Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Butik


__ADS_3

"Cih, semalam kau benar-benar monster, Fer." Makiku pada diri sendiri.


Sekali lagi melirik ke arah Jiya yang masih terpejam erat menikmati mimpinya.


Perlahan, kuusap puncak kepala istri kecilku itu sayang, yang tanpa sadar membuatnya bergerak gelisah dalam dekapanku ini. Sampai akhirnya, mengerang pelan dengan kelopak mata yang mulai terbuka sedikit.


"Pagi Om," sapanya dengan senyuman manis dibibir. 


Aku yang melihat pemandangan itu, ikut mengembangkan senyum juga.


"Pagi," balasku, ikut menyapa.


"Hoam." Jiya menguap dengan kedua tangan yang dia rentangkan ke atas kepala. Hingga membuat selimut yang membalut tubuhnya itu sedikit melorot ke bawah. Membuatku lagi-lagi mengusap permukaan wajahku kasar saat melihat jejak-jejak merah yang kutinggalkan ditubuhnya itu.


"Maaf, semalam aku pasti mainnya kasar." Aku berkata, dengan wajah memaling ke arah lain. Merasa malu dengan diriku sendiri, jika mengingat kejadian semalam lagi.


Diluar dugaan, Jiya malah menepuk bahuku pelan. Yang kontan membuatku menolehkan kepala ke arahnya.


"Gapapa kok Om, lagian Jiya dulu yang mulai. Oh iya, jangan lupa hari ini kita mau fitting baju buat resepsi loh, bareng Mamah," jelasnya seraya menyepol rambutnya tinggi. Seperti saat masih sekolah dulu.


"Oke. Ngomong-ngomong kamu bisa jalan?" tanyaku dengan raut wajah khawatir.


Saat melihat Jiya yang hendak bangkit dari posisi duduknya, menuju kamar mandi. Namun, tertahan dan duduk kembali dengan tangan mencengkram kuat sprei.


"Eum, kayaknya Jiya perlu bantuan Om Ferdi seharian ini, deh. Boleh?"


"Kenapa nggak, lagian kita udah sah dan kamu itu tanggung jawabku penuh. Jadi udah seharusnya kita saling bahu-membahu kalau menemui kesulitan. Ah, bicara soal ini aku jadi teringat kejadian waktu itu. Harusnya aku nggak pergi dan tetap disisi kamu buat ngasih semangat." Aku tiba-tiba mendesah berat saat mengingat kebodohanku waktu itu.


"Come on, Om. Jangan ungkit lagi hal itu, toh sekarang kita udah bareng dan hidup damai. Jadi, buang aja beberapa memori yang nggak perlu dan buat sakit kalau diingat-ingat," jelas Jiya.


Dia benar-benar jadi lebih bijaksana dan membuatku salut di detik yang sama. Setelah itu, aku lantas membantu Jiya, dengan cara menggendongnya ke dalam kama mandi. Meletakkannya di atas WC duduk, lantas membantu juya membersihkan semua sisi tubuhnya.


Sekitar lebih dari 5 menit, aku pun keluar dari WC membawa Jiya dalam gendongan. Lalu, mendudukkannya kembali di atas ranjang dengan hati-hati.

__ADS_1


"Biar aku aja yang bantu kamu, buat ngeringin rambut."


Kulihat Jiya mengangguk antusias dengan senyuman yang mengembangkan dibibirnya.


"Oke!" serunya girang, mirip anak kecil.


Jiya kemudian duduk di atas ranjang dengan tenang, saat satu-persatu helaian rambutnya kukeringkan dengan bantuan alat pengering rambut. Bocah rese itu tampak bersenandung sebuah irama lagu yang cukup asing ditelingaku.


There nothing like us~


There nothing like you and me~


Together through the storm~


There nothing like us~


There nothing like you and me~


"Lagu siapa?" tanyaku saat mengerti arti dari tiap bait lirik yang Jiya nyanyikan. Aku tak bodoh, dan aku sangat tahu maksud dari lagu itu.


Jiya yang mendengar pertanyaanku barusan langsung menolehkan kepalanya sedikit. Kemudian memegang erat kedua tanganku tiba-tiba. "Ada deh, pokoknya Jiya sering nyanyiin lagu ini selama pisah sama Om Ferdi."


Tak kusangka, Jiya juga sangat galau saat berpisah denganku. Kupikir dibalik sikapnya yang menolak diriku tegas waktu itu, Jiya sudah berhasil melupakan diriku ini.


Selesai siap-siap, aku dan Jiya lantas pergi ke rumah Mamah Vivi untuk menjemputnya sebelum pergi ke butik. Yah, kami bertiga memang sudah berencana untuk pergi mengurus apa-apa saja yang diperlukan untuk acara resepsi yang rencananya akan dilangsungkan minggu depan.


Saat mobilku mulai memasuki area jalan perumahan Mamah Vivi. Rupanya sosok mertuaku itu sudah berdiri, menunggu di depan gerbang dengan tangan melambai ke arah mobil.


"Di sini, Fer!" serunya lantang yang membuat Jiya tertawa tanpa sadar di kursi sebelahku.


"Mamah lucu, yah?" ujarnya seraya menatap ke arahku.


"Iya, kayak kamu." Aku membalas cepat, yang sontak saja membuat senyum diwajah Jiya memudar.

__ADS_1


"Jiya itu mirip Papi. Kalau Mamah ada dikit gennya. Jadi jangan dimirip-miripin," katanya sewot dengan tangan yang bocah rese itu sedekapkan di depan dada.


"Iya deh, iya. Yang anak Papi." Lagi aku membalas ucapan Jiya, dengan tangan kiri yang mencubit pipi bocah rese itu gemas.


"Ish, sakit! Kok malah dicubit? Nanti pipi Jiya melar gimana?" sungutnya kesal yang membuatku tertawa terbahak.


"Lagian siapa suruh punya muka gemesin begitu. Kan, tanganku jadi gatel pengin nyubit pipimu yang chubby."


Kulihat muka Jiya masih cemberut. Sampai kedatangan Mamah Vivi yang tiba-tiba membuka knop pintu mobil, tepatnya dikursi penumpang. Mungkin barulah saat itu, kulihat dirinya tersenyum lagi.


"Mamah, Jiya kangen!" rengeknya yang entah sejak kapan sudah berpindah posisi dan duduk dikursi belakang. Bersama Mamah Vivi.


Aku yang melihatnya, cuma geleng-geleng kepala saja. Tak jauh berbeda dengan Mamah Vivi yang juga melakukan hal serupa denganku. Hanya saja, setelah itu kudengar Jiya mengaduh keras. Saat pangkal hidungnya ditarik Mamah Vivi sampai memerah.


"Iih, kok Mamah kayak Om Ferdi, sih? Sukanya narik sama nyubit pipi Jiya. Kalau makin melar, gimana?" jelasnya kesal, makin ngegas.


Namun bukan Mamah Vivi namanya, kalau langsung kalah telak dengan Jiya. Habis bukannya menggubris perkataan anaknya sendiri, mertuaku itu malah tiba-tiba mengganti topik dan menanyakan kondisi kesehatanku sekarang.


Tentu saja, aku langsung menjawab pertanyaan itu seadanya. Dan membiarkan mereka, yakni ibu-anak itu mengembalikan kedekatannya selama perjalanan.


Hampir disepanjang perjalanan, aku layaknya seorang driver ojek online. Yang hanya menatap lurus dan fokus ke arah jalanan aspal yang hari itu cukup ramai. Saking ramainya, mobilku ini sempat beberapa kali terkena macet mendadak, sekaligus lampu merah.


Kulihat Jiya dan Mamah Vivi masih sibuk mengobrol berdua dibelakang sana. Dan sepertinya, tak menyadari kehadiranku yang mirip kambing congek di sini. Mereka berdua terdengar asik membahas sesuatu yang benar-benar tak kuketahui itu.


Hingga tak terasa, membuat perjalanan ini begitu cepat. Sampai sudah tiba saja di depan butik yang memang kami ingin kunjungi.


Melihat mobilku yang sudah terparkir, membuat Mamah Vivi menghentikan kegiatan ngerumpinya itu, lantas mulai berjalan keluar yang tak lama setelahnya disusul oleh Jiya.


Mamah Vivi lalu menuntun kami masuk ke dalam butik itu. Kemudian menjelaskan satu-persatu produk yang paling popular serta sedang ngehits dikalangan masyarakat. Yang, langsung bisa kutebak kalau butik ini milikinya.


Jiya yang bahkan baru tahu, langsung menatap Mamah Vivi dengan mulut ternganga.


"Sejak kapan, Mamah punya butik?"

__ADS_1


__ADS_2