
"Surat siapa?" kataku, bermonolog.
Segera kuraih benda itu, untuk memeriksanya. Rupanya, itu surat dari Amira. Yang tempo hari mengirimi buket bunga.
Ah, pantas saja. Dua hari yang lalu, aku melihat ada kiriman bunga mawar untuk Momi, rupanya itu dari si mantan toh.
Tak ambil pusing, aku lantas membuang kembali surat itu ke tempatnya. Sekaligus, membuang buket mawar yang masih tak tersentuh di atas meja.
Tenang saja, Momi nggak bakal marah kalau kubuang buket bunga itu. Lagian, Momi haters nomor satunya Amira, setelah dia tahu kalau si mantan sebelas dua belas kayak Om Lukman.
Mungkin, Momi bakal bersyukur dan ngucapin terima kasih ke aku hehe ...
Asik dengan kegiatanku yang sempat mikirin mantan, aku nggak sadar kalau sudah ada sosok Jiya yang berdiri menatapku tajam dengan tangan bersedekap di dekat rak piring.
"Kamu, udah lama di situ?" tanyaku mencoba mencairkan suasana, sekaligus penasaran.
Jiya sendiri masih saja diam dan terus menyorotiku dengan tajam.
"Mungkin, ngomong-ngomong Om Ferdi abis ngapain?" tanya balik bocah rese itu yang kini mulai berjalan mendekat ke arahku.
Lalu, berhenti dengan tatapan semakin tajam saat matanya tak sengaja melihat sebuket bunga berserta suratnya di dalam tong sampah.
"Tadi malam WhatsApp, sekarang bunga. Bisa nggak sih, Om Ferdi nggak tebar-tebar pesona?" kata Jiya kesal.
Itu terlihat dari dadanya yang naik-turun dengan wajah semerah tomat. Selain itu, hidungnya juga kembang-kempis dari tadi, karena menahan emosi.
"Jiya itu cemburu dan nggak suka kalau ada cewek yang ganjen sama Om Ferdi. Jadi tolonglah, kerja samanya! Lagian istri lagi hamil muda, malah asyik main mata sama cewek lain. Apa perlu Jiya jagain Om Ferdi selama di kantor, huh?" katanya marah, aku cuma mengerjapkan mata.
Uluh-uluh, posesifnya biniku. Apa mungkin efek debay di dalam perut, yah?
__ADS_1
Ngomong-ngomong, aku lupa kalau ini udah hampir dua bulan Jiya mengandung. Malah mau bulan ketiga. Untungnya, aku udah nggak secaos dulu waktu awal-awal kena sindrome couvade.
Cuma, Jiya yang akhir-akhir ini lebih sensitif dan suka marah-marah nggak jelas. Sudah begitu dia manja banget, lebih manja dari pada anak kucing yang suka ngelendotin majikannya.
Hadeh, untung sayang.
"Om Ferdi iih, kebiasaan deh. Kalau diajak ngomong pasti ngelamun!" semprotnya lagi.
Yang kali ini langsung kutarik paksa untuk mendekat ke arahku. Kemudian kupeluk erat-erat tubuhnya itu.
Sedangkan Jiya, karena masih kesal. Bocah rese itu jadi berontak dan meminta dilepaskan. Tapi, aku yang udah Pe-We dalam posisi ini mana mau?
Akhirnya kupakai cara terakhir. Yakni dengan mengelus-elus sayang puncak kepalanya sambil membisikkan kata-kata manis, yang ampuh membuat Jiya luluh lagi.
"Jangan marah-marah gitu dong, nanti Dede bayinya nggak bisa bobo tenang. Terus muka kamu nanti cepat keriputan kayak nenek-nenek, mau?" ujarku yang membuat Jiya lantas mendongak kepalanya. Membuat pandangan kami langsung bertemu.
"Iyakah? Orang Jiya juga masih muda, mana mungkin cepat keriputan." Matanya bocah rese itu tiba-tiba menyipit, saat melihat ke arahku.
Aku mendelik. Kemudian mulai menyerangnya dengan jurus seribu kelitikan, yang pada akhirnya membuat Jiya lemas karena terlalu banyak tertawa.
Setelah keusilan kami pagi tadi, tepat pukul 08.00 pagi aku pun berpamitan pada si bocah rese itu untuk pergi ke kantor.
Yang mulanya dapat penolakan keras dari Jiya, karena takut aku bakal digoda karyawan-karyawan cewek ganjen di kantor. Terutama Tante Lemper.
Nggak kusangka, dia masih manggil Gisel dengan sebutan itu sampai detik ini. Bahkan Jiya, melabeli sekertarisku itu sebagai musuh nomer satunya. Kira-kira gimana reaksi Gisel kalau dia tahu dapat panggilan sayang begitu, yah?
"Pagi, Fer!" sapa Aaron yang akhir-akhir ini benar-benar sekali tampak perubahannya.
Ternyata benar yah, kata orang. Kalau cowok udah ketemu sama pawang yang tepat, pasti bakal lebih good lagi. Salah satunya, player di depan mataku ini. Aaron benar-benar sudah berubah semenjak dekat dan bertunangan dengan Mila.
__ADS_1
Sayangnya, waktu acara itu. Aku dan Jiya nggak bisa datang karena ada something. Selain itu, nggak mungkin juga aku bilang ke sahabat karibku itu, kalau cutiku kemarin gara-gara kena sindrome couvade.
Bisa-bisa diketawain Aaron ngakak aku, tuh.
"Pagi juga, Ron. Cie yang gayanya makin necis sama mlipis aja kayak jalan Pantura," balasku iseng.
Si Aaron langsung haha-hihi aja kayak nggak punya doa.
"Iya nich, kan pawang gue make up artis sekaligus desainer baju. Masa sih, gue nggak fashionable jadi cowoknya. Ntar malah, malu-maluin Mila," kata Aaron bangga.
"Oh sekarang udah diakuin. Padahal kemarin-kemarin ogahan sama Mila."
"Sialan lo, Fer!" teriak Aaron, tapi masih ketawa-ketawa.
Yah, simpelnya sih gitu-gitu aja percakapan cowok. Buat sekedar basa-basi ringan. Canda.
Lumayan lama ngobrol sama Aaron soal acara tunangannya kemarin. Tiba-tiba si mantan player ini nyeletuk.
"Katanya lo udah ada bini, yah? Kok gue nggak pernah tahu. Asli gue penasaran, dah. Cewek kayak apa sih yang bisa naklukin cowok modelan kayak lo, Fer?" tanyanya mirip emak-emak kompleks yang suka ngerumpi pas lagi belanja sayur.
Aku yang mendengar itu cuma tersenyum tipis. Lantas menolehkan kepala sedikit ke Aaron yang masih sibuk mengaduk kopi hitamnya.
"Yang pasti punya iner beauty dan manis. Pokoknya, kalau lo liat, gue khawatir jiwa-jiwa player lo itu kumat," terangku.
Alis Aaron tampak mengernyit. "Kenapa manis? Kok lo nggak cari yang seksi sama cantik kayak Gisel, Fer?"
Mengembuskan napas sesaat, aku lantas berujar lagi. "Dengar yah, Ron. Cewek cantik itu relatif. Lagian kalau cuma kecantikan muka itu bisa pudar kapan aja. Beda sama kecantikan hati. Selain itu, kenapa gue milih yang manis? Karena manis itu nggak ngebosenin. Kayak pas diliat lama-lama ada sesuatu yang nambah aja. Jadi makin enak dipandang. Terus soal seksi, kayaknya gue nggak perlu, deh. Yang penting bisa buat kita nyaman pas dekat sama dia."
Aaron yang mendengar penjelasanku itu, langsung manggut-manggut. "Benar juga yah, meskipun gue udah lama jadi player. Gini-gini gue juga pengin dapat jodoh yang baik, loh. Kayak, cewek nakal buat mainan aja. Terus cewek baik yang gue lamar."
__ADS_1
"Brengsek banget, lo!" makiku sambil menjitak ujung kepala Aaron. Yang membuat sahabat karibku itu meringis, kesakitan.
"Cewek itu bukan buat mainan. Tapi, buat dijaga sama dilindungi, sekali lagi gue denger lo ngomong begitu, abis lo dapat bogem mentah dari gue," ancamku yang membuat nyali Aaron menciut seketika.