
"Om Ferdi, bisa jelasin apa maksud pesan singkat ini?" jelas Jiya, yang sudah berdiri di ambang pintu kamar, dengan kedua tangan berkacak pinggang.
Sorot matanya terlihat begitu tajam, hingga bisa menusuk ke dalam tulangku. Selain itu, ekspresi wajahnya benar-benar serius dan tak ada guratan-guratan lelucon yang biasanya bocah rese itu tunjukan.
Fiks deh, kayaknya Jiya benar-benar marah besar sama aku. Tapi bukan Ferdi, kalau nggak bisa nanganin masalah kecil begini.
Buru-buru, kucari alasan lain yang dapat membuatnya langsung percaya.
"Paling cuma nomor asing yang gabut. Jadi, ngisengin orang, pakai spam chat gitu," jelasku, sebisa mungkin bisa dinalar oleh Jiya.
Untungnya saja, dia cuma manggut-manggut kepala. Kelihatan ngertiin aku ini. Awalnya sih begitu, sampai pas kakiku mau melangkah masuk ke dalam kamar kami. Jiya langsung mencegahnya dengan berdiri kembali ditengah-tengah pintu masuk, seraya melebarkan tangannya kesamping kanan-kiri.
"Mau kemana?" tanyanya galak.
"Mau tidur dong, Sayang. Emangnya mau apain lagi?" balasku santai.
__ADS_1
Jiya hanya terkekeh pelan, sebelum mendorong bahuku kemudian. Seolah-olah melarang aku untuk masuk kamar.
"Malam ini Om Ferdi tidur di luar! Tapi, awas aja kalau masih tepe-tepe ke cewek-cewek ganjen itu. Jiya potong si Joni sampai ke akar-akarnya," ancamnya.
Aku reflek menutupi harta karunku, secepat kilat. "Enak aja, ini harta karunku satu-satunya. Jangan lupa, dia juga masa depan kamu buat memperbanyak keturunan."
Tersenyum, Jiya langsung menutup pintu kamar kami dengan kencangnya hingga membuat bunyi dentuman cukup keras.
Untung saja, aku sudah tak lagi kaget dengan tingkah laku serta sikap Jiya yang mudah ngambek begitu. Alih-alih memohon untuk dibukakan pintu kamar, aku memutuskan untuk kembali ke pos jaga satpam yang ada di depan teras.
"Loh, Den Ferdi. Kenapa keluar lagi? Masih mau cari makanan, yah?" tanyanya, saat melihatku yang keluar menuju pos jaga satpam.
"Nggak Pak, saya udah kenyang kok. Malahan, saya ke sini mau numpang tidur."
Mata Pak Tarno, langsung melotot seketika. "Numpang tidur? Memangnya di rumah aden, nggak ada lagi kamar kosong? Terus, Non Jiya nggak marah gitu, kalau disuruh tidur sendiri?"
__ADS_1
Tersenyum tipis, aku lantas duduk di dekat Pak Tarno tanpa mendapat izinnya terlebih dahulu. "Tenang aja, Pak. Lagian saya sendiri kok, yang pengin nyobain tidur di pos satpam hehehe ..."
Nyatanya, setelah percakapan yang lumayan canggung itu. Aku tak jadi tidur, sebaliknya. Aku dan Pak Tarno malah main catur sampai begadang semalam suntuk. Sampai tak sadar, kalau tiba-tiba sudah masuk waktu subuh.
Aku yang mendengar suara adzan berkumandang, bergegas untuk kembali ke dalam rumah. Tapi sebelum itu, aku berpamitan terlebih dahulu pada Pak Tarno.
Reaksi satpamku itu hanya tersenyum lebar seraya mengucapkan beribu-ribu kata terima kasih, karena telah menemani dirinya begadang malam ini. Pak Tarno bilang, mungkin kalau tak ada aku, dia sudah tidur beberapa kali seperti waktu jaga malam sebelum-sebelumnya.
Dilain sisi, aku yang sudah sampai di depan pintu kamar. Termenung sejenak di depan pintu, saat tahu kalau pintu kamar dikunci dari dalam oleh Jiya.
Mau berteriak pun, rasanya sedikit enggan. Apalagi ini masih di rumah Momi. Jadilah, aku pergi ke dapur untuk mengambil baju Koko yang Momi kemarin jemur.
Hanya saja, waktu aku mau mengambil baju Koko itu. Mataku tak sengaja melihat selembar surat berwarna merah jambu yang tergeletak di atas tong sampah.
"Punya siapa?" monologku.
__ADS_1