
Dengan langkah tergesa-gesa, terlihat seorang wanita bertubuh sintal itu menyeret koper berwarna abu-abu sedikit kecoklatan memasuki lift yang lumayan penuh.
Membuatnya berdesak-desakan dengan beberapa orang yang kini menatapnya dengan berbagai macam pemikiran. Ada yang mencemooh karena pakaiannya yang terlalu ketat, ada juga laki-laki mata keranjang yang menatap tubuhnya lapar.
Sejujurnya, bagi Gisel. Dia sudah terbiasa mendapatkan hal ini. Meskipun dia merasa sangat risih, namun karena sudah terlalu sering dan menjadi hal biasa. Gisel jadi tak mau repot-repot menanggapinya serius. Kecuali, jika salah satu dari mereka mulai kurang ajar dan berani menyentuh bagian belakang tubuhnya.
Seperti sekarang. Gisel tak menduga, cowok bertubuh tinggi yang berdiri tepat dibelakang tubuhnya akan melakukan hal memalukan begini. Mencari kesempatan, hanya untuk menyentuh permukaan luar roknya yang memang saat ini begitu ketat.
Gisel bahkan bisa merasakan remasan ringan di atas permukaan kulitnya yang membuatnya ingin segera memaki dan menampar pria berkacamata hitam itu. Kalau saja, keadaan lift ini sepi.
Ah, atau mungkin dia bisa melakukan ini nanti. Yakni, tepat saat lift baru terbuka dan orang-orang di dalam lift ini mulai berjalan keluar.
Gisel akan menahan orang itu di depan pintu, kemudian menampar pipinya seperti adegan Ibu Jiya menampar wajahnya Pak Ferdi seperti waktu itu.
Yah, pemikiran yang tepat. Siapa suruh pria berkacamata hitam itu dengan sesuka hati menyentuh tubuhnya. Meskipun Gisel tahu jika dandanan serta pakaian yang dia kenakan kadang mengundang nafsu para lelaki. Namun, Gisel sendiri bukalah cewek gampangan.
Tring.
Lift terbuka, tampak beberapa orang juga mulai keluar satu-persatu dari dalam sana. Kecuali Gisel dan pria asing yang masih meremas roknya tanpa tahu malu. Hingga karena sudah tak tahan lagi, Gisel lantas membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah pria itu. Kemudian berteriak keras di depan wajahnya.
"Anda benar-benar pria mesum! Bagaimana bisa, anda *******-***** bagian belakang rok saya ketika berada di tempat umum seperti ini? Jangan mentang-mentang karena lift ramai, Anda jadi bisa melakukan apapun seenaknya, yah!" teriak Gisel berapi-api dengan jari telunjuk yang mengarah langsung ke depan wajah pria berkacamata hitam itu.
__ADS_1
Yang masih terdiam ditempatnya dan hanya memandangi perubahan muka Gisel dari balik kacamata hitamnya.
"Permisi?" celetuk seseorang tiba-tiba, yang membuat Gisel langsung menolehkan kepalanya ke arah seorang wanita cukup berumur dengan anak kecil yang bisa diperkirakan baru berusia 2-3 tahunan di dalam gendongannya itu..
"Ya?"
"Eum, sebelumnya saya minta maaf. Sebenarnya yang menyentuh rok Anda itu anak saya. Dia memang suka sekali *******-***** rok orang akhir-akhir ini. Saya juga sering mendapat perlakuan itu saat di rumah. Dan untuk pria disebelah saya. Saya pikir anda harus berterima kasih padanya. Karena sedari tadi, beliaulah yang melindungi Anda dari tatapan mata pria-pria hidung belang dan juga membantu menghentikan aksi anak saya." Wanita berumur itu menjelaskan pada Gisel panjang lebar.
Namun bukannya meminta maaf, Gisel malah langsung pergi begitu saja meninggalkan dua orang itu yang masih melihat kepergiannya dengan tanda tanya.
"Dasar wanita aneh," ucap pria berkacamata hitam itu setengah berbisik.
Di lain sisi, Gisel yang sudah kepalang tanggung serta malu. Memilih untuk segera pergi menuju kamar hotel yang sudah disiapkan untuknya.
Kalau dipikir-pikir, Gisel benar-benar sangat malu. Saking malunya dia sendiri tak berani melihat lagi wajah pria berkacamata hitam itu, yang hanya diam saja. Saat Gisel marahi di depan ibu-ibu dan anaknya barusan.
"Haish! Bagaimana bisa aku seceroboh ini, sih? Sudah begitu aku langsung menujuk wajahnya dan berteriak kalau dia pria mesum. Huwa, aku benar-benar malu. Semoga saja kami tidak pernah bertemu lagi!" monolog Gisel setelah sampai di dalam kamar hotelnya.
Terlihat dia meletakkan kopernya di dekat ranjang, sebelum memilih untuk langsung pergi ke kamar mandi dan berendam selama beberapa jam di dalam sana.
Karena tak sengaja tertidur saat berendam. Gisel jadi keluar kamar mandi saat hari mulai menggelap.
__ADS_1
Dengan tubuh yang hanya mengenakan jubah mandi. Wanita seksi itu perlahan-lahan mendudukkan dirinya di atas kasur dan berniat untuk mengemasi barang-barangnya.
Hanya saja, saat tangan Gisel menemukan salah satu benda berwarna hitam yang kemudian dia angkat tinggi-tinggi untuk memastikannya. Wajahnya langsung berubah syok.
"Boxer?!" pekiknya keras seraya melempar benda itu ke arah pojok kamar hotelnya.
Tatapan mata Gisel berubah horor sekaligus panik bukan main. Dia juga langsung menggosok-gosokkan permukaan tangannya sendiri ke atas permukaan sprei ranjang yang kini berubah kusut.
"Gila! Gila! Sejak kapan aku punya boxer? Jelas-jelas kemarin aku membeli set lingerie lengkap dengan merek ternama yang jumlahnya sangat terbatas. Tapi kenapa hanya dalam hitungan beberapa jam sudah berubah menjadi boxer pria yang ... Arghhh! Bisa gila aku! Ayo fokus! Fokus dong Gisel. Jomblo sih jomblo, tapi jangan sampai tergoda hanya karena benda sialan itu," teriak Gisel sambil mencak-mencak tak jelas di dalam ruangannya.
Buru-buru dia mengambil gawai untuk menelpon Maya, salah satu temannya di kantor yang seorang janda beranak dua. Rencananya Gisel ingin menenangkan hati dan juga pikirannya setelah melihat boxer pria di dalam koper miliknya.
Terlebih lagi, kemarin yang membantunya berkemas adalah Maya. Jadi, Gisel ingin tahu, apa ini ulah Maya yang sengaja memberinya prank atau ada hal lain?
Cukup lama, dia menunggu dengan harap-harap cemas seraya mengigiti kuku-kuku jarinya sendiri. Berharap jika sambungan telepon yang dia hubungkan ke ponsel Maya, lekas wanita itu angkat.
Namun sampai detik ini, belum ada jawaban sama sekali. Yang membuat Gisel makin tak karuan saja.
"Apa aku cek kopernya lagi saja, yah? Siapa tahu Maya iseng." Monolog Gisel sedikit ragu.
Tapi tetap dia lakukan, untuk memastikannya. Detik itu juga, Gisel meletakkan ponselnya kembali di atas kasur. Kemudian menyeret kopernya mendekat ke arahnya sebelum dia buka selebar mungkin untuk diperiksa.
__ADS_1
Dan betapa syoknya Gisel, saat dia tau isi koper abu-abu sedikit kecoklatan itu yang hampir semuanya berisi pakaian pria. Gisel hanya bisa meringis ditempat seraya ternganga saat melihat satu box benda yang paling sering Gisel lihat jika dia pergi ke supermarket. Karena benda itu biasanya berjejeran dekat dengan tak permen karet.
"Sial, ini kan alat kontrasepsi?!" teriaknya terkejut, dengan wajah memerah bukan main.