Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Bintang Iklan


__ADS_3

Sore ini hujan deras kembali mengguyur bumi. Membuat beberapa orang di kantor memilih untuk menunggu sampai hujan reda.


Aku sendiri masih sibuk berkutat di depan komputer, seraya memainkan pulpen dengan tangan. Tatkala menemukan jalan buntu untuk pengiklanan produk minumanku.


Kalau tidak ada kendala, rencananya iklan produk minuman ini akan ditayangkan bulan depan. Hanya saja, kami belum menemukan artis yang cocok untuk mengiklankan produk ini.


Sebenarnya, beberapa kandidat sudah dipilih oleh tim produksi. Sayangnya, aku belum menemukan yang pas.


Ditengah kegundahanku itu. Tiba-tiba, kudengar suara pintu ruanganku yang di ketuk. Membuatku lantas menolehkan kepala ke arahnya, untuk menyuruh Aaron masuk.


"Gue, ganggu nggak?" tanyanya canggung, sambil berjalan mengendap-endap ke arahku.


Aku yang sudah biasa dengan kemunculan Aaron yang tiba-tiba itu, hanya mengangkat bahu cuek. Kemudian kembali fokus menatap layar komputer.


"Kayaknya gue nggak ganggu, nih. Eum, btw lo udah dapat artis buat pengiklanan produk kita?" tanya Aaron seraya mendudukkan dirinya di sofa tamu.


Sekilas aku melirik ke arahnya. "Belum, kenapa?"


Dari ekor mataku, kulihat raut wajah Aaron berubah sumringah. Lalu tak lama kemudian, sahabat karibku itu langsung bangkit dari posisinya duduk untuk mendekat ke arah meja kerjaku.


"Cakep! Gimana kalau kita pakai jasa Clara aja? Dia kan juga artis, Fer. Walaupun sekarang fokusnya ke influence aja. Tapi, dia masih sering nanganin iklan-iklan produk kok, kalau gue lihat-lihat di sosmednya." Aaron memberi saran runtut, mirip guru sejarah yang sedang menerangkan materi.


"Clara?" ulangku. "Clara siapa?"


Mata Aaron langsung membulat sempurna. Sepertinya terkejut dengan ketidaktahuan diriku ini.


"Demi apa lo nggak tahu Clara?"


Aku menggelengkan kepala cepat. Memang benar kok, kalau aku nggak tahu siapa Clara itu.

__ADS_1


"Clara si primadona kampus kita dulu. Ituloh, cewek yang pernah jadi teman sebelah bangku lo, pas sidang akhir buat lulus. Masa lo nggak inget, sih?" Aaron tampak mencak-mencak saat menjelaskannya.


Namun aku hanya cuek saja. Lagian aku nggak ingat pernah dekat atau kenalan sama cewek bernama Clara.


"Parah banget lo! Muka ganteng, otak pinter tapi mata minus pas liat cewek cantik. Fer, Fer, kayaknya Tuhan pas nyiptain lo, kurang nambahin rasa peka aja deh sama cewek cantik. Jadi yah, begini nih." Aaron berujar yang langsung mendapat plototan tajam dariku.


"Maksud lo apa ngomong gitu?"


Tercengir lebar, sahabat karibku itu lantas menggelengkan kepalanya secepat mungkin. "Nggak, lo salah dengar tadi. Hehehe ..."


Setelah itu, ruangan kantorku kembali hening. Aku maupun Aaron tampaknya sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Hanya saja, di detik berikutnya aku lantas membuka suara lagi.


"Kalau dia oke, coba ajak aja buat ikut diskusi besok. Siapa tahu, yang lainnya setuju. Asalkan dia nggak banyak maunya aja, gue pasti jadiin dia bintang iklan produk kita."


Kulihat senyuman Aaron langsung terkembang lebar. Kemudian tanpa aba-aba, dia langsung berlari ke arahku untuk memeluk tubuh ini erat. "Gue tahu, lo pasti bakal bilang setuju."


Keesokan harinya, kami kumpul di ruang rapat seperti biasa. Cuma kali ini, tambah satu orang lagi yang membuat beberapa karyawan nampak penasaran. Terlebih lagi, kabar tentang bintang iklan yang aku tunjuk sudah menyebar ke setiap divisi. Jadi, yah begini deh. Riweh.


Hm, semoga saja dia bukan gadis manja. Habisnya, itu terlalu merepotkan apalagi untuk diajak kerjasama.


Satu menit lagi, rapat akan dimulai. Tiba-tiba saja, pintu kaca terbuka dan memunculkan satu sosok wanita berambut panjang dengan setelan dress hitam selutut serta kemeja yang hanya disampirkan ke bahu muncul.


Otomatis, hal itu membuat fokus karyawan yang ada di ruang rapat langsung tertuju ke arahnya dengan pandangan mata terpukau. Kecuali, aku.


Yah, sepertinya cuma aku seorang yang masih sadar diri. Dan hanya menatap sosok wanita itu datar.


"Kamu Clara?" tanyaku dengan suara teramat dingin. "Lain kali, usahakan datang lima menit lebih awal, yah. Soalnya saya paling nggak suka buat nunggu. Paham?"


Karyawan-karyawan tadi yang terpukau dengan sosok Clara. Seperti langsung tersadarkan setelah mendengar suaraku yang dingin. Kontan saja, hal itu membuat suasana di ruang rapat sedikit tegang.

__ADS_1


Mereka bahkan takut-takut, saat memalingkan wajah ke arahku.


"Dan untuk yang lain, saya harap untuk lebih fokus."


Kulihat semuanya langsung menganggukkan kepala takut. Lalu tak lama setelahnya, kami pun memulai rapat. Yang akhirnya mendapat keputusan akhir dengan menjadikan Clara sebagai bintang utama iklan produk minuman kami.


Rapat berakhir dengan suasana yang lebih baik dari pada saat akan dimulai. Seperti biasa aku akan jadi orang terakhir yang pastinya meninggalkan ruang rapat, dengan Aaron. Namun, untuk kesempatan kali ini. Ada tiga orang yang masih tinggal, yakni aku, Aaron serta Clara.


Tentu saja, di sana kami bertiga hanya diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Ralat, kurasa hanya aku saja.


Karena sedari tadi, Aaron tak berhenti mengajak ngobrol wanita bernama Clara itu. Entahlah, membicarakan apa. Yang jelas, selalu ada saja topik yang muncul diantara mereka.


Tak lama kemudian, kulihat Aaron mulai bangkit dari duduknya. Kemudian pergi keluar lebih dulu, tanpa menyapaku seperti biasa. Dan hanya meninggalkan aku dan Clara berdua sekarang.


Benar-benar deh, Aaron itu. Bisa-bisanya dia langsung lupa sama segala hal kalau sudah berurusan dengan wanita cantik.


"Eum, Pak Ferdi." Clara tiba-tiba memanggil namaku dengan gugup.


Selain itu, sempat kulihat dia menggeser kursinya sedikit. Untuk lebih dekat ke arahku.


"Hm?"


"Boleh nggak saya panggil nama Bapak, Ferdi aja? Lagian kita ini seumuran," terangnya penuh kehati-hatian.


Aku segera membalasnya dengan anggukan kepala ringan. "Bebas, asal jangan Sayang aja."


Tampak Clara langsung berdiri dengan penuh semangat. "Beneran? Terus kalau panggil Husbu, boleh?"


Tersenyum tipis, aku lantas menjawab. "Bebas bukan berarti panggilan khusus itu boleh. Walaupun niat kamu cuma bercanda. Jadi, panggil Ferdi aja."

__ADS_1


Entah aku salah lihat. Atau memang benar adanya. Raut wajah Clara yang tadinya penuh semangat, langsung berubah menjadi lesu saat kujawab tidak boleh sembarangan menggunakan panggilan khusus. Apalagi, hal-hal yang dapat memicu kesalahan pahaman diantara kami.


Aku khawatir itu akan merusak reputasinya, sekaligus bisa berpengaruh pada karierku juga. Selain itu, aku juga tak mau membuat hubunganku dan Jiya bermasalah hanya karena sebuah panggilan.


__ADS_2