Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Hamidun


__ADS_3

"Om Ferdi, sini deh lihat. Bayinya lucu banget!" seru Jiya hati-hati dengan tangan yang melambai-lambai ke arahku.


Memintaku untuk mendekat ke arahnya yang sedang berdiri, dengan punggung sedikit membungkuk, ke arah tempat tidur bayi yang mirip keranjang.


"Iya lucu."


Aaron yang mendengarnya juga, langsung menyenggol lengan kiriku seraya berbisik  lirih ditelinga. "Buruan nyusul, kayaknya Momi lo juga udah nunggu momen buat nimang cucu."


Benar juga, Momi, Mamah Vivi sekaligus Jiya. Tampaknya sudah tak sabar untuk punya momongan. Waktu resepsi pernikahan saja, mereka menyewakan tempat untukku dan Jiya bulan madu yang privat sekali.


Meskipun dimalam harinya setelah selesai resepsi aku dan Jiya memilih untuk tidur saja karena kelelahan. Tapi, sepulang dari Segarra, kami melakukannya beberapa kali di penthouse. Dan itu cukup rutin hingga masuk ke minggu-minggu yang cukup sibuk ini.


"Iya, gue tahu kok, Ron. Tapi rezeki kan cuma Allah yang bisa ngatur. Meskipun begitu, gue sama Jiya juga udah berusaha semaksimal mungkin supaya cepat-cepat nyusul kalian dan dikaruniai anak," balasku kemudian.


Aaron tampak mengangguk pelan kemudian beralih ke Mila yang tiba-tiba memanggil namanya. Sebelum pergi, dia sempat berbisik padaku.


"Semoga aja, senin besok Jiya udah isi."


Saat jam mulai menunjukkan pukul 21.00 malam, aku dan Jiya pun berpamitan untuk kembali ke rumah. Apalagi besok, pagi-pagi sekali aku dan Jiya ada meeting dengan klien penting.


Aaron dan Mila sendiri hanya tersenyum saat menyambut kepergian kami. Keduanya berulang kali mengucapkan terima kasih karena telah menemani serta menunggu sampai anak mereka lahir dengan selamat.


***


Tak terasa hari berganti menjadi minggu. Dan minggu berubah menjadi bulan. Saat ini perusahaanku dan Jiya sedang berada dimasa puncak kami masing-masing. Dan hampir tiap bulannya, produk kami selalu sold out dipasaran.


Jujur itu sangat menguntungkan, namun dibalik semua itu harus ada harga yang dibayar mahal. Yah, seperti waktu dan kebersamaan kami yang sangat sedikit ini.


Namun aku tak menduganya, ditengah-tengah kesibukanku dan Jiya. Kami akan mendapatkan sebuah kabar tak terduga ini.

__ADS_1


Aku ingat betul pagi itu. Disaat mentari masih malu-malu untuk muncul dari ufuk timur. Dan para burung masih belum beranjak dari sarangnya. Serta, oksigen yang masih sangat segar dan belum tercemar oleh nafas-nafas orang munafik.


Jiya tiba-tiba berteriak dari kamar mandi. Yang membuatku langsung beranjak dari dudukku di atas sajadah, setelah selesai solat subuh. Dengan masih mengenakan baju koko lengkap serta sarung kotak-kotak. Kakiku berlari menuju pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


Menggedor-gedornya keras, berharap jika Jiya langsung mendengar ketukan pintu dariku yang cukup mengganggu telinga.


"Ji? Ada apa? Coba buka pintunya?"


Nihil, belum juga ada jawaban. Yang membuatku lagi-lagi mengetuk pintu kamar mandi itu lebih keras dari pada sebelumnya.


"Ji? Sayang?!"


Detik itu juga, knop pintu kamar mandi yang kupegang. Mendadak terbuka lebar, yang memunculkan sosok Jiya yang dengan cepat menghambur kedalam dekapanku ini.


Memeluk tubuhku seerat mungkin dengan suara isakan yang kudengar lirih. Lalu, dia merenggangkan pelukannya sedikit, kemudian beralih menatap ke arah kelereng hitamku lamat-lamat.


"Jiya hamil," ujarnya pelan seraya menyodorkan tespek ke arahku.


"Alhamdulillah," ucapku bersyukur seraya balas memeluk tubuh Jiya tak kalah eratnya.


Membuat tangis bocah rese itu makin menjadi-jadi. Begitu juga denganku yang tanpa sadar ikut juga meneteskan air mata, saking senangnya.


Tak berselang lama, aku pun mengajak Jiya untuk pergi ke dokter kandungan. Ingin memeriksa kondisi Jiya sekaligus ingin tahu, sudah berapa lama Jiya mengandung.


Dan dokter bilang, jika istri kecilku itu sudah mengandung hampir 2 bulan. Dihitung dari terakhir dia mengalami menstruasi.


Kontan saja aku yang mendengarnya sedikit terkejut. Hal itu dikarenakan, saat sebulan Jiya mengandung kemarin dia benar-benar sedang sibuk-sibuknya mengurus produk baru yang akan keluar. Untung saja, waktu itu Jiya masih bisa menjaga kondisi tubuhnya dan tak mengalami hal-hal yang dapat membahayakan kandungannya.


"Jadi saya harap, Anda mengawasi ibu Jiya untuk ke depannya. Selain itu, Anda juga harus memastikan Ibu Jiya tidak melakukan aktivitas berat, yang dapat mengancam kandungannya," ujar dokter kandungan, tempatku dan Jiya periksa tadi.

__ADS_1


Sedangkan Momi dan Mamah Vivi yang mendengar kabar ini langsung heboh seperti biasa. Keduanya bahkan langsung datang ke penthouse kami dan berencana untuk menginap malam ini.


Mereka bilang, ingin merawat Jiya layaknya seorang putri raja. Jadi untuk semingguan ini mereka ingin tinggal di penthouseku. Aku sih, oke-oke saja. Lain halnya dengan Daddy dan Papi yang langsung kena getahnya. Selain mereka harus beres-beres rumah sendiri selama seminggu, mereka juga nggak dapat jatah pastinya.


Jadilah, keduanya mengadu padaku. Serta meminta agar membujuk Momi dan Mamah Vivi untuk segera pulang ke rumah.


Hari-hari semenjak Jiya mengandung mulai terlewati satu persatu. Dari pertama kali dia mulai mengalami muntah dan merasa pusing tiap paginya. Sampai saatnya tiba dia mulai ngidam.


Jujur, saat difase ini aku jadi teringat saat aku menderita sindrome couvade dulu. Saat dimana, setiap hari yang kulalui begitu sulit.


Meskipun kini aku tak mengalaminya lagi. Namun aku merasa iba juga pada Jiya. Karena dia terlihat begitu tersiksa, beberapa hari belakangan.


Tapi ada juga sih, hari dimana Jiya membuatku kesal juga. Seperti malam ini contohnya. Di saat aku sedang terlelap nyenyak sampai ke alam mimpi. Jiya tiba-tiba membangunkan diriku dengan menggoyangkan bahuku pelan.


Awalnya aku masih tak menanggapi, namun saat dia mulai berteriak tepat di depan lubang telingaku. Aku langsung membelalakkan mata seketika. Menatap ke arahnya kesal, yang hanya dibalas senyuman manis dibibirnya.


"Jangan salahin Jiya dong, orang yang nyuruh Jiya ngebangunin Om Ferdi si dedek bayi," elesnya seraya mengusap-usap permukaan perutnya yang mulai membesar itu.


"Ya udah iya, emang si dedek bayi mau apa, hm?" tanyaku masih sedikit kesal sebenarnya. Habis lagi enak-enaknya tidur diganggu, sih.


Kulihat Jiya tampak berpikir seraya mengetuk-ngetuk bagian ujung dahinya pelan. Lantas tak lama setelah itu, dia langsung melihat ke arahku lagi.


"Dedek bayi bilang, dia pengin mangga muda. Tapi harus punyanya Mang Yudi. Om Ferdi tahukan, pohon mangga manalagi yang ada di ujung perempatan. Nah, dedek bayi ngidam mangga itu," kata Jiya tampak dosa.


Aku langsung melotot seketika. "Harus yang itu?"


"Iya."


"Malam ini juga?" tanyaku lagi, harap-harap cemas.

__ADS_1


Dan duniaku seketika hancur berantakan saat kulihat kepala Jiya mengangguk antusias. "Iya, malam ini!"


__ADS_2