Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Agresif


__ADS_3

Malu, resah, dan ingin menghilang dari permukaan bumi, seketika menyatu begitu saja. Membuatku ingin menutupi wajahku ini, saat semua pasang mata kini menjadikan diriku sebagai pusat perhatian.


Pokoknya, malu banget astaga.


Sedangkan Jiya, saat dirinya kulirik sebentar. Si bocah rese itu malah cengar-cengir tanpa dosa di atas mimbar setelah menggiring semua penonton kepadaku.


Hadeh, benar-benar deh. Kelakuannya itu tetap saja selalu menempatkan diriku ke dalam sebuah masalah baru. Nggak tahu apa dia, kalau aku punya kecemasan tinggi kalau kelamaan ditatap orang-orang begini?


Untungnya, di samping kananku ada Momi yang langsung mengelus pundakku untuk menenangkan rasa panikku. Membuatku balas tersenyum ketir, ke arah semua orang di tempat itu.


Setelah pulang dari acara kelulusan. Aku dan Jiya pulang ke penthouse. Yah, mulai hari ini juga, kami berdua benar-benar tinggal di rumah kami sendiri.


Aku yang masih cukup kesal dengan tingkah Jiya disekolah, bergegas menaiki anak tangga. Berniat menuju kamar di lantai dua.


Hanya saja, semuanya harus kuurungkan saat kudengar suara Jiya memekik keras dari lantai bawah.


Buru-buru, aku yang sudah sampai di anak tangga terakhir. Kembali lagi menuruni anak tangganya hanya untuk memastikan kondisi Jiya.


Dan benar saja, belum genap sehari tinggal bocah itu sudah membuat ulah. Aku yang melihat Jiya masih terduduk diposisinya jatuh, hanya bisa geleng-geleng ditempat.


Mau sebal dan marah tapi ini istriku sendiri. Lalu, aku mau ngeluarin unek-unek ke siapa?


"Kamu buat ulah apa lagi, sih Ji?" tanyaku saking lelahnya.


Aku bahkan tak ada tenaga untuk berjalan menuju Jiya, yang kini menatap diriku penuh iba. Dengan kedua tangan terulur ke atas, minta digendong.


"Punggung Jiya sakit Om, minta gendong depan yah, yah?!" pintanya mirip anak kecil yang ingin dibelikan mainan.


Karena merasa lelah dan malas berdebat. Aku akhirnya menganggukkan kepala, sekaligus menuruti permintaannya yang kekanakan itu.

__ADS_1


Segara kuangkat tubuhnya, namun kulihat bocah itu menggelengkan kepalanya cepat. Seolah-olah tak menyukai posisi gendonganku ini.


"Jangan dibelakang, Jiya lagi nggak mood ngelihat rambut Om Ferdi. Bisa nggak digendong depan aja, tapi jangan ala bridal style?" terangnya yang kontan membuat alisku menaut, bingung.


"Terus mau kamu posisi yang kayak gimana? Setahuku cuma ada dua. Kalau nggak dibelakang punggung, yah di depan ala bridal style." Aku membalas dengan intonasi yang ditahan-tahan untuk tidak ngegas.


Bisa tambah runyam nanti, kalau aku ikut kepancing emosi. Bukannya kelar, bisa saja aku sama si bocah setan itu adu bacot sampai pagi.


"Ada tiga tahu Om, satunya tuh di depan tapi rada duduk gitu."


"Duduk gimana?"


Akhirnya, aku ngegas juga. Karena tak kuat lagi menahannya.


"Kata Nadin sama Sekar, posisi ini cuma bisa dicoba kalau udah sah dan punya suami. Jiya lupa namanya, tapi seingat Jiya tuh, kaki ceweknya ngelingkarin pinggang si cowok. Nah tangannya tuh, meluk erat leher dari depan. Gitu!" jelas Jiya panjang lebar yang membuatku berpikir keras tanpa sadar.


Kalau tak salah, dari penjelasan Jiya. Aku menyimpulkan ini posisi yang kami sudah lakukan saat berbagi es krim kemarin di kamar. Bedanya, saat itu aku dan Jiya duduk di atas kasur. Tapi ini? Aku nggak yakin sih, masih aman kalau cuma ngegendong sampai lantai atas.


Ekhem! Jernihkan pikiranmu Fer.


"Nggak, pinggangku sakit. Kalau nggak mau gendong belakang, nggak usah aja sekalian," tolakku terang-terangan membuat Jiya mendecih kemudian.


"Ih, Om Ferdi mah pelit. Kaki Jiya beneran sakit tahu. Gara-gara nggak sengaja kesandung high heels sendiri."


"Makanya kalau naruh barang tuh, jangan sembarangan. Udahlah, aku capek mau istirahat."


Sesaat setelah itu, aku langsung pergi meninggalkan Jiya yang kudengar masih misuh-misuh ditempatnya berdiri.


Berhubung, kamar tamu kemarin dijadikan gudang sementara. Aku dan Jiya harus berbagi kamar satu-satunya di lantai atas yang tersisa. Sebenarnya masih ada ruangan lain, tapi baru kamar tamu dan kamar atas saja yang diisi bed cover.

__ADS_1


Setelah beberapa menit rebahan dan memejamkan mata. Kurasakan sisi ranjangku mulai bergetar. Begitu juga suara deritan pelan yang menandakan jika si bocah rese itu sudah mengisi ruang kosong di sebelahku.


Hanya saja, aku terlalu enggan untuk membuka mata. Jadilah, aku berpura-pura tidur, supaya rasa kantuk sesungguhnya mulai datang menerpaku.


Satu menit, dua menit, lima belas menit. Rasa kantuk tak kunjung tiba juga. Aku malah harus mendengarkan ocehan Jiya yang terdengar mengumpati diriku diam-diam.


Cih, suka main belakang dia ternyata. Beraninya pas aku tidur, giliran pas sudah melek, ngacir kayak dikejar-kejar setan. Dasar Jiya, untung aku sayang.


Cup!


Tu-tunggu, aku tidak mengharapkan ini. Bahkan jika ini mimpi dan dimimpi juga aku berpura-pura tertidur begini. Aku harap, aku segera membuka mataku untuk balas menatap kelereng cokelatnya yang begitu menghanyutkan. Serta sentuhan dari bibirnya yang manis serta membuatku candu.


Hanya saja, aku masih setia berpura-pura tidur. Meskipun sejak tadi, aku sadar Jiya sudah diserbu Jiya dengan beribu kecupan manis disegala sisi.


Sial, gini banget nasib harus menahan nafsu. Bahkan untuk, dia yang notebene istriku sendiri. Aigoo, Fer! Malang kali nasibmu hiks.


"Om Ferdi, " panggil Jiya serak yang membuatku menahan napas seketika.


Perlahan, kurasakan jari-jemari tangannya yang lentik menyentuh lembut permukaan kaos tipisku. Mula-mula dari atas dagu, kemudian turun ke bawah dan berhenti di dekat perut.


Sret! Astaga, aku hanya bisa mengumpat di dalam hati. Saat merasakan sentuhan tangannya yang menyibak kaosku ke atas, kemudian bermain-main di atas perut kotak-kotakku itu.


"Malam ini, Jiya boleh yah. Main sendiri," bisik bocah rese itu, seraya mengigit pelan ujung telingaku.


Aku yang masih mencoba menahan godaan manis ini, tetap menutup mata rapat-rapat. Membiarkan si bocah setan itu yang makin lama bermain nakal dengan tangannya sendiri. Sampai melenguh di dekat telinga.


Sialan! Aku tak mengira, Nadin dan Sekar merusak kepolosan Jiya. Dia bahkan bermain dengan tangannya sendiri. Argh!!


Dear, Aaron. Harus apakah aku? Sungguh, tubuhku tidak kuat lagi menerima godaan yang Jiya berikan. Namun, hatiku yang lurus dan dipenuhi logika masih memegang teguh prinsipku sampai saat ini.

__ADS_1


Aku tidak mau merusaknya, bahkan jika si bocah itu memohon sampai merintih-rintih dibawah kakiku memintanya. Aku akan tegas menolak dan berkata, "Tunggu sampai kau siap jadi Ibu, barulah kita akan melakukan hal itu."


Jadi, sepertinya malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang untukku sendiri.


__ADS_2