
"Fer, kamu lagi ngapain berdiri di situ?" tanya Bima, salah satu kolegaku juga.
Terlihat dia menatap ke arahku dengan raut penuh tanda tanya. Saat melihat diriku yang berdiri termenung di dekat tanaman hias, janda bolong.
Tunggu, jangan bilang tadi itu hanya lamunanku saja? Semua kata yang sempat aku ucapkan, serta pelukan hangat Jiya, rupanya tidak nyata?
"Heh, malah ngelamun lagi. Itu dicariin Pak Soleh loh. Katanya ada yang mau dia omongin." Bima berujar kembali, seraya menarik pergelangan tanganku untuk ikut pergi bersamanya.
Aku yang masih tampak linglung. Buru-buru melihat ke arah bangku taman yang Jiya duduki tadi. Sayangnya, tidak ada siapapun lagi di sana. Apa mungkin, aku tadi berhalusinasi?
"Eum, Bim. Pas lo dateng ke sini, ngeliat cewek lagi duduk di bangku taman nggak?" tanyaku saking penasarannya.
Bima hanya menggeleng pelan, sebagai balasan. "Nggak. Cuma pas gue mau nyamperin lo tadi, gue nggak sengaja papasan sama Pak Ilyas dan Jiya di lobi hotel."
"Jiya? Jiya owners HappyTea?" tanyaku cepat.
Si Bima tersenyum tipis. "Kenapa lo mendadak semangat gitu, lo nggak ada rasa sama dia, kan? Dengerin gue Fer, kalaupun lo ada rasa, mending pendem aja tuh, dalam-dalam. Soalnya saingannya berat."
Mendekatkan kepalanya ke arahku lagi, Bima lantas berbisik. "Gue dengar kabar, Pak Ilyas calonnya dia."
Ilyas? Ilyas, siapa sih?
Melihat raut wajahku yang sepertinya tidak tahu menahu tentang Ilyas, Bima lantas menjelaskan.
"Hadeh, heran dah gue. Orang sepintar lo, bisa lemot juga yah, Fer. Maksud gue Ilyas Prambudi. Ituloh, CEO muda anaknya salah satu menteri BUMN. Jangan bilang lo, masih nggak kenal."
Aku langsung terdiam, ditempatku berdiri. Seolah-olah hatiku baru saja mendapat sebuah hantaman keras, hingga merasa sesak bukan main.
"Mereka tunangan?" balasku, bertanya.
Bima tampak menggaruk bagian bawah dagunya, berpikir. Lalu tak lama setelahnya dia menggelengkan kepala lagi.
__ADS_1
"Entah? Eh, tapi kalau lo penasaran kenapa nggak tanya ke orangnya langsung?" saran Bima yang membuatku menatap dingin ke arahnya.
Kemudian, memilih untuk melangkah pergi. Meninggalkan Bima yang memanggil-manggil namaku dari belakang.
***
Sepulangnya dari acara pertemuan bisnis itu, aku benar-benar kepikiran dengan omongan Bima. Merasa harap-harap cemas, kalau berita tentang Jiya dan Ilyas itu benar.
Ah, sial. Aku mendadak teringat omongan Mamah Vivi, waktu di rumah sakit. Tentang, bagaimana jika ada pihak ketiga yang masuk dalam hubungan kami?
Dan sekarang terbukti. Dasar kau Fer! Benar-benar pria payah!
Selesai mengumpati diri sendiri, aku akhirnya membuka laptop. Mencari tahu informasi tentang Ilyas Prambudi itu selengkap mungkin. Dari pendidikan, hubungan pertemanan, usaha, sampai asmara. Pokoknya kucari semua sampai dapat ke akar-akarnya.
Hingga, mataku membulat sempurna saat menemukan satu foto seorang gadis di akun sosial medianya. Meskipun fotonya hanya dari belakang, tapi aku yakin kalau itu Jiya. Terlebih lagi, caption yang tertera di statusnya. Otomatis membuatku langsung gigit jari di atas kasur.
'I'm really lucky to meet you.'
"Tidak!!!"
"Kenapa? Kenapa? Kamu lihat maling, kah?" Momi bertanya, dengan pemukul bisbol ditangan. Sudah begitu dia masih memakai masker di wajahnya, yang kini tinggal sebagian di sisi wajah.
"Nggak Mom, Ferdi cuma kaget aja ngeliat foto orang." Aku menjawab lesu, yang kemudian mendapat jeweran gratis di telinga.
"Makanya buruan susulin bini kamu! Lagian heran deh, ini udah hampir tiga tahun. Tiga tahun loh, Fer! Kalau Momi jadi Jiya udah Momi depak kamu jadi suami. Atau kalau perlu Momi cari yang lebih ganteng, tajir dan bertanggung jawab."
Aku yang mendengar perkataan Momi, makin menundukkan kepala. Bukannya enggan menjawab, namun semua perkataannya memang benar.
Lalu, tiga tahun itu bukan cuma angka ataupun tulisan. Melainkan begitu banyaknya waktu yang terbuang sia-sia, dan aku hanya berpasrah saja tanpa melakukan hal yang pasti.
Aku akui, aku menyesal sekali soal ini.
__ADS_1
"Diem? Nyesel, kan?" kata Momi dengan nada tingginya.
Terlihat sekali wanita yang melahirkanku itu sedang mengeluarkan unek-uneknya yang dia tahan selama ini.
"Umur kamu berapa sih, Fer? Inget loh, kamu bukan anak kecil lagi. Kamu itu udah kepala tiga, tapi kenapa sikapmu masih kayak anak TK?" sindir Momi makin menjadi-jadi.
"Badan aja gede, tapi nyali seciut benang. Kalau kamu nggak mulai usaha, Momi bakal hapus nama kamu dari warisan. Dan Momi nggak menerima kegagalan. Bawa Jiya pulang, atau kamu Momi cincang!"
Habis sudah Momi mengeluarkan rasa kekesalannya itu. Lalu, dengan tampang yang masih berapi-api menatap diriku. Dia berjalan keluar kamar, dengan pintu yang sengaja dibanting keras dari luar.
Aku yang masih duduk di atas kasur dengan tatapan sendu, melihat layar laptop. Hanya bisa mengembuskan napas berat seraya mengusap permukaan wajah ini kasar.
"Ayolah Fer, tunjukkan keberanianmu dan rebut Jiya dari Ilyas itu." Semangatku sendiri.
Paginya, aku berangkat kerja seperti biasa. Namun, saat langkah kakiku sampai di anak tangga terakhir. Aku sudah dihadiahi tatapan perang oleh Momi.
Begitu juga dengan Daddy. Dia yang biasanya sering menyuruhku untuk ngopi bersama sebelum pergi ke kantor, kini terlihat tak acuh.
Sudah begitu, Daddy duduk membelakangi tubuhku dengan koran yang sengaja dia buka selebar wajahnya. Terlihat sekali enggan untuk disapa.
Yang mengejutkan lagi, saat aku berniat untuk duduk sarapan. Di piringku, hanya ada tulisan dari saos sambal yang Momi buat. Tentang permintaannya, yang menyuruhku untuk membawa Jiya kembali ke rumah.
"Kamu nggak dapat jatah buat sarapan hari ini," kata Momi tanpa menolehkan kepalanya ke arahku.
"Kamu juga nggak bakal Daddy ajak ngopi sama main catur," sahut Daddy tak mau kalah.
"Dan kita bakal diemin kamu selama Jiya belum pulang juga ke rumah ini. Titik!" ancam mereka kompak, mirip anak SD yang lagi ngambek.
Aku sendiri hanya geleng-geleng kepala saja. Malas juga untuk menanggapinya. Toh, hari ini aku memang berniat untuk mulai berjuang. Apalagi setelah semalam aku melihat si Ilyas gencar mendekati Jiya.
Fiks, pokoknya aku nggak mau kalah dan kecolongan start juga.
__ADS_1
Hanya saja, semesta seperti tak berpihak padaku. Tepat setelah aku keluar mobil dan sampai di teras depan perusahaan. Mataku tak sengaja menangkap kedua sosok itu yang tengah bersenda gurau bersama di jalan. Persis pasangan selebriti yang sering kulihat-lihat di televisi, saat Momi menonton berita gosip.
Sudah begitu, Jiya tampak bahagia di samping Ilyas yang terlihat tengah tersenyum lebar sembari menggenggam erat tangan kanannya.