
"Maaf, Pak. Saya tadi nggak bermaksud begitu. Cuma, karena kepepet dan ngelag. Saya jadi asal ceplos aja," jelas Gisel, dengan kepala yang menunduk.
"Tapi nggak harus bilang gay juga, kalau orang lain mikir saya beneran pelangi bisa berabe," balasku kesal.
Gisel makin menundukkan kepalanya. Tak berani untuk melihat ke arahku yang kini menatap dirinya berapi-api.
"Acara mulai berapa menit lagi?" tanyaku mengalihkan topik.
Toh, tak akan ada untungnya bagiku kalau terus berdebat. Malahan, aku bisa terlambat hadir ke pertemuan nanti.
"10 menit lagi, Pak." Gisel masih menjawab dengan suara yang sedikit bergetar.
Alih-alih menjawab, aku langsung berjalan pergi, menuju ke tempat pertemuan. Meninggalkan Gisel yang masih saja terdiam dengan kepala yang tertunduk menatap ujung sepatu pantofelnya.
"Mau sampai kapan kamu nunduk? Buruan jalan, nanti kita telat," teriakku yang baru berjalan beberapa langkah.
Gisel yang mendengar suara teriakanku barusan, segera mendongkkan kepalanya. Kemudian, mulai berlari agar tak ketinggalan.
Sesampainya di tempat acara. Rupanya sudah banyak sekali orang berkumpul. Hanya saja, mereka sudah duduk ditempat yang sudah disiapkan oleh pihak penyelenggara, sesuai dengan nama yang tertera di tempat duduk masing-masing.
Tempat duduknya juga dikelompokkan menjadi beberapa meja, yang diisi dengan empat sampai lima buah kursi melingkar.
Entah kebetulan atau tidak, aku kembali dipertemukan dengan wanita yang terakhir kali kutemui di lift. Parahnya lagi, dia duduk disebelah kursiku.
Beberapa orang kolega yang sudah mengenalku dan duduk di meja yang sama pula. Mulai menyapa satu-persatu kehadiranku. Mereka mengajak untuk berjabat tangan atau sekadar berpelukan kecil sebentar.
Hingga, saat giliran wanita itu tiba. Dia terlihat menatap mataku dengan sorot mata yang begitu tajam. Sembari terkekeh pelan.
"Oh, jadi ini yang namanya Ferdian Juni itu? Direktur arogan yang belakangan ini jadi incaran para wanita? CK, menurutku tampangnya biasa saja," ujarnya dengan tatapan mata menusuk.
Seolah-olah ada beribu-ribu kebencian yang dia sembunyikan dari balik pandangan matanya itu.
__ADS_1
"Anda!" teriak Gisel yang langsung kuhentikan dengan mengangkat sebelah tangan ke atas.
"Kenapa bapak menghentikan saya, wanita itu benar-benar tak punya sopan santun, dan saya tidak bisa tinggal diam," lanjut Gisel berapi-api.
"Cukup Gisel, ingat kalau ini tempat pertemuan." Aku berkata yang membuat Gisel kesal pada akhirnya. Kemudian memilih untuk pergi dan duduk di meja lain.
Orang-orang yang melihat pertengkaran kami, hanya tersenyum canggung. Sebelum akhirnya memulai pembicaraan dengan topik baru.
Dua menit kemudian, acara pertemuan itu dimulai. Yah, seperti pada acara-acara lain pada umumnya. Yang kebanyakan diisi dengan motivasi. Namun, disesi pertengahan. Pembawa acara meminta kami untuk memperkenalkan diri kepada semua orang di dalam ruangan itu.
Hal itu cukup disambut dengan antusias, apalagi ada beberapa perusahaan newbie yang baru merintis dan belum dikenal oleh orang banyak maupun perusahaan lain.
Namun, aku dibuat tertegun saat mendengar satu nama yang tak asing lagi ditelinga. Yang kontan membuatku langsung menolehkan kepala, hanya untuk melihat sosoknya yang sudah lama sekali kurindukan.
"Halo semua, perkenalkan saya Jiyaning Admaja. Owner baru perusahaan minuman HappyTea yang sekarang sedang nge-hits dikalangan anak muda. Jika ada hal lain yang ingin ditanyakan, saya persilakan."
Aku tidak menyangka, wanita yang duduk disebelah kursiku dan kutemui di lift tadi adalah Jiya. Sudah begitu, dia benar-benar berubah menjadi sosok wanita dewasa yang lebih tegas dan penuh kharisma.
Kulihat beberapa orang, khususnya para pengusaha muda yang rata-rata seorang pria. Mulai melontarkan pertanyaan pribadi padanya. Dari hubungan asmara, sampai ke hal-hal yang paling Jiya suka. Yang tanpa sadar membuat tangan kananku mengepal kuat. Apalagi, saat kulihat Jiya begitu santai menanggapi pertanyaan mereka.
"Eum, saya pikir kurang etis untuk membahas urusan pribadi di sini. Lagi pula ini acara yang digelar untuk membahas bisnis, bukan kehidupan pribadi orang lain. Jadi, saya harap untuk bertanya mengenai bisnis dan usaha saja. Tapi jika kalian masih penasaran, saya hanya ingin memberi tahu kalau saya sudah memiliki seorang kekasih. Dia pria yang baik dan juga sangat bertanggung jawab, tidak seperti pria kebanyakan," jelasnya seraya menatap sinis ke arahku.
Tunggu, apa yang Jiya maksud tidak seperti pria kebanyakan itu aku? Dia sedang menyindirku?
"Pak Ferdi?"
"Pak?!"
"Yah?"
Aku menyahut terburu, karena tak sadar melamun saat makan malam. Padahal, acara sudah berakhir sepuluh menit yang lalu. Tapi, kata-kata Jiya tadi masih saja membekas dipikiran dan benakku.
__ADS_1
"Saya lihat, bapak sering melamun setelah acara pertemuan tadi. Apa ada sesuatu yang Pak Ferdi belum tanyakan, jadi kepikiran begitu?" tanya Pak Soleh, salah satu kolegaku yang sampai detik ini masih menjalin komunikasi dengan baik.
"Atau karena pertengkaran dengan sekretaris bapak? Saya pikir, Bu Gisel itu kekasih bapak, loh. Soalnya kalian cocok," ujarnya yang membuatku tersedak air putih.
"Uhukkk!"
"Uhukkk!"
"Uhukkk, uhukkk!"
"Duh, pelan-pelan dong Pak. Saya kan cuma bercanda, atau apa kalian memang punya hubungan khusus?" lanjut Pak Soleh yang kemudian mendapat plototan gratis dariku.
"Kita cuma rekan, Pak. Lagian saya sudah punya istri."
Wajah Pak Soleh tampak terkejut."Punya istri? Bukannya Pak Ferdi masih lajang?!"
Astaga, bisa-bisanya aku keceplosan disaat yang tidak tepat. Sudah begitu dengan status hubunganku dengan Jiya yang sekarang tidak jelas. Aku juga tidak tahu, apa dia masih menganggapku sebagai suaminya, meskipun aku masih sering memberi nafkah lewat perantara Mamah Vivi? Tapi, dengan sikapnya yang dingin padaku, bukankah itu sudah jelas?
"Pak Ferdi serius sudah punya istri? Kenapa saya tidak tahu soal ini?" tanyanya lagi, menuntut.
Aku cukup kelabakan. Bingung mau menjawab apa. Namun, kehadiran Jiya yang tiba-tiba diantara aku dan Pak Soleh, cukup membuat pria itu melupakan pertanyaannya barusan.
"Dek Jiya, sini!" panggil Pak Soleh, saat melihat Jiya yang tengah kesusahan mencari kursi kosong untuk makan.
Kulihat Jiya mulai berjalan mendekat ke arah kami. Kemudian, berhenti tepat di samping meja, sebelah kanannya Pak Soleh.
"Iya, Pak?" tanyanya. Terlihat belum ngeh, dengan maksud dari panggilan Pak Soleh barusan.
"Kamu lagi cari tempat duduk, kan? Kebetulan disebelahnya Ferdi masih kosong. Jadi duduk aja di situ, dari pada kamu bingung mau nyari tempat lagi."
Aku yang mendengar usulan kolegaku itu seketika mendongakkan wajah. Merasa tak berselera lagi dengan potongan paha ayam yang hampir kusendok tadi.
__ADS_1
Sedangkan Jiya sendiri, dia melihat sekilas ke arahku masih dengan tampang penuh kebenciannya itu.