
Sudah beberapa hari belakangan ini, aku sering merasakan perut penuh serta kesulitan untuk tidur. Tentunya, selain merasa mual dan pusing, yah.
Selain itu, aku juga gampang marah-marah dan jadi lebih sensitif akan sesuatu. Seperti, sensitif pada aroma parfum yang menyengat atau jenis makanan tertentu yang langsung membuatku mual seketika.
Jujur saja, bukankah itu aneh? Aku yang biasanya tak bermasalah dengan apapun, mendadak begini?
Sudah begitu, akhir-akhir ini juga. Aku ingin sekali makan sesuatu yang masam dan segar, seperti rujak misalnya. Atau, mangga muda pakai cocolan masako dan bon cabe.
Beuh, membayangkannya pas terik-terik begini. Membuat air liurku menetes tanpa sadar. Alhasil, Jiya yang sedang duduk di sebelahku dan sedang menonton kartun sejuta umat. Langsung melirik tajam, seraya mengunyah pang-pang manisnya, tak santai.
"Ih, Om Ferdi jorok banget, sih? Kok, ngelamun sampai netesin liur begitu? Hayo, mikirin apa?" celetuk si bocah rese itu seraya mengarahkan pang pang manisnya ke arahku.
Tentu saja, aku yang melihat snack itu di depan mata, serta mengarah ke mulut. Langsung menyambarnya dengan cepat, membuat raut wajah Jiya berubah mengeras seketika.
"Iih, kok dimakan sih. Itu tinggal satu tahu!" rutuknya sebal, seraya memukul-mukul kecil lengan kiriku.
Aku sendiri cuma menanggapi tingkah Jiya itu dengan tawa yang menghiasi wajah. Tergelak tanpa sadar, kemudian balas menyerang si bocah rese itu dengan menggelitik permukaan perutnya, hingga blingsatan mirip cacing kremy.
"Hahaha, berhenti Om! Jiya kegelian ih, ahahaha ... Hahaha ..." pintanya sambil tertawa patah-patah.
Berusaha melepaskan tanganku dari tubuhnya, yang malah membuat tatapan kami bertemu, kemudian saling pandang dengan intensnya.
Cukup lama, kami saling tatap dengan jarak wajah yang begitu dekat. Hingga wajahku bisa merasakan terpaan nafas hangat Jiya yang berembus pelan.
Seolah, mengerti dengan apa yang akan terjadi berikutnya. Perlahan-lahan jarak antara wajah kami berdua mulai terkikis. Dengan kedua mata masing-masing, yang mulai memejam pelan-pelan, dibarengi dengan gerakan wajah yang mulai mendekat satu sama lain untuk menyatukan benda dingin nan lembut itu.
Cup!
Mulanya cuma kecupan singkat. Namun, lama-kelamaan berubah menjadi rasa haus yang terus berkelanjutan hingga tanpa sadar membuat aku dan Jiya terbuai dengan gejolak nafsu duniawi.
"Mau lanjut?" kataku disela-sela ciuman kami.
Kulihat Jiya tak menjawabnya. Bocah rese itu malah memperdalam ciuman kami sembari mengusap-usap bagian tengkuk belakangku. Semakin membuatku menginginkan lebih.
Sial, dia benar-benar gadis nakal! Aku tak menduga kalau Jiya akan begitu ahli setelah melakukan ciuman panas beberapa kali. Tapi, aku sangat menyukainya.
__ADS_1
Karena tak kunjung mendapat jawaban dari mulut Jiya. Akhirnya, kuputuskan untuk mengangkat tubuh istriku itu, ala bridal style menuju kamar kami.
Habis, kami masih ingat tempat. Kalau ini rumah Momi dan Daddy. Meskipun, hari ini cuma ada aku dan Jiya saja. Tapi, aku tidak mungkin melakukan hal itu di ruang keluarga, kecuali saat di rumahku sendiri. Kemungkinan hal itu bisa terjadi.
Jiya melenguh kecil, saat kujatuhkan tubuhnya pelan ke atas ranjang. Yang kemudian ku tindih dengan tubuhku sendiri.
Lagi-lagi melanjutkan ciuman kami, hingga saling bertukar saliva. Lalu setelah puas bermain-main dengan bibirnya yang ranum itu, kupilih untuk mengecupi bagian lehernya sampai ke atas dada. Membuat jejak-jejak merah di atas sana, sampai membuat Jiya berteriak frustasi.
Melihat, reaksi bocah rese itu yang sepertinya sudah cukup terangsang dengan baik. Aku pun memulainya, membuka satu-persatu baju yang kami kenakan. Hingga, membuat tubuh kami kini polos tanpa apapun.
Barulah setelah itu, aku mulai menyatukan tubuh kami berdua. Hingga hanya terdengar, suara rintihan yang saling bersahut-sahutan saat kami saling tumpang tindih, untuk menikmati surga dunia ini.
Keesokan harinya, aku merasa mual lagi. Kali ini lebih parah dari hari-hari sebelumnya. Bahkan untuk makan pun, aku kehilangan nafsu.
Seolah-olah, semua makanan yang masuk ke dalam mulutku itu terasa pahit. Hanya saja, saat aku memasukan buah jeruk masam yang tak sengaja Momi beli waktu pulang dari pasar. Aku justru begitu lahap, serta merasa senang saat memakannya.
Saking lahapnya, aku sampai tak sadar, sudah menghabiskan setengah kresek seorang diri. Membuat Momi yang mengetahui hal itu, langsung berteriak penuh emosi ke arahku.
"Ya Allah, Ferdi! Itu jeruk buat Jiya, bukannya buat kamu cemilin!" Momi berteriak keras seraya mengacungkan spatula yang masih berasap itu ke arah wajahku.
"Yaelah Mom, sama anak sendiri padahal. Lagian, Ferdi cuma makan sepuluh, kok. Toh, di dalam kresek juga masih banyak." Aku membalas santai, sambil mencomot satu buah jeruk lagi untuk ku kupas kulitnya, tanpa tahu malu.
Kulihat Momi makin geram, itu tampak dari hidungnya yang mulai kembang-kempis mirip mulut ikan koi, waktu di daratan.
"Cuma sepuluh, katamu, huh?! Mau sampai kering itu danau Toba, tetap aja, kamu nggak bisa nipu Momi. Berhenti makan, atau Momi jadiin kamu dendeng balado buat makan Kitty!" ancam Momi, kali ini dengan pisau daging yang mengarah ke arahku
Sudah begitu, Momi menatapku begitu nyalang. Hingga kurasakan, aura membunuh sudah memenuhi seisi ruangan ini.
Aku yang melihat reaksi Momi yang kelihatannya sudah sangat emosi. Memilih untuk melambaikan tangan ke arahnya, menyerah. Lantas membalikkan tubuhku menghadap ke belakang, sebelum akhirnya ngacir ke kamar sendiri.
Asli deh, lebih baik cari aman daripada kena amuk Momi.
Sesampainya di kamar, dengan nafas yang masih ngos-ngosan. Kulihat Jiya tengah terlelap di atas kasur.
Mungkin, karena efek kemarin. Tenaganya jadi terkuras habis, serta membuat Jiya begitu kelelahan hari ini. Sehingga membuatnya, memilih untuk tidur seharian, setelah selesai membantu Momi beres-beres pekerjaan rumah.
__ADS_1
Aku yang melihatnya masih terlelap begitu, mulai melangkah perlahan-lahan untuk menghampirinya. Sesampainya di dekat bocah itu, aku lantas berjongkok kemudian menumpu wajahku sendiri dengan kedua tanganku ini.
Barulah setelah itu, aku menatap muka Jiya yang kebetulan tidur menghadap ke samping kanan, dengan senyuman tipis yang mengembang di bibir.
"Cantik," pujiku pelan.
Jiya yang memang tak mendengarnya, masih saja tertidur dalam posisi kelapa miring ke sebelah kanan, begitu.
Untuk mengabadikan momen ini, buru-buru kucari ponselku yang tadinya tergeletak di atas meja, dekat nakas. Setelah benda pipih sudah ada ditangan, aku pun mulai memfoto wajah si bocah rese itu secara diam-diam. Sebagai kenangan, kalau suatu saat Jiya membantah ucapanku. Aku bisa menjadikan foto aib Jiya, sebagai ancaman balik hahaha ...
Akan tetapi, diluar dugaanku. Belum sempat mengabadikan momen itu. Aku malah lebih dulu merasa mual parah, yang kemudian segera berlari masuk kamar mandi untuk memuntahkan semua makanan yang ada di dalam isi perutku ini.
Selesai muntah, aku makin merasa tubuhku menjadi lemas. Selain itu, rasa pusing yang tiba-tiba mendera kepalaku, ikut memperparah juga, keadaan yang ada.
Kotan saja, aku yang mulai merasakan duniaku mulai memburam. Pelan-pelan, menutup mata ini. Beberapa detik, sebelum aku jatuh pingsan, sekaligus kehilangan semua kesadaran setiap panda inderaku.
***
Sadar-sadar, aku lagi-lagi mendapati diri ini, terbangun di ruangan bernuansa putih. Yang tak lain dan tak bukan adalah rumah sakit. Selain itu, bau cairan infus serta obat-obatan membuatku seketika merasa mual dan ingin muntah.
Sontak, Jiya yang melihatku telah bangun. Bergegas, membatuku dengan menyodorkan sebuah kantong kresek hitam untuk muntah sementara.
Cukup melegakan memang setelah mengeluarkannya. Meskipun hanya cairan bening saja, namun aku cukup merasa lega.
Beberapa menit setelah muntah tadi, tampak seorang pria berjas putih memasuki kamar rumah sakit ku.
Jika dilihat-lihat dari pakaiannya yang lengkap itu. Aku bisa menebak kalau dia seorang dokter yang sudah berpengalaman. Cuma yang buat aku melongo, saat kulihat gelar yang tertera dikartu tanda namanya. Yang bertuliskan, dokter spesialis kandungan.
Tu-tunggu, bukankah yang hamil itu Jiya? Tapi kenapa yang diperiksa dokter kandungan malah aku?
Seolah-olah mengerti dengan kebingunganku, dokter itu lantas berkata. "Pak Ferdi, anda terkena sindrome couvade."
Note :
Couvade : istilah dalam kedokteran, tentang pria yang mengalami gejala nyidam saat istrinya sedang hamil. Lebih lengkapnya, cek di google hihihi ...
__ADS_1