Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Barang Sogokan


__ADS_3

Kayaknya waktu liburanku ke Jeju langsung amburadul, deh. Selain itu, di Busan juga aku kurang menikmati waktuku buat berduaan sama Jiya.


Selain karena capek, tiga harian nonton konser secara full tanpa henti membuat kami layaknya orang beda dimensi, setelah sampai di hotel tempat kami menginap.


Bocah rese itu yang makin energik tiap kali pulang dari konser, sedangkan aku yang kondisi fisiknya berbanding terbalik; lemah, letih, lesu, dan loyo juga.


Fiks deh, aku ini Om-Om jompo.


"Om Ferdi, besok mau nonton ke bioskop nggak?"


Aku yang ditanya Jiya begitu, langsung menggelengkan kepala cepat. Kemudian berjalan terburu-buru ke arah ranjang kami, berusaha menghindari Jiya dan segala hal tentang perkpopannya.


"Om ih,  Jiya kan mau nonton anak-anak SKZ. Mumpung mereka ada shooting dekat bioskop di daerah sini," rutuknya, yang langsung kutolak mentah-mentah."Nggak!"


"Yuah, Om Ferdi mah, nggak asik!"


Telingaku yang mendengar ucapan Jiya barusan, langsung ku tutup dengan telapak tangan. Pura-pura nggak dengar aja.


Sedangkan Jiya yang kesal dengan sikapku. Memilih untuk pergi ke arah balkon dengan kaki yang dihentak-hentakan.


Sebenarnya, kita ke Korea itu ngapain sih? Huft, iya sih. Kalau diusut-usut ini salahku juga yang langsung mengiyakan si bocah rese itu buat nonton konser sepuasnya. Tapi, di sisi lain, aku dan Jiya ke sini juga buat bulan madu.


Cuma, kenapa ujung-ujungnya, jadi musuhan begini? Bukannya uwu-uwuan kayak pasutri lain, yang ada aku dan Jiya malah senggol-bacok. Hadeh.


Mengusap permukaan wajahku kasar, seraya menatap langit-langit kamar hotel. Pikiranku lantas berkelana kemana-mana.


Yang tentunya, dipenuhi dengan Jiya seorang.


Hm, mungkin ini cuma kesalahan pahaman. Atau, aku dan Jiya yang belum bisa memahami sikap egois kami masing-masing? Kalau dipikir-pikir, mungkin saja begitu.


Dan untukku yang usianya lebih tua daripada bocah itu. Seharusnya, lebih bisa mengontrol emosi serta bersabar dengan sepenuh hati. Malahan, kalau bisa aku harus mengayominya dengan baik.


Tidak seperti sekarang ini, yang malah ikutan kesal serta ingin menang sendiri.

__ADS_1


Kurasa, aku perlu melakukan sesuatu supaya amarah si bocah rese itu segera mereda. Dan kami bisa kembali akur lagi.


Eum, mumpung bocah rese itu tak ada di sini. Aku bisa mencari rekomendasi, sekaligus cara-cara simpel untuk meluluhkan hati pasangan ketika sedang marah, melalui google.


Detik itu juga, segera kucari ikon google dilayar ponselku. Kemudian, menuliskan hal yang ingin kucari lewat kolom pencarian.


Tak berselang lama, mulai muncul beberapa rekomendasi. Seperti tempat untuk kencan romantis, dan juga kata-kata manis yang harus kita ucapkan supaya bisa meluluhkan hati pasangan. Sebenarnya, ada banyak cara.


Namun, perhatianku tertuju pada satu kalimat.


"Hm, apa aku coba yang ini saja, yah? Keliatannya nggak buruk juga." Aku bermonolog sendiri.


Mulai mencari sesuatu yang kuperlukan lewat YouTube. Lalu, tak lama setelah itu, kuputuskan untuk menghampiri si Jiya yang kelihatannya masih saja murung didekat ayunan bulat yang terbuat dari anyaman, dan memang sudah tersedia.


"Ji," panggilku.


Kulihat, bocah itu tak menggubris panggilanku barusan. Malahan, Jiya asyik melihat pemandangan kota Busan dari atas balkon yang mulai terhiasi lampu penerangan jalan yang mulai menyala, karena hari mulai menggelap.


Secepatnya, kudekati bocah rese itu. Kemudian membalikkan tubuhnya yang semula menghadap ke arah pembatas balkon. Menjadi menghadap ke arahku.


Sudah pasti, dia akan memilih untuk menurut, kalau disogok dengan makanan begini.


Cerdas, kamu Fer! teriakku dalam batin.


Tak berselang lama kemudian, aku dan Jiya memilih untuk masuk ke dalam kamar. Kemudian mendudukkan diri di atas ranjang.


Menonton televisi yang memang tersedia di sana, untuk memangkas kebosanan dalam menunggu pesanan kami untuk tiba.


Saking lamanya, aku bahkan yang senderan di antara kepala ranjang menguap berkali-kali. Menunggu pesanan itu datang, dengan mulut sesekali berdecak, tak sabar.


"Om, Jiya bosen. Udah sampai mana sih, kurirnya?" ungkapnya, seraya menolehkan sedikit wajahnya ke arahku.


Aku yang ditanya begitu, hanya mengangkat bahu cuek. Seolah berkata, nggak tahu juga tuh.

__ADS_1


Tak terasa hari semakin larut, membuat Jiya yang sudah kelaparan, memilih untuk membuat mie cup sebagai pengganjal perut. Habis, dia kekeuh nggak mau makan nasi sebelum pesanan ayam goreng sama minuman kesukaannya itu datang.


Tring!


Kudengar suara bel pintu kamar kami ditekan. Yang membuatku buru-buru untuk membuka pintu, serta mengambil pesanannya.


Benar saja, saat kucek dari lubang kecil pintu hotel. Terlihat seorang pria yang kisaran umurnya masih remaja, tengah berdiri di depan pintu kamarku, seraya memegangi satu kotak ayam goreng, serta dua gelas, Boba. Ditangan sebelah kiri.


Ah, kalau dilihat-lihat dari penampilannya itu. Sepertinya dia seorang siswa yang bekerja paruh waktu. Soalnya, di Korea sendiri hal-hal begini termasuk lumrah.


Saat kubuka pintu, kami tak banyak bicara. Pria itu juga segera menyerahkan pesananku. Kemudian pergi setelah menerima uang pembayaran.


Akan tetapi, saat aku hendak menutup pintu kembali. Tiba-tiba aku mendengar suara panggilan seorang wanita yang tak begitu asing ditelinga.


"Ferdi, nggak nyangka ternyata kamu nginep juga di sini?" sapa seorang wanita, yang sudah pasti jika itu Amira.


Aku tak tahu. Mengapa dirinya bisa tiba-tiba muncul di tempat ini. Sekaligus, menjadi tetangga kamar hotel tempatku menginap dengan Jiya.


Jujur saja, aku tak yakin kalau ini hanya sebuah kebetulan belaka?


"Lagi liburan, Fer? Sama siapa? Perasaan aku lihat Momi sama Daddy masih ada tuh, di Indonesia." Amira memberi pertanyaan beruntun. Yang hanya kuanggap angin lalu.


"Bukan urusan kamu," balasku. Secepat kilat menutup pintu.


Karena buru-buru itulah, membuat suaranya sedikit berdentum ke segala penjuru ruangan.


"Kenapa, Om? Tumben banget nutup pintu pake emosi segala, Om Ferdi lagi nggak pms 'kan?" celetuk Jiya iseng. Dengan kepala yang sedikit menyembul dari balik pintu kulkas.


Aku yang cukup kaget dengan tingkah bocah rese itu, langsung memberinya plototan gratis. "Hus, enak aja kalau ngomong kamu."


"Hehehe ... Ya maaf, Om!" balas Jiya seraya tercengir lebar tanpa dosa.


"Nih makan, katanya tadi nungguin." Aku berujar seraya menyodorkan sekotak ayam goreng dan juga dua gelas minuman kesukaannya itu

__ADS_1


"Asyik, makasih Om Ferdi!" serunya riang, yang mendadak berubah setelah mendengar bisikanku.


"Sama-sama, makan aja sampe kenyang. Asal kamu nggak lupa setelah itu kita bakal ngelakuin malam pertama yang tertunda."


__ADS_2