
Sesuai dengan pesan yang Jiya kirimkan tentang waktu pertemuan kami di Dufan. Aku pun mulai berangkat dari penthouse ke taman bermain itu sebelum pukul setengah tujuh sore.
Menaiki mobil dengan kecepatan sedang, sembari menikmati pemandangan lalu lintas Kota Jakarta di sore hari.
Jujur, ada rasa senang sekaligus gugup yang meliputi hatiku. Bahkan sebelum pergi tadi aku sempat kebingungan untuk memilih baju, apa yang akan aku gunakan untuk bertemu bocah rese itu hari ini.
Bisa dibilang, ini mirip seperti kencan pertama. Dan membuatku tak berhenti merasakan degup jantung yang tak menentu.
Kuharap, Jiya juga begitu.
Tepat pukul setengah tujuh kurang lima belas menit, aku telah tiba di Dufan. Seperti biasa memarkirkan mobil ke tempat yang telah disediakan, sebelum pergi mencari Jiya ditempat janjian kami.
Suasana taman bermain di malam hari, sekaligus banyak diterangi lampu taman serta hias. Membuatku merasakan sebuah pengalaman baru. Terlebih, mungkin ini pertama kalinya aku menginjakan kaki di Dufan setelah dewasa.
Tak berselang lama setelah aku masuk ke area tempat bermain, aku pun melihat sosok Jiya yang tengah berdiri di depan kereta kuda melingkar.
Dia berdiri seorang diri di sana dengan kepala menunduk, memerhatikan layar ponselnya. Namun, bukan itu yang membuatku menyoroti dirinya.
Lebih tepatnya kepada switer hitam dengan dress berwarna biru laut yang dia kenakan. Sekaligus sepatu kets berwarna putih. Itu terlihat persis seperti yang aku pakai saat ini juga. Padahal kami tak saling membuat janji, mengenai pakaian yang kami kenakan ini.
Namun, mengapa bisa sama persis. Apa ini masih bisa disebut kebetulan?
Sejenak aku mematung ditempatku berdiri. Dengan pandangan mata yang tak bisa kualihkan barang sedikitpun dari sosok Jiya yang kini mulai mendongakkan kepalanya, lantas tak sengaja melihat ke arahku. Membuat kedua pandangan mata kami bertemu.
Hingga dua detik kemudian, masing-masing dari kami langsung mengakhiri kontak mata yang sangat intens itu. Buru-buru mengalihkan pandangan kami ke arah lain masing-masing, dengan semburat rona merah yang tiba-tiba muncul dipipi.
"Udah lama? Sorry, tadi kena macet." Aku berterus terang, yang kemudian mendapat balasan anggukan kepala dari Jiya.
"Nggak kok, saya juga baru saja tiba."
__ADS_1
"Lalu, alasan anda mengajak bertemu untuk apa? Apa mungkin ada suatu alasan yang ingin Anda sampaikan, mengenai hal kemarin malam?" tanyaku sedikit formal.
Kulihat Jiya tampak menelan ludahnya susah, saat diberi pertanyaan begitu olehku.
"Saya pikir, ada sesuatu yang harus saya pastikan untuk terakhir kali tentang Anda." Jiya membalas serius.
"Sesuatu apa?" Aku balik bertanya, seraya mendekat ke arahnya.
"Soal cip yang anda kemarin berikan. Saya sudah menonton semua isinya semalam. Dan yah ..." Jiya mendadak menggaruk bagian belakang tengkuknya salah tingkah. Lantas kembali melihat ke arahku dengan rona merah dipipi yang makin menjadi-jadi.
"Saya kira, kita memang memiliki kesalahan pahaman di sini. Namun bukan berarti saya sudah memaafkan kesalahan Anda, karena semua itu tak mudah bagi saya. Terlebih lagi, jika saya harus mengingatnya kembali." Jiya menjelaskan semua isi hatinya.
Membuatku menarik kesimpulan jika kemungkinan besar, aku tak akan mendapatkan kesempatan darinya.
Tuhan, apa semuanya akan berakhir saja, seperti ini? Meskipun aku begitu terlambat menyadari semuanya. Namun, aku sudah mencoba dan berusaha sebisaku untuk tetap mempertahankan hubungan kami ini.
"Jadi kesimpulannya, kita benar-benar tak ada kesempatan lagi?" tanyaku sendu.
"Ji," panggilku kemudian, membuat bocah rese yang kini telah menjelma menjadi sesosok wanita tangguh itu melihat ke arahku.
"Jika kita memang tak bisa lagi, izinkan aku untuk menghabiskan sisa waktu malam ini bersamamu," lanjutku.
Segera kudekati Jiya yang masih saja diam, menimang-nimang ajakanku barusan. Mungkin.
Kemudian meraih jari-jemari tangannya yang lentik, untuk kutautkan bersama jemari tanganku yang ukurannya jauh lebih besar. Bergandengan.
Lantas, kubawa dia menuju beberapa wahana permainan yang ada. Menciptakan sebuah momen baru, serta menikmati menit demi menit yang mungkin takkan lagi bisa terulang.
Awalnya, kami menaiki kora-kora. Kemudian mencoba jungkat-jungkit anak, sebelum akhirnya menaiki sangkar burung bersama.
__ADS_1
Kulihat, senyuman lebar menghiasi wajahnya yang ayu itu. Jiya juga tampak menikmati suasana malam hari yang dipenuhi dengan cahaya lampu warna-warni jika dilihat dari atas sini.
Tap!
Tepat saat sangkar burung yang kami naikin berhenti di atas puncak tertinggi. Aku merengkuh tubuh Jiya yang sedikit gemetaran akibat merasa takut dengan pemandangan di bawah.
Merengkuhnya erat, seolah-olah jika kulepaskan sosoknya akan segera hancur begitu saja.
Alih-alih berontak, Jiya juga memeluk tubuhku erat dengan jemari tangan yang meremas bagian switerku kuat. Seperti menyalurkan rasa takut yang dirinya miliki sekarang.
"Penjamkan matamu saja, jika itu bisa membuatmu sedikit rileks." Aku berbisik lembut ditelinganya, yang kontan Jiya balas dengan anggukan kecil.
Dia juga semakin menenggelamkan kepalanya ke dalam dekapan tubuhku yang hangat ini. Hingga bisa kurasakan suara debaran dari jantungnya yang menggebu-gebu juga.
"Boleh aku memciummu?" tanyaku tiba-tiba entah memikirkan hal apa. Hanya saja, cuma kata itu yang tiba-tiba terlintas di dalam kepalaku.
"Jika kau diam, aku anggap itu sebagai persetujuan. Tapi jangan salahkan aku, jika disaat yang sama pula, aku menganggapnya sebagai tanda kembalinya hubungan kita."
Hening. Tak ada tanda-tanda dari Jiya, untuk membalas ucapanku barusan. Selain itu, sangkar burung yang kami naikin juga masih tetap diam di atas puncak tertingginya.
Tentu saja, setelah itu aku menganggap diamnya sebagai jawaban. Kemudian menangkup wajah jiya dengan kedua tanganku, sebelum akhirnya mendaratkan bibir ini di atas permukaan bibir merahnya yang begitu candu.
Menciumnya perlahan-lahan, seolah-olah itu benda paling rapuh di dunia ini. Menyesap sedikit demi sedikit, hingga menciptakan suara kecapan saat Jiya mulai mengikuti permainan ini.
Meskipun nafas kami mulai habis dan terengah-engah bersama. Namun, itu tak membuatku dan Jiya melepaskan ciuman penuh kerinduan ini. Sebuah ciuman yang mampu membuat kami meneteskan air mata masing-masing, karena tak bisa lagi menjelaskan seberapa rindunya hati serta raga dan jiwa kami satu sama lain.
"Maaf, aku memang bukan pria yang baik dan lebih layak disebut sebagai seorang pengecut bodoh karena tak melakukan apapun untuk mencarimu selama bertahun-tahun. Selain itu, aku juga langsung pergi meninggalkan dirimu sendiri di masa-masa tersulitmu, hanya karena menganggap jika pergi adalah satu-satunya cara terbaik yang bisa kulakukan saat kau mengusirku waktu itu. Dan jika kau begitu membenciku, kau juga boleh menampar wajahku sebanyak yang kau mau."
Kulihat, Jiya langsung mengangkat tangan kanannya. Kemudian ...
__ADS_1
Plak!