Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Pisah


__ADS_3

"Ngapain Om Ferdi ke sini? Bukannya Om Ferdi seneng, kalau Jiya sekarat?"


Entah mengapa, kalimat singkat itu terkesan sangat menohok. Serta membuat hatiku terasa nyeri, mendadak.


Apalagi, Jiya mengatakannya tanpa menolehkan kepalanya ke arahku. Dan hanya melihat ke arah jendela rumah sakit dengan pandangan mata yang begitu kosong.


"Puas, udah buat Jiya begini? Bahkan sampai harus ngebuat Jiya jadi Ibu yang paling jahat di dunia," lanjutnya lagi. Masih menatap ke luar yang kelihatannya lebih menarik daripada diriku.


"Maaf," sahutku pada akhirnya.


Aku bahkan tak berani menatap wajah milik Jiya yang entak sejak kapan sudah menoleh ke arahku dengan sorot mata kehilangan separuh jiwanya.


"Maaf?" ulangnya, sembari terkekeh pelan. "Apa kata maaf bisa ngebalikin janin Jiya lagi? Atau apa kata maaf bisa mengubah kejadian kemarin itu jadi nggak ada di dalam hidup Jiya? Nggak, Om!!!" teriaknya histeris.


Aku yang melihat Jiya menangis kencang begitu. Berusaha untuk mendekat ke arahnya dan menenangkan dirinya. Tapi, dia malah melotot tajam ke arahku. Seraya mengancam akan menarik tali infusnya kemudian menusuk perutnya sendiri dengan sebuah pisau buah yang ada digenggaman tangannya sejak tadi.


"Jangan ke sini! Jiya benci sama Om Ferdi!"


"Tapi, Ji. Aku ..." Kata-kataku seolah menggantung di udara. Saat kudengar satu kalimat yang tak pernah kuduga itu keluar dari bibir Jiya.


"Jiya rasa kita lebih baik pisah aja. Jadi, untuk sekarang dan kedepannya jangan pernah muncul atau temui Jiya lagi."


Detik itu juga, kurasakan duniaku runtuh. Namun, bodohnya. Aku hanya diam mematung di tempatku dan tak melayangkan protes sama sekali.


Sedangkan Jiya, dia terlihat kembali membelakangi diriku. Meringkuk di atas ranjang rumah sakit, dengan pundak yang naik-turun.


Aku tahu, dia sedang menangisi keputusannya ini. Tapi, mungkin saja Jiya menganggap kalau ini satu-satunya jalan terbaik yang harus kami tempuh. Jadi, dengan hati yang berat juga. Aku pun mulai beranjak pergi. Hanya saja, sebelum aku menutup pintu ruangan itu. Aku meninggalkan sepatah kata untuknya.

__ADS_1


"Kalau kamu yakin dengan keputusan ini, aku bakal terima. Tapi, bukan berarti rumah tangga kita berakhir. Aku anggap ini hanya sekadar break."


Setelah mengatakan itu, aku pun pergi meninggalkan ruangan Jiya dan segala kenangan kami di sana.


Momi dan Mamah Vivi yang mendengar semuanya dari luar, melihat diriku dengan sendu. Bahkan mereka tak mampu membendung air mata mereka sendiri yang kini tampak berjatuhan di atas permukaan pipi.


"Kamu serius, Fer? Gimana kalau di saat kalian break ada pihak lain yang masuk? Apa kamu yakin bakal lepasin Jiya?" tanya Mamah Vivi tak terduga.


"Padahal Mamah seneng banget punya mantu kayak kamu. Mamah juga nggak nyalahin kamu soal kejadian semalam setelah dengar ceritanya dari Jeng Clara. Ini cuma kesalahan pahaman, meskipun Mamah cukup kecewa gara-gara perbuatanmu itu, cucu yang kami tunggu-tunggu selama ini nggak jadi lahir di dunia. Tapi Fer, ini juga bukan sepenuhnya salah kam-"


"Mah," panggilku lembut, seraya tersenyum."Apapun keputusan Jiya, Ferdi bakal terima. Dan kalau sekarang memang ini jalan yang terbaik. Ferdi bersedia nunggu sampai Jiya benar-benar mau membuka hati lagi buat Ferdi. Karena, Ferdi yakin jodoh itu nggak bakal kemana. Jadi, tolong jaga Jiya buat Ferdi, yah."


Aku memegang erat tangan mertuaku itu, seolah-olah sedang menyalurkan semua rasa yang tak bisa aku ungkapkan saat itu. Meskipun, Momi diam saja. Tapi dia yang paling banyak menangis dan tak mau melihat ke arahku. Yah, sepertinya dia sangat kecewa, melebihi Mamah Vivi.


Tak terasa, hari mulai berlalu dengan begitu sulitnya setelah kejadian itu. Menjadi minggu-minggu yang sangat menyibukkan aktivitas. Sampai tak terasa berubah menjadi bulan yang penuh penderitaan. Kemudian, berubah menjadi tahun yang rasanya sangat keras sekali.


Ini, mungkin sudah menjadi tahun kedua, genapnya perpisahan kami. Bagaimana sulitnya hari-hari yang harus kulewati tanpa sosok Jiya. Sekaligus kembali ke rutinitas kantor yang benar-benar menguras fisik dan tenaga. Dan tanpa sadar membuatku menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh.


Entahlah, sejak kapan karakterku berubah menjadi buruk seperti itu. Atau mungkin, sejak aku mulai depresi karena terlalu lama berpisah dengannya? Heuh, kira-kira bagaimana keadaannya sekarang?


Sudah lama sekali, setelah terakhir kali Mamah Vivi mengabari aku dan Momi kalau dia akan pindah ke luar negeri. Yang otomatis, Jiya juga akan ikut bersamanya.


Aku harap, Jiya baik-baik saja dan memulai kehidupan barunya dengan ceria. Jujur, aku rindu sosoknya yang cerewet dan mengesalkan itu. Bagaimana caranya memanggil namaku dengan tambahan 'Om', serta sentuhannya yang kadang masih saja membekas di atas permukaan kulit.


"Om!"


Panggilan itu seketika membuyarkan lamunanku saat sedang duduk, setelah lari sore keliling komplek.

__ADS_1


Detik itu juga kepalaku langsung menoleh ke arah samping kanan. Lantas mendapati seorang gadis remaja yang masih mengenakan seragam sekolah SMA, tiba-tiba datang mendekat ke arahku dengan tangan membawa buku note kecil yang diulurkan ke depan wajahku.


"Boleh minta tanda tangannya?" tanyanya hati-hati, yang langsung kubalas dengan senyuman hangat di wajah.


Lagi pula dia seorang anak-anak. Aku tak perlu bersikap tak acuh padanya.


"Boleh, memangnya buat apa? Saya kan, bukan artis." Gurauku seraya mengambil pulpen yang ada ditangan remaja itu.


Kudengar, bocah itu mendengus. Kemudian menjawab perkataanku tadi dengan lantangnya. "Soalnya temenku bilang, Om itu kayak Yeonjun TXT. Padahal mah, menurutku Om, lebih mirip sama Suneo."


Deg!


Rasanya seperti ada sesuatu yang menyentil hatiku. Membuatku terdiam beberapa saat, dengan tangan yang masih menggantung di udara.


"Om?"


"Om Ferdi?"


"Ya, Ji!" sentakku cepat membuat remaja di depanku langsung mengernyitkan sebelah alisnya.


"Ji, siapa Om?" tanyanya penuh rasa ingin tahu. Yang langsung kualihkan dengan topik yang lain.


"Maaf sepertinya saya berubah pikiran. Saya pergi dulu," kataku cepat. Buru-buru beranjak dari tempatku duduk beristirahat tadi.


Bahkan aku tak menggubris suara teriakan bocah itu yang masih mencoba meminta tanda tangan milikku ini.


Sesampainya di penthouse. Aku langsung merebahkan diriku di atas kasur bersprei abu-abu. Kemudian menengadahkan wajah, untuk melihat langit-langit kamar yang sore itu, tersinari cahaya sunset karena pintu balkon yang kubuka.

__ADS_1


Dengan pikiran yang campur aduk, aku masih mengingat kejadian tadi. Kejadian yang menurutku begitu dejavu, hingga membuatku mengingat sosok Jiya lagi. Apalagi, dandanan bocah tadi serta gaya bicaranya benar-benar mengingatkanku pada sosoknya.


Ah, kenapa bisa kebetulan begini?


__ADS_2