Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Muak


__ADS_3

Aku merasa semuanya menjadi semakin rumit. Dan tentu saja, itu semua bermula dari kesalahan yang aku perbuat sendiri. Ingin mengeluh, tapi aku tak bisa menyalahkan siapapun selain diriku sendiri.


Huft, mungkin ini karma. Karena telah menyia-nyiakan orang yang paling tulus padaku, seperti Jiya.


"Hahaha ..." Aku tertawa getir.


Menertawakan diriku sendiri yang tampak bodoh sekarang ini. Sekilas melihat ke arah Jiya dan Ilyas yang begitu serasi. Masih berdiri berhadapan di seberang jalan.


Pantaskah aku marah? Atau berteriak bila aku sangat cemburu menyaksikan kedekatan mereka berdua?


Namun saat aku mengingat sikapku kembali. Aku menjadi merasa sangat malu. Serta menganggap diriku ini sebagai seorang pengecut. Dan ada sisi lain diriku yang mengatakan jika aku sudah tak pantas lagi untuk berdiri disamping Jiya.


Tak mau melihat kedekatan mereka terlalu lama. Aku memilih untuk segera masuk ke dalam kantor. Berniat untuk menenangkan pikiranku sendiri di dalam ruanganku.


Aaron yang melihatku berjalan dengan langkah terburu, berusaha untuk mengejar. Bahkan sampai setengah berlari, sampai menahan pintu liftku yang hampir tertutup.


"Tunggu, Fer!"


"Apa?" Aku menyahut dingin. Kentara sekali sedang menahan amarah.


Sesaat Aaron tampak menggaruk bagian belakang kepalanya. Kemudian menatap diriku dengan hati-hati.


"Ntar malem gue 'kan aniv, nih. Jangan lupa datang yah, soalnya Mila yang nyuruh gue buat ngundang semua orang."


"Harus banget?" balasku masih tak acuh. Aaron malah terkekeh pelan.


"Iya dong, masa acara sohib sendiri lo nggak dateng. Waktu nikahan gue juga, lo absen. Jadi buat acara nanti malam, lo wajib ikut. Gue tunggu."


Segera kubalas ucapan Aaron barusan dengan anggukan kecil. Membuat mantan player itu langsung tersenyum lebar, serta memekik senang.


"Lo emang sohib terbaik gue."

__ADS_1


Malamnya aku benar-benar datang ke acara aniversary Aaron dan Mila. Meskipun Aaron bilang, dia hanya mengundang beberapa orang saja. Tapi, kolam renang di tepi pantai yang mereka sewa untuk acara sudah dipenuhi banyak tamu-tamu undangan.


Dan kebanyakan hanya memakai pakaian santai, dan juga baju pantai.


Kedatanganku di sana cukup disambut dengan antusias orang-orang. Namun hanya beberapa detik saja, karena setelah itu semua mata orang terfokus ke arah satu sosok yang baru saja muncul.


Yakni pada seorang wanita berambut cokelat sebahu, yang begitu cantik dengan dress merah selutut. Dengan bagian bahu dibiarkan terbuka, hingga mengekspos sedikit bagian leher jenjangnya yang mulus.


Warna lipstiknya yang senada dengan bajunya, serta sangat kontras. Membuat beberapa orang pria terlihat susah payah menelan ludahnya sendiri. Sudah begitu, kedua pupil matanya yang berwarna cokelat terang, terasa begitu memikat siapapun yang melihatnya.


Perlahan-lahan, dia mulai berjalan mendekat ke arahku. Semakin dekat, hingga rasanya aku tak bisa lagi mengontrol suara degup jantungku yang mulai tak menentu.


Hanya saja, saat jarak kami tinggal beberapa jengkal. Dia melengos begitu saja dengan angkuhnya. Melewati diriku yang masih berdiri, dengan perasaan campur aduk.


"Jiya!" Itu suara Mila.


Dia terlihat antusias dan langsung berlari menghambur ke dalam pelukan wanita berdress merah itu. Membuat Aaron yang langsung sadar akan semuanya, beralih menatap diriku sebentar.


"Gue seneng banget lo bisa hadir di sini. Oh iya, lo dateng sama siapa? Sendirian atau berdua sama pacar lo?" tanya Mila yang sangat jelas sekali kudengar dari sini.


"Bukannya lo sama Ilyas ada hubungan? Kenapa nggak dateng sama dia?" Mila bertanya lagi. Yang membuatku mulai panas-dingin di sini.


"Kita rekan aja kok. Lagian, Ilyas cuma nganggep gue adek."


Kulihat Mila menoel pipi Jiya pelan. "Cie ... Adek-Kakak. Awas ntar lama-lama ada rasa loh, lagian lo itu cocok sama dia. Kenapa nggak langsung ke pelaminan aja."


Aku yang mendengar itu, tanpa sadar tersedak jus jeruk yang baru kuteguk. Yang kontan saja, membuat orang-orang mulai melihat ke arahku. Tak terkecuali Jiya dan Mila.


"Pelan-pelan dong Fer, minumannya masih banyak kok." Mila membantuku dengan menepuk-nepuk permukaan punggungku beberapa kali. Sampai di rasa aku sudah tak batuk dan merasa sesak lagi.


"Atau jangan-jangan, lo terpesona ngeliat temen gue? Jiya, sini!" panggil Mila, menyuruh Jiya untuk datang ke arahku.

__ADS_1


"Lo harus pake banget kenalan sama Ferdi. Selain ganteng, dia juga baik dan tajir loh. Pokoknya, suami idaman banget," jelas Mila.


Jiya tampak tertawa sinis menanggapinya. "Oh, iya? Kok gue nggak yakin? Tapi, berhubung karena Mila yang nyuruh, jadi kita harus memperkenalkan diri masing-masing, kan?"


Tak lama setelah itu, Jiya lantas menyodorkan tangan kanannya ke arahku. Seolah mengajakku untuk berjabat tangan, seraya memperkenalkan dirinya kembali.


Aku sendiri membalas uluran tangan itu dengan senyuman tipis dibibir. Yang lama-kelamaan berubah menjadi raut wajah menahan rasa sakit, saat permukaan tangan kananku diremas oleh Jiya sekuat tenaga.


"Jiya," ujarnya dengan senyuman lebar dibibir.


Berbeda denganku yang tampak berusaha ikut tersenyum manis, meskipun tengah menahan suara ringisanku.


"Ferdi."


"Aw, manis banget. Nggak salah gue undang kalian berdua buat dateng ke acara ini." Mila berkata seraya menangkup wajahnya sendiri gemas. Kemudian terlihat berlari menghampiri Aaron yang sedang menyambut tamu lain.


Meninggalkan diriku dan Jiya, yang kini hanya berdiri diam dengan pikiran masing-masing selama beberapa menit.


"Apa kabar?" tanyaku akhirnya memulai percakapan.


Kulihat Jiya tampak mendecih pelan, sebelum menolehkan kepalanya ke arahku dengan senyuman tipis yang tersungging dibibirnya itu.


"Seperti yang Anda lihat, saya cukup baik dan masih sanggup untuk menghidupi kebutuhan saya sendiri."


Aku yang mendengar jawabannya itu, cukup merasa kecewa. Apalagi, Jiya tak lagi memanggilku dengan tambahan 'Om' seperti dulu. Malahan, dia memakai bahasa formal, layaknya seseorang yang tengah berbicara dengan klien bisnisnya sendiri.


"Ji!" panggilku pada akhirnya.


Dengan mata yang menatap sosoknya lekat, dengan penuh penyesalan.


"Apa?" balas Jiya cuek.

__ADS_1


Aku seperti melihat sosok lain pada dirinya sekarang ini. Dan itu, karenaku. Aku yang membuat sosok Jiya yang ceria dulu lenyap dalam sekejap mata. Tergantikan dengan sosok wanita yang begitu dingin serta tak tersentuh ini.


"Mau bilang maaf?" lanjutnya seolah-olah bisa membaca isi pikiranku. "Dengar yah, Pak Ferdian Juni yang terhormat. Meskipun kejadian itu sudah lama sekali berlalu, tapi bagi saja itu sebuah peristiwa yang baru saja terjadi kemarin. Jadi, tolong jangan ungkit luka lama yang ingin sekali saya kubur rapat-rapat, termasuk semua kenangan tentang kita. Saya pikir, semua itu sudah selesai semenjak hari di mana Bapak memilih untuk pergi. Jadi, saya mohon jauhi saya mulai detik ini. Karena saya begitu muak dengan Anda."


__ADS_2