Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Hamil


__ADS_3

Usut punya usut, setelah aku mencoba menggali informasi dari Jiya. Tentang apa yang telah terjadi, sampai si bocah rese itu membuatku salah paham. Serta menganggap dia yang jadi korban kecelakaan itu begini.


Momi yang hari Sabtu sore udah pesan kolang-kaling sama tetangga sebelah, nyuruh Jiya buat ambil pesanan kolang-kalingnya.


Kata Jiya, itu karena Momi yakin kalau aku bakal pulang ke rumah sekitar jam tiga sore. Selain itu, karena Momi tau aku ini pecinta manisan kolang-kaling.


Sayangnya, ada kendala. Tetangga sebelah rupanya sudah pergi ke tokonya di pasar, dan ngabarin Momi kalau ngambil pesanannya mending ke pasar aja sekalian.


Otomatis, Jiya jadi pergi ke pasar untuk mengambil pesanan Momi, dong. Cuma, sewaktu diperjalanan pulang. Jiya yang pergi pakai sepeda. Tak sengaja melihat, anak kecil yang mau diculik pakai mobil sedan berwarna putih.


Selain itu, Jiya juga jadi saksi satu-satunya gimana ibu si bocah laki-laki itu berusaha ngasih perlawanan, supaya anaknya nggak dibawa kabur si penculik itu.


Naas, aksi mereka harus berhenti dengan cara yang tragis. Itu karena dari arah persimpangan jalan yang lain, Jiya melihat sebuah truk tronton yang remnya blong melaju dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. Hingga menyebabkan kecelakaan lalu lintas yang beruntun.


Dan korban tewas yang dimaksud petugas itu bukanlah Jiya, melainkan nama si penculik wanita yang kebetulan sama dengan si bocah rese itu.


Sedangkan untuk ibu si bocah laki-laki yang hampir jadi korban penculikan anak. Dia masih hidup meskipun harus menerima luka serta patah tulang.


Setelah mendengar cerita Jiya tadi, aku pun merasa lega. Untungnya, Allah masih melindungi Istriku ini dari marabahaya.


"Kamu hebat," pujiku. Seraya mengecup jidat Jiya sayang.


Membuat si bocah rese itu segera menutupi wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangan. Mirip anak perawan, yang baru ngerasain jatuh cinta.


"Om Ferdi, mah! Jiya kan, jadi malu. Apalagi masih ada si dedek ini." Jiya berucap dengan pandangan mengarah ke si bocah laki-laki yang tertidur lelap dipangkuannya.


"Lah, orang dianya aja tidur. Malu kenapa, heh?"


Alih-alih menjawab, si bocah rese itu malah menimpaliku dengan topik baru.


"Oh iya Om, Jiya juga punya satu kabar lagi yang mau diomongin ke Om Ferdi."

__ADS_1


Tiba-tiba, Jiya menatap mataku lurus dengan nada suara yang berubah serius. Selain itu, senyum malu-malu kucing diwajahnya yang ayu itu, mendadak berubah menjadi raut wajah yang sulit diartikan.


"Apa?" sahutku, ikutan penasaran juga.


Kulihat Jiya tersenyum lebar, sampai kedua matanya itu berubah menjadi dua garis lengkung yang lucu. Lantas, berseru dengan begitu semangatnya.


"Om Ferdi, selamat yah, karena udah jadi seorang Ayah!"


Aku yang mendengar ucapan Jiya, langsung mematung seketika. Bukan-bukan karena aku tak senang dengan kabar itu. Namun, aku sangat terkejut hingga tak tahu lagi harus bersaksi seperti apa.


Habis, menjadi seorang Ayah bukanlah sebuah tanggung jawab yang sepele. Selain menjadi kepala keluarga dan pemimpin yang baik. Seorang Ayah juga harus menjadi sosok panutan untuk anak-anaknya.


Sejujurnya ada rasa takut yang terselip dihatiku karena belum bisa menjadi suami yang baik dan Jiya idam-idamkan selama ini. Namun, rasa senang itu mengalahkan semua kekhawatiran yang selama ini menjadi duri di dalam dagingku.


Yah, aku begitu bersyukur mendengar kabar yang Jiya sampaikan barusan. Hingga tak sadar, sudah memeluk tubuh bocah rese itu erat, seraya menghujami seluruh wajahnya dengan kecupan-kecupan kecil.


"Terima kasih, aku usahakan buat jadi suami dan Ayah yang baik untuk kedepannya."


Beberapa hari setelah insiden kesalahan pahaman diantara kami. Sekaligus, setelah Jiya dinyatakan benar-benar sedang mengandung.


Momi menyuruh kami untuk menginap selama beberapa hari di rumahnya. Aku sendiri dan Jiya tidak merasa keberatan. Kami berdua, bahkan menyambut permintaan Momi tercinta dengan begitu senangnya.


Cuma yang jadi masalah, aku merasa kondisi tubuhku benar-benar kacau akhir-akhir ini. Selain merasa cepat sekali kelelahan, tiap pagi aku juga merasa mual hingga pusing dikepala.


Mukaku yang dulunya hitam manis berseri, kini terlihat seperti mangga muda yang sengaja dimatangkan sebelum masanya. Tidak segar serta cukup pucat.


Uh, apa aku kena gejala maag, yah?


"Huekk! Huekk! Uhueekk!"


Benar-benar deh, bukannya sembuh. Hari ini perutku tambah mual setelah diberi jamu bratawali buatan Momi.

__ADS_1


Lain halnya dengan Jiya, yang kelihatan segar bugar seperti biasa. CK, yang hamil itu aku apa dia, sih?


"Om, mau susu?" Menyodorkan segelas susu rasa vanilla yang entah mengapa aromanya membuatku mual tiba-tiba. Padahal, masih ada beberapa jengkal jarak diantara kami.


Tapi, saat aku melihat rupa serta tak sengaja menghirup aroma susu vanilla milik Jiya. Isi perutku seketika naik ke atas kerongkongan dan meminta untuk segera dikeluarkan.


Secepatnya, aku langsung berlari ke kamar mandi. Kemudian muntah sebanyak-banyaknya, yang isinya cuma cairan bening semua.


Loh?


Kupikir, aku nggak ada riwayat soal rabun. Tapi kenapa, muntahanku isinya cairan bening aja?


Masa iya, pandanganku mendadak buram gara-gara sering kerja di depan layar komputer?


Ditengah-tengah kegundahanku, sosok bocah rese itu tiba-tiba muncul dan sudah berdiri di ambang pintu seraya memegang pewangi ruangan.


"Om Ferdi, akhir-akhir ini kenapa sih, sensitif banget sama bau-bauan? Udah gitu sering banget muntah tiap pagi. Padahal, Jiya yang lagi hamil aja ngerasa biasa-biasa aja tuh," celetuknya yang membuat amarahku naik seketika.


"Kalau risih, bilang aja kenap, sih? Jangan mentang-mentang nggak muntah, kamu jadi bisa nyindir orang lain begitu," balasku kesal.


Kulihat wajah Jiya berubah cemberut. "Kok, jadi marah-marah sih. Lagian yang Jiya bilang kan sesuai fakta. Kenapa malah nggak terima?!"


"Berisik, aku males mau debat sama kamu hari ini," jawabku lagi, dengan tatapan mata sinis.


Jiya sendiri menatap tak kalah sinis padaku. Kemudian memutar balik tubuhnya, dan melenggang pergi begitu saja dengan wajah bersungut-sungut. Marah.


"Huh, Ferdi, Ferdi! Kok lo, jadi sensitif banget sih kayak cewek yang lagi pms!" rutukku kesal, gara-gara marah-marah ke Jiya barusan.


Dan lagi, aku baper banget astaga. Nggak kayak diriku yang biasanya. Sebenarnya, aku kenapa sih, akhir-akhir ini?


Merasa belum juga mendapat perubahan dengan kondisi fisikku. Aku pun meminta cuti, serta bantuan ke Daddy untuk menghandle semua urusan perusahaanku terlebih dahulu. Yah, sampai kondisiku ini pulih sepenuhnya.

__ADS_1


Selain itu, aku juga akan mencari tahu penyebab kondisi fisikku yang tiba-tiba anjlok drastis begini.


__ADS_2