kasih Tuhan. Karena kau pertemukan kami, kemudian menjadikan dia sebagai istriku. Meskipun awalnya begitu sulit, namun aku bersyukur jika Jiya adalah orangnya. Entah bagaimana, jika itu orang lain. Aku benar-benar tak tahu apa akan jadi sosok Ferdi yang sekarang atau menjadi Ferdi yang lebih dingin serta arogan.


Yang pasti, Jiyaning Admaja adalah jawaban dari doa-doaku selama ini.


Terlalu sibuk dengan isi kepalaku. Aku sampai tak sadar jika sudah tertinggal jauh dari Jiya.


Meskipun sedang mengandung, bocah rese itu benar-benar mengayuh sepedanya dengan penuh antusias dan rasa semangat.


Melambaikan tangannya, kulihat Jiya menyuruhku untuk berhenti sebentar di bawah lampu penerang jalan berwarna biru terang. Lalu, dari kejauhan dia memberiku isyarat untuk berpose di atas sepeda seraya menghadap ke arahnya.


Cekrek!


"Masya Allah, ganteng banget suami aku, nggak kalah kayak oppa-oppa Korea!" pekik Jiya histeris, seraya meloncat-loncat kegirangan saat melihat hasil fotoku dari ponselnya.


"Satu kali lagi Om, kali ini harus lebih oke yah dari sebelumnya. Kalau bisa candid, biar cakep kayak Rejun NCT yang pacarable," perintahnya lagi.


Aku cuma manggut-manggut aja. Kemudian berpose biasa dengan pandangan menatap luruh ke arah hamparan padi yang menguning, dengan salah satu tangan memegang stang sepeda.


"Gila! Visual Om Ferdi emang nggak ada obat. Mungkin kalau masih muda, bisa jadi trainee SM." Jiya memekik lagi, yang membuatku keheranan.


Dulu Yeonjun TXT, walupun ujung-ujungnya dikatain mirip Suneo. Tapi, disanggah gara-gara mirip Taehyung versi lokal. Lah sekarang, Renjun NCT? Kayaknya hidup Jiya dihiasi sama asupan cowok-cowok tampan.


"Kamu udah selesai ngefotonya belum?" tanyaku, sesaat setelah menghampiri dirinya.


"Udah. Malahan, banyak yang minta kirim lebih banyak fotonya."


Tanpa sadar aku melotot. "Kamu post disosmed?"


"Nggak, cuma di grup WA aja. Tapi, Jiya nggak nyangka banyak banget yang langsung join gara-gara foto Om Ferdi yang Jiya post di Twitter kemarin."


Aku mengembuskan napas berat seketika. Bilangnya nggak dipost di sosmed. Lah, WA sama Twitter itu apa? Game online?


Sabar Fer, sabar. Meskipun Jiya itu ngangenin dia juga ngeselin.


"Kamu nggak cemburu, kalau mereka pakai fotoku jadi PP WA? Atau, diem-diem ngeklaim aku jadi pacarnya?" tanyaku kemudian yang cuma dibalas kekehan ringan oleh bocah rese itu.


"Nggak terlalu. Lagian, mana berani mereka begitu. Jiya kan pawangnya. Jadi, kalau ada yang berani-berani deketin Om Ferdi. Jiya bakal senggol-bacok sama tuh orang. Jangankan anak-anak seumuran Jiya. Tante lemper juga, Jiya nggak takut kok buat ngelawannya," jelasnya panjang lebar, dengan raut wajah cemberut.


Aku yang sempat marah, mulai melunak lagi. Merangkul pundak bocah rese itu, seraya mendekatkan wajahnya ke arahku. lantas mengecup permukaan dahinya dengan lembut.

__ADS_1


"Nggak perlu khawatir. Aku bisa kok jaga mata sama jaga hati. Soalnya, aku udah merasa cukup sekaligus nyaman sama satu orang."


Kulihat Jiya mendongakkan sedikit wajahnya ke arahku. Serta menatap pupil mataku ini dengan rasa keingintahuan. "Siapa?"


Tersenyum tipis, aku lantas menangkup pipi Jiya mendadak dengan kedua tangan. Membuat wajah bocah rese itu seketika terkembang, dengan bagian bibir yang monyong ke depan, lucu.


"Masa sih kamu nggak tahu, dia siapa? Padahal udah jelas, kalau orangnya lagi berdiri di depanku sekarang."


Detik itu juga kulihat senyum Jiya terkembang ceria. "I love you, Om Ferdi!" pekiknya girang yang kubalas dengan kata yang sama beberapa detik yang sama


***


Saat ini, aku kembali disibukkan dengan urusan pengiklanan produk minuman perusahaan. Apalagi dengan jawwal tayang hampir dekat membuatku terasa bak dikejar-kejar deadline.


Mungkin, hampir semua orang di kantorku sibuk. Aaron juga begitu. Aku bisa melihatnya dari apa yang mereka lakukan akhir-akhir ini. Tak terkecuali dengan Clara juga.


Meskipun dia yang paling disorot dan hanya menjadi bintang iklan saja. Tapi, kehadirannya banyak sekali membantu yang lain juga. Sampai membuat hasil pengiklanan produk minuman kami jadi trending.


Jujur, aku merasa senang. Hanya saja, aku tak mengira kalau harus membayar dengan harga yang begitu malah untuk ini.


Tepatnya, setelah kami mengadakan pesta kecil-kecilan atas keberhasilan pengiklanan produk minuman kami. Aaron memintaku untuk mengantar Clara kembali ke rumahnya, yang tak sengaja minum bir tadi.


Sebenarnya aku sudah melarang minuman itu di dalam pesta ini. Tapi beberapa orang tampaknya diam-diam membawa bir tanpa sepengetahuanku. Kemudian, tak sengaja memasukannya ke dalam gelas minuman Clara. Yang berakhir, membuat wanita itu tak sadarkan diri.


Aku yang merasa tak enak, dan dibujuki oleh Aaron akhirnya mengiyakan. Apalagi, aku tahu jika ada Mila di sana. Jadi Aaron tak mungkin bisa mengantarkan Clara kembali ke apartemennya.


Dengan sedikit terpaksa, akupun mengantarkan Clara sampai ke apartemennya. Yang entah kebetulan atau baru kusadari, rupanya dia tinggal di unit yang tak jauh dari tempatku tinggal, saat aku mencoba menanyai diri Clara yang masih setengah sadar, sebelum masuk ke parkiran mobil.


Hanya saja, saat kepalaku mendekat ingin membantu melepas sabuk yang melilit tubuh Clara. Wanita itu tiba-tiba menarik tubuhku paksa hingga membuat bagian kiri pipiku tercium bibirnya. Yang tak sengaja Jiya saksikan dari jauh saat hendak membuang kantong kresek berisi sampah.


"Om Ferdi!" teriaknya dari jauh dengan suara yang membuatku langsung mematung detik itu juga.


Saking kagetnya, aku bahkan tak segera berlari menghampiri bocah itu yang kulihat dari kejauhan, sudah menumpahkan air matanya.


Tunggu! Bukan-bukan seperti ini!


"Jiya!"


Segera kudorong tubuh Clara agar menjauh dariku. Kemudian, aku bergegas untuk mengejar Jiya yang berlari, entah kemana.


"Berhenti! Jangan kejar Jiya lagi! Jiya benci sama Om Ferdi! Bisa-bisanya Om Ferdi dengan wanita itu ... Brengsek! Sampah! Pokoknya Jiya, argh!!! Huhuhu ..."


Tangisnya pecah dan menyayat hatiku. Namun, aku tak bisa melangkah untuk mendekat ke arahnya karena Jiya terus-menerus menolakku.

__ADS_1


Hingga, hal naas itu terjadi. Tepat setelah aku memberanikan diri untuk melangkah maju. Jiya malah berlari ke tengah jalan dan tertabrak sebuah truk di depan mataku.


"Jiya!!!"


__ADS_2