
Aku tak menyangka, kalau Aaron sama Mila akhirnya bisa bersama. Padahal orang-orang bilang kalau jodoh itu cerminan diri sendiri. Tapi, untuk kasusnya Aaron sama Mila, kupikir nggak juga, deh.
Malah, sikap keduanya kebalikan satu sama lain. Ibaratnya tuh gini, kalau Aaron api, Mila itu airnya. Atau yang lebih simpel, kalau Aaron susu, Mila kopinya. Eaks ...
Jadi, aku mengambil kesimpulan begini. Kalau jodoh itu bukan cerminan diri sendiri, melainkan seseorang yang melengkapi kekurangan kita serta menerima diri kita ini apa adanya, bukan karena ada apanya.
Yah, kalau nggak ada yang setuju. Aku mah, bodo amat. Toh, hidup ini yang jalanin aku sendiri. Mau jungkir balik pun, tetap aja bakal diomongin orang-orang. Terutama yang nggak suka sama kita. Pokoknya, hidup itu lebih banyak serba salahnya dimata orang lain, tinggal kitanya aja yang masih bersyukur atas nikmat-Nya. Atau malah terpuruk dan makin putus asa mikirin omongan orang.
Ngomong-ngomong soal mereka, aku jadi teringat sama Jiya juga. Kan, aku sama bocah rese itu juga berbanding terbalik. Kenapa baru sadar, yah?
Untungnya sampai detik ini kita baik-baik saja. Meskipun masih sering ribut sama adu bacot, yah walaupun nggak separah dulu sih.
Tapi, sehari tanpa bocah itu aku ngerasa ada sesuatu yang kurang. Ibarat sayur asem nih, nggak bakal endol kalau lupa masukin asemnya.
Ah, Momi! Ferdi rindu berat nih, sama mantumu yang imut-imut itu.
Itu karena aku lembur lagi hari ini sampai dini hari. Benar-benar deh, semingguan ini aku mirip robot pekerja.
Iseng sebentar, sambil istirahat, aku mencoba menghubungi Jiya lewat panggilan video. Berharap, jika dia terbangun di tengah malah begini. Atau, abis maraton drakor kesukaannya seperti tempo hari yang lalu.
Satu menit ...
Dua menit ...
Panggilanku belum juga mendapat jawaban. Malahan, terdapat notifikasi sedang 'memanggil' tertera jelas di layar.
"Tumben?" monologku gusar.
Soalnya, Jiya itu fast respon. Terutama, jika aku yang meneleponnya begini. Seharusnya dia mengangkatnya.
Huft, apa benar si bocah rese itu ketiduran?
Kalau iya, ya sudah deh. Aku lebih baik kembali bekerja, meskipun dengan hati yang cukup merasa kecewa.
__ADS_1
Tak juga mendapat jawaban, aku pun mulai melanjutkan pekerjaanku yang sempat berhenti tadi. Sibuk mengutak-atik keyboard seraya menatap layar laptop di depanku ini. Hingga tak terasa pagi pun tiba.
Aku yang mendengar azan subuh berkumandang, tersenyum tipis seraya merenggangkan otot-ototku yang kaku karena duduk semalaman suntuk. Setelah itu, aku berniat untuk mencari masjid terdekat supaya bisa ikut berjamaah. Sebelum pulang ke rumah untuk libur.
Saking lamanya lembur, aku sampai tak sadar kalau hari ini sudah Minggu saja. Waktu yang sudah kutunggu-tunggu dari hari Senin yang lalu.
Akhirnya, aku bisa ngerasain weekend!
Selesai solat berjamaah, aku berniat untuk pulang ke rumah dan bertemu Jiya serta Momi tercinta.
Namun, saat aku bersiap-siap untuk mengemudikan mobil. Aku malah mendapat sebuah panggilan dari nomor asing.
Mulanya, aku mengacuhkan panggilan itu. Namun, setelah mendengar dering teleponku yang berbunyi lebih dari tiga kali, aku buru-buru menggeser ikon bergambar ponsel hijau itu, untuk mengangkat teleponnya.
'Halo?' tanyaku langsung tanpa basa-basi.
Saking buru-burunya, aku cuma mengucapkan salam di dalam hati. Sejujurnya, itu bukan tindakan yang sopan. Hanya saja, aku benar-benar lupa.
'Maaf mengganggu, apa benar ini dengan Bapak Ferdi?'
Aku yang mendengar itu, langsung terdiam beberapa detik. Yang di detik berikutnya, langsung bereaksi dengan cepat.
'Yah benar, ini dengan saya sendiri. Kalau boleh tahu, Anda itu siapa, yah? Dan ada keperluan apa dengan saya? Kok bisa pakai ponsel istri saya?" jelasku panjang lebar.
Tak berselang lama, penelepon dari seberang itu mulai menjelaskan padaku dengan begitu detailnya. Tentang apa yang telah terjadi, serta alasan dia menghubungiku mendadak begini.
Penelepon itu bilang, jika pagi ini telah terjadi kecelakaan hebat yang menyebabkan salah seorang penyebrang jalan, terserempet mobil kemudian tewas semenit setelah mobil ambulan datang.
Aku yang mendengar penjelasannya itu masih berusaha mendengarkannya dengan baik serta saksama. Namun, saat dia sampai dipenjelasan utama ceritanya. Aku tak bisa untuk tidak merasa terkejut saat itu juga.
Itu karena, dia bilang, jika korban kecelakaan itu adalah Jiya. Istriku tercinta yang sudah semingguan ini belum juga kulihat sosoknya.
Saking merasa syoknya? Aku bahkan hampir menginjak pedal gas dengan kecepatan tinggi saat mendengar informasi itu.
__ADS_1
Pikiranku benar-benar kacau, sekaligus merasa was-was tiap detiknya. Mulutku juga tak berhenti merapal doa, serta berharap jika bocah rese itu baik-baik saja.
Hingga tanpa kusadari, mobilku sudah sampai di depan rumah sakit yang diinformasikan oleh si penelepon tadi. Yang ternyata, resepsionis dari rumah sakit ini.
Dengan tergesa-gesa, kupacu kakiku untuk berlari membelah koridor rumah sakit yang masih sepi itu. Mungkin, hanya ada petugas bersih-bersih yang sedang mengepel lantai, dan beberapa pasien yang tengah berlalu lalang.
Meskipun, aku sempat diteriaki oleh satpam karena berlari-larian. Namun, aku tetap melakukannya sampai kakiku ini berhenti di depan ruang UGD.
Dengan perasaan campur aduk, serta keringat dingin yang mengucur deras membasahi pelipis. Aku mulai melangkah masuk ke dalam ruangan UGD, yang pagi itu sudah dipenuhi dengan korban kecelakaan lalulintas.
Rupanya, kecelakaan beruntun. Tapi, si petugas tadi hanya bilang kalau keserempet mobil, kemudian tewas? Tunggu, apa mungkin bukan hanya satu mobil saja?
Ya, ampun Jiya! Kuharap kau baik-baik saja. Sungguh, aku tidak tahu lagi jika sampai menemukanmu yang telah terbujur kaku di atas brankar. Aku benar-benar tak siap untuk menduda.
Tepat, saat kakiku sampai di tirai ruangan terakhir. Aku masih dibuat gemetaran saat berusaha mengangkat tirai itu. Terlebih lagi, saat kulihat sepasang kaki yang mencuat keluar dengan tanda di salah satu jempolnya, digantungi dengan tanda yang mengidentifikasikan jika dia seorang mayat.
Perasaanku makin tak tertahan. Air mataku tumpah tanpa sadar, yang membuatku langsung jatuh terduduk dengan tangis sesenggukan yang menyayat hati.
Kenapa?
Kenapa dari sekian banyaknya orang dibumi ini, harus kamu dulu yang pergi?
Kenapa?
Beberapa orang yang melihatku menangis begitu ikut merasa iba. Sampai kurasakan sebuah tepukan pelan di atas pundakku.
"Om Ferdi, kenapa nangis? Jiya baru tahu, kalau Om Ferdi itu serapuh ini," ujar Jiya dengan seorang bocah laki-laki digendongannya.
"Ka-kamu!" kataku terbata.
Seolah tahu dengan isi pikiranku, Jiya hanya tersenyum tipis kemudian menjawab. "Bukan Jiya yang kecelakaan, tapi Jiya nolongin bocah ini yang mau keserempet bareng ibunya."
Aku yang mendengar penjelasannya itu hanya bisa melongo.
__ADS_1