Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Gerah


__ADS_3

"Not prize, but your body?"


Aku menampilkan smirk misterius saat mengucapkan kata-kata itu. Membuat tubuh Jiya seketika menegang untuk beberapa saat, sebelum akhirnya mundur secara teratur kebelakang.


Tentu saja, aku yang melihat reaksi Jiya begitu diam-diam tertawa dalam hati. Tak menduga, jika si bocah rese itu akan bereaksi begini. Padahal, kukira Jiya akan langsung memberiku tinju gratis diperut, atau tamparan keras dipipi.


Fyi, apa mungkin bocah itu juga punya rasa yang sama padaku?


Penasaran, aku pun ingin mencari tahu jawabannya lebih lanjut. Tentunya, dengan bersikap seolah-olah akan memakan bocah itu bulat-bulat hari ini.


Perlahan-lahan, kakiku mulai melangkah mengikuti tiap hentakan kaki Jiya yang mulai mundur kebelakang. Sampai tak sadar, kalau bocah itu kehilangan ruang untuk bergerak.


Sejenak, kulihat raut wajah panik menghiasi wajahnya itu. Begitu juga dengan semburat rona kemerahan, yang segera Jiya tutupi dengan tangannya sendiri.


"O-Om Ferdi mau ngapain?" ujarnya terbata.


Aku yang mendengar suaranya tergagap begitu, hanya menaikkan sebelah alis. Merasa aneh dengan sikap si bocah setan ini yang tidak seperti biasanya.


Yang kutahu, jika Jiya terpojok begini pasti akan ngegas dan berkata kasar. Tapi kenapa hari ini dia jadi shy shy cat, macam anak gadis yang mau diperawanin?


Masa iya, tebakanku benar?


"Ih, Om Ferdi mau ngapain? Ji-Jiya nggak bisa gerak nih!" teriaknya karena aku tanpa sadar sudah menghimpit tubuhnya ke dinding.


Astaghfirullah, Fer. Bisa-bisanya tangan kamu cari kesempatan dalam kesempitan. Eh!


"Eh, sorry-sorry kebawa suasana." Aku berkata seraya memundurkan langkah, untuk membuat jarak.


"Suasana? Emang Om Ferdi mikirin apa? Wah, jangan-jangan mau berbuat ke hal-hal yang kotor nih?" tuduh Jiya seraya menunjuk wajahku dengan jari telunjuknya.


"Nggak tuh, cuma mau ngetes."


Mendadak Jiya terdiam. "Ngetes apa?"


Bukannya menjawab, aku malah kembali mendekati bocah rese itu hanya untuk mengusap bibir bawahnya dengan ibu jari secara sensual.


"Es krimku. Ternyata, stoknya masih aman."


Blush!

__ADS_1


Muka Jiya langsung merah banget dong kayak kepiting rebus. Selain itu, dia juga langsung ngacir sambil nutup mukanya sendiri ke arah kamar tamu.


Lain halnya denganku, yang malah berdiri diam dengan alis terangkat sebelah. Menatap kepergiannya itu.


Tak ingin ditinggal sendirian, kuputuskan untuk menghampiri bocah rese itu. Berjalan perlahan, menuju kamar tamu yang tadi Jiya tuju.


Sesampainya di sana, kudapati si bocah setan itu sudah bergumul dibalik selimut. Menggulung diri sendiri, layaknya sebuah kepompong. Dengan tatapan yang begitu awas juga menatapku.


"Kamu ngapain kayak ulet begitu? Emangnya nggak gerah? Orang aku yang pake kaos aja kegerahan begini," jelasku seraya menaikan sedikit kaosku keatas.


Berniat mau melepaskannya, tapi langsung diteriaki Jiya histeris.


"Jangan!!!"


Gerakanku seketika terhenti. Seperti di pause mendadak.


"Kenapa, sih? Aku udah gerah banget nih, apalagi ac-nya belum dipasang."


"Pokoknya jangan, ih! Jiya takut khil-hmph ..."


Kulihat, bocah itu buru-buru menutup mulutnya sendiri. Membuatku jadi curiga akan something.


"Terus, berarti nggak ada masalahkan kalau aku buka baju atasan aja?"


Setelah itu, kulihat Jiya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Terlihat pasrah.


Tak terasa, siang perlahan menjadi petang. Setelah itu, gelapnya malam mulai datang menyambut hari ini. Aku yang kebetulan baru selesai mandi setelah membereskan beberapa barang di penthouse. Memilih untuk mendudukkan diri sejenak di atas kasur.


Parahnya lagi, aku masih mengenakan jubah mandi saja. Gara-gara lupa tak membawa baju ganti.


Jiya sendiri, masih sibuk membasuh diri sambil konser dadakan di kamar mandi. Entahlah, lagu apa yang sedang Jiya nyanyikan di dalam sana. Yang pasti, suaranya benar-benar terdengar sampai luar. Entah itu gayung jatuh, umpatan khas Jiya dan masih banyak lagi yang tak bisa kusebutkan.


Terlalu lelah, aku tanpa sadar memejamkan mata. Terlarut dalam tidur lelap sejenak, yang harus usai setelah bocah rese itu bangunkan dengan tepukan tiga kali dipundak.


"Om Ferdi, jangan tidur dulu. Jiya laper nih, cari makan yuk." Bocah rese itu mengajakku makan, seraya menarik-narik lenganku paksa.


Hadeh, dia lupa atau nggak peka sih, aku masih pakai jubah mandi? Kalau nggak sengaja lepas, terus kelihatan nanti siapa yang bakal disalahin?


Pasti aku! Kan, aku cowok. Dan dikamus cewek, cowok selalu saja salah. Gitu aja terus.

__ADS_1


"Ji, pelan-pelan. Nyawaku belum kumpul nih," kataku seraya melepaskan tangan Jiya yang masih menarik-narik lengan kiriku membabi buta.


Untung saja, bocah rese itu langsung nurut. Mungkin, kalau nggak kita bakal berakhir dengan adu bacot kayak biasanya.


"Emang kamu mau makan apa?" kataku setelah mengubah posisi, menjadi berdiri menghadap ke arahnya.


Jiya tampak mengetukkan jari telunjuknya di atas dagu, berpikir. "Eum, ayam geprek aja gimana, Om? Kita pesan lewat grab food. Soalnya Jiya males banget keluar hari ini," jelas Jiya sambil nyengir kuda.


Aku cuma manggut-manggut saja. Kemudian, memesan ayam geprek lewat aplikasi diponsel pintarku ini, seperti yang Jiya suruh barusan.


Sayangnya, aku dan Jiya harus menunggu lama untuk pesanan itu. Yang membuat kami berdua hampir mati kebosanan di dalam penthouse.


Terlalu lama menunggu, membuat Jiya mendesah berat karena saking bosannya. Bocah itu lantas mendekat, dan ikut rebahan di samping kasur tempatku tiduran juga.


"Om Ferdi!" panggilnya.


Aku yang mulai nggak mood sama keadaan, cuma menolehkan kepalaku sebentar. Kemudian kembali fokus ke email yang Gisel kirim, dan sedang kubaca lewat ponsel.


"Om, ih. Gimana kalau sambil nunggu kita main game aja."


"Game apa?" sahutku malas, tanpa melirik ke arah Jiya yang kini menatapku penuh binar harapan.


"Tahan ketawa pas diklitikin. Gimana, mau nggak? Soalnya Jiya gabut banget nih."


Lagi-lagi aku hanya menganggukkan kepala pasrah, serta mau-mau saja mengikuti keinginan bocah rese itu.


Mulanya, permainan ini berjalan lancar tanpa ada kendala. Sampai ditengah-tengah permainan, saat giliran tubuh Jiya yang kusentuh untuk menahan tawa. Tanganku malah bergerak ke arah lain.


Dari perut, lalu turun ke pusar dan berniat masuk semakin dalam. Namun, seketika berhenti diperbatasan antara kaos dan celana miliknya. Berputar-putar terus di sana, hingga membuat Jiya mulai beraksi.


"O-Om, jangan di situ ih."


"Kenapa?" tanyaku pura-pura tak tahu. Dengan apa yang mulai Jiya rasakan.


Kulihat, bocah itu menggigiti bagian bawah bibirnya sendiri seolah menahan sesuatu, saat menatap netra gelap milikku.


"O-Om Ferdi uhhh ..."


Sial! Aku benar-benar tak bisa menahannya lagi.

__ADS_1


Secepatnya, kuraih tengkuk bocah itu lalu ******* bibirnya dengan tak sabaran. Mungkin, terlihat begitu terburu-buru. Namun, yang aku rasakan saat ini adalah akalku perlahan-lahan mulai terkikis, tiap kali bibir kami bertemu dan balas mengecup satu sama lain.


__ADS_2