Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Dia Memang Parasit!


__ADS_3

Orang-orang berpakaian hitam itu membawaku menuju sebuah lorong yang kanan-kirinya hanya ada dinding-dinding mengelupas, termakan usia. Dengan lantai dasar yang telah remuk, memperlihatkan kepingan-kepingan keramik yang berserakan di atasnya.


Kulihat, beberapa tumbuhan liar juga tampak memenuhi tempat ini. Bahkan ada juga bunga putri malu yang tumbuh subur di sudut ruangan.


Namun, bukan ini yang aku cari. Meskipun sedari tadi aku diam saja, tapi aku tetap memasang kewaspadaan serta mengamati gerak-gerik mereka semua.


Selain itu, aku juga berusaha untuk melirik beberapa kali ke kanan-kiri. Mencari-cari dimana Papi berada.


Sayangnya nihil, sosok Papi dan juga Om Lukman belum juga muncul. Yang ada, aku malah tak tahu akan dibawa kemana. Orang-orang berpakaian hitam itu masih berjalan menuntunku ke tempat yang terasa makin suram.


Lalu, tak lama setelah itu. Langkah mereka semua tetiba terhenti saat sudah sampai di depan sebuah pintu kayu bercat cokelat dengan noda dari pilox.


Mereka tak mengatakan apapun, selain menyuruhku untuk memasuki tempat itu dengan dagu.


Tak buang waktu lama, aku pun mengikuti arahan mereka. Membuka pintu tua itu, lalu masuk ke dalam ruangan tanpa beban.


Kriettt ...


Pintu tua itu tiba-tiba tertutup dengan bunyi yang cukup memekakkan telinga. Membuatku mengernyit tanpa sadar, saat mendengar suaranya.


"Ferdi, kenapa kamu ada d sini?!" teriak Papi yang kulihat tengah terikat di atas kursi. Tepat di tengah-tengah ruangan itu.


Aku yang melihat mertuaku dalam keadaan yang memprihatinkan begitu, langsung menghampirinya tanpa babibu lagi.


Sedikit berjongkok di depannya, seraya melepaskan ikatan itu dengan cekatan. Tapi, Papi malah menyuruhku untuk segera pergi, membuatku merasa heran.


"Harusnya kamu nggak kemari. Ini jebakan!" teriak Papi dengan mata berkaca-kaca sekarang.


Jujur, aku yang melihat bulir-bulir dipelupuk mata pria tua itu jadi tidak tega. Apalagi, aku tahu, kalau Papi orang yang sangat ceria. Jadi, saat melihatnya menatap diriku sendu begitu, aku merasa ikutan sedih juga.


"Fer, harusnya kamu nggak nekat!" teriaknya lagi. Namun pura-pura tak kudengarkan. Sebaliknya, aku malah sibuk melepaskan satu-persatu tali yang melilit tubuh mertuaku itu. Hingga lepas semuanya.


"Papi bisa jalan?" tanyaku dengan kepala sedikit terdongak, melihat dirinya.

__ADS_1


Kulihat, Papi langsung mengangguk.


"Kalau begitu, Papi bawa kunci ini terus secepatnya pergi. Satu lagi, Ferdi harap Papi bisa keluar tanpa ketahuan sama penjaga di depan pintu. Dan kalau Papi berhasil kabur, tolong jangan kasih tahu Jiya dulu," jelasku yang langsung dipotong Papi cepat.


"Maksudmu apa, ngomong begitu?"


Kuembuskan napas berat sesaat, sebelum menjawab pertanyaan dari mertuaku. "Nggak ada waktu lagi, jadi dengerin aja kata Ferdi tadi."


Setelah mengatakan itu, segera kudorong tubuh Papi untuk keluar lewat jendela yang kebetulan memiliki celah cukup besar untuk keluar.


Meskipun merasa was-was, tapi aku yakin sekali cara ini akan berhasil. Yah, setidaknya aku harus mengeluarkan Papi dari tempat ini dulu. Urusan keselamataku sendiri? Bisa kupikirkan nanti.


Sepeninggalnya Papi, ruangan kembali sepi senyap. Tak ada suara apapun selain nyanyian jangkrik yang terdengar sesekali.


Aku yang masih di sana seorang diri, sesegera mungkin membuat strategi. Terlebih lagi, aku ingat ada beberapa orang yang harus kulawan sebelum bertemu dengan Om Lukman.


Ah, sial! Beraninya dia main keroyokan kayak hujan. Katanya pria sejati, kenapa nggak langsung adu jotos saja sama aku?


Fiks, dia pasti takut kalah telak dari ponakannya yang kece badai ini.


"Hai, Fer!" sapanya dengan tampang arogan yang ingin sekali kujejali acar kondangan.


Belum lagi, tampangnya yang sok tampan itu. Membuatku ingin juga menenggelamkan wajahnya ke dalam kubangan lumpur saat ini juga.


Hanya saja, aku cuma bisa mengumpat dalam hati. Saat melihat Om Lukman yang perlahan-lahan mulai berjalan menghampiri diriku ini.


"Kupikir, ponakan kesayanganku ini nggak bakalan dateng. Ternyata kamu lebih nekat dari yang kuduga yah, Fer." Om Lukman berkata dengan senyuman tipis yang tersungging dibibir. Dan menatap ke arahku menusuk.


Huh, bisa-bisanya, Daddy punya adik dakjal macam dia. Benar-benar deh, benalu berkedok rubah. Sudah begitu, beban keluarga lagi. Mungkin, kalau aku jadi Kakek, akan kucoret nama Lukman Salim dari KK supaya tak dapat warisan sepeserpun.


"Siapa bilang Ferdi nekat? Orang Ferdi gentle kok, nggak kayak salah satu anak Kakek yang beban dan nggak tahu diri." Aku berucap dengan ekspresi wajah datar bukan main.


Yang langsung mendapat sambutan hangat dari reaksi tak suka diwajah si parasit itu.

__ADS_1


"Kamu nyindir, aku?" tanya Om Lukman seketika.


Raut wajahnya yang tadi dipenuhi binar karena merasa menang dariku, maybe. Seketika berubah menjadi tajam dan menusuk. Seolah-olah ingin segera menelanku bulat-bulat saat itu juga.


"Nggak juga, tapi kalau Om Lukman ngerasa. Berati secara nggak langsung Om mengiyakan perkataan Ferdi, kalau Om itu beban keluarga." Lagi, aku sengaja mengompori si parasit itu agar, amarahnya segera meluap.


Dan seperti apa yang telah aku duga sebelumnya. Om Lukman benar-benar langsung emosi. Kulihat, dia bahkan melempar pemukul bisbol yang tadinya dia pegang, ke arahku dengan kecepatan tak main-main.


"Kamu nantangin? Kamu pikir, aku nggak berani, huh?" katanya mulai dikuasai amarah.


Aku yang melihatnya langsung menyunggingkan senyuman tipis dibibir. Karena berhasil mengompori parasit itu.


Namun, bukan Om Lukman namanya kalau tak memerlukan bantuan. Detik itu juga, kulihat dia berteriak keras dan menyuruh orang-orang berpakaian hitam yang tadinya berjaga di depan pintu, untuk masuk ke dalam ruangan dan menghajarku.


Aku sendiri yang telah menduga hal-hal seperti ini. Langsung bersiap-siap saja, menerima serangan yang tak lama lagi mereka berikan.


Awalnya, aku merasa kesulitan untuk menghadapi mereka semua. Terlebih lagi, sudah bertahun-tahun lamanya aku tak melatih refleks-ku dengan bagus, seperti dulu.


Meski begitu, aku tak kehilangan akal. Aku masih bisa menghindari satu-persatu pukulan dari mereka, sekaligus membalasnya dengan Dwi Chagi secepat mungkin.


Mereka yang tak menduga akan mendapat serangan balik dariku, cukup kewalahan. Beberapa juga terlihat tumbang karena langsung kuserang tepat dititik vital.


Om Lukman sendiri, yang melihatku berhasil meratakan satu-persatu anak buahnya, mulai kelimpungan. Saking paniknya, kulihat dia menyuruh beberapa anak buahnya yang masih tersisa untuk menargetkan kakiku, supaya tidak dapat lagi menyerang.


Tapi, apa aku akan diam saja? Tentu saja, jawabannya tidak.


Tiap-tiap orang yang berani dan hampir menyentuh ujung kakiku, langsung kuberi Jab, hingga tak lagi berkutik. Tak ayal, banyak sekali anak buah Om Lukman yang mukanya bonyok dan mimisan, lantas terbaring tak sadarkan diri di atas tanah.


Note :


Dwi Chagi : tendangan ke arah belakang. (teknik taekwondo)


Jab : pukulan lurus dan cepat, mengarah tepat ke wajah lawan. (teknik tinju)

__ADS_1


Kalau salah, bisa koreksi yah:)


__ADS_2