
Keesokan harinya, kudengar suara Jiya yang sedang muntah-muntah lagi di kamar mandi. Terdengar putus asa dan juga sangat kesakitan. Namun, aku mencoba mengabaikannya dengan tak menggodanya hari ini.
Apalagi, Jiya akhir-akhir ini begitu sensitif dan mudah sekali marah-marah. Parahnya, dia lebih galak daripada saat sedang datang bulan. Yang kontan saja, membuatku begitu enggan hanya untuk mencari masalah atau membuat dirinya marah.
Cklek!
Kulihat pintu kamar mandi tertutup rapat, yang tak berselang lama dari itu, aku melihat Jiya keluar dari kamar mandi dengan raut wajah lumayan lesu dan tampak pucat seperti orang yang sedang tak sehat.
Perlahan aku mencoba dekati dia, kemudian bertanya tentang bagaimana kondisi fisiknya hari ini. Namun tak Jiya jawab juga, dan malah merangkul tubuhku mendadak. Kemudian menyelipkan kepalanya ke dalam ceruk leherku ini dalam-dalam, seraya menghirup aroma tubuhku beberapa kali.
"Kepala Jiya pusing banget, tapi nggak tau kenapa kalau nyium aroma tubuh Om Ferdi, rasa sakitnya jadi berangsur-angsur menghilang. Apa jangan-jangan, Om Ferdi itu salah satu ekstasi?" ocehnya mengada-ngada yang membuatku ingin tertawa.
"Kalau aku ekstasi, yah nggak mungkin masih di sini nemenin kamu. Pasti aku ditempatkan di ruang khusus dan hanya dimiliki orang-orang tertentu," sahutku, masih mengusap-usap kepala Jiya lembut.
"Iih yah nggak boleh, lagian Om Ferdi kan cuma punyanya Jiya, titik!" kata Jiya bersungut-sungut, mirip anak kecil yang mainanya barus saja direbut.
"Oh iya, karena hari ini weekend. Jadi Om Ferdi harus nemenin Jiya. Oke?"
Jiya tampak mendongakkan kepalanya sedikit ke arahku, lantas tersenyum manis sebelum mendaratkan bibirnya ke atas permukaan bibirku ini menggoda.
"Kamu ngapain tiba-tiba gitu?" tanyaku yang terkadang tak bisa menebak apa yang bocah rese itu sedang pikiran.
"Merayu suami sendiri hehehe ..."
Alisku mengernyit sebelah. "Ngapain ngerayu suami sendiri. Orang tanpa dirayu pun, aku udah tergoda dan nggak bisa ngalihin pandangan ke cewek lain."
Bibir Jiya mencebik. "Halah, bohong! Orang waktu itu aja Jiya lihat Om Ferdi mau kegoda sama SunClara."
__ADS_1
"SunClara?" ulangku heran. "SunClara siapa lagi, eh?"
"Ih, ituloh cewek yang ngaku-ngaku jadi tunangan Ilyas." Jiya berkata dengan sorot mata yang serius menatap kelereng hitamku ini.
"Itu Clara. Bukan SunClara. Ada-ada aja deh kamu, suka banget yah ganti-ganti nama orang? Gisel jadi Tante lemper, sekarang Clara jadi SunClara. Jiya-Jiya!" jelasku serasa mencubit kedua pipi bocah rese itu gemas.
"Biarin, siapa suruh nekat ganggu suami orang yang udah punya pawang macam Jiya ini. Untuk aja nggak Jiya santet online tuh, mereka berdua biar kapok dan nggak punya kesempatan buat tebar-tebar pesona lagi ke Om Ferdi."
Aku yang mendengar itu sedikit bergidik. Santet online, katanya? Untung saja waktu kemarin pisah dua tahun lebih aku nggak dikirim beginian. Ah, berarti tandanya Jiya masih sayang banget sama aku.
"Oh iya, Om. Tadinya Jiya juga mau kirim satu santet ke Om Ferdi kalau nggak ada perjuangan sama sekali dan ngebiarin Jiya dekat sama Ilyas. Cuma ..."
Tanpa sadar aku gemetaran. Sewaktu melihat Jiya menjeda ucapannya barusan.
"Cuma apa?" tanyaku takut-takut.
"Belum saatnya aja, tapi kalau Om Ferdi berani macem-macem. Jiya bakal santet online, detik itu juga."
***
Aku yang hari ini merasa tidak enak badan. Menyuruh Gisel untuk pergi menggantikanku melakukan perjalanan bisnis selama tiga hari di luar kota.
Meskipun mulanya, wanita seksi itu tampak menolak. Namun dihari berikutnya dia langsung setuju saat kutawari gajinya yang meningkat dua kali lipat, jika mau melakukan perjalanan bisnis ini.
Apalagi, jika dalam perjalanan bisnis ini Gisel mampu menggaet klien baru. Untuk menjadi kolega baru di perusahaan. Aku juga berjanji padanya akan menambahkan gajinya lagi.
Mendengar hal itu, Gisel nampak seru senang diseberang telepon. Aku juga mendengar dia bernyanyi kecil, sesaat sebelum aku mengakhiri panggilan telepon kami, yang cuma berlangsung selama kurang dari lima menit.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Jiya dengan raut wajah penuh selidik, setelah aku meletakkan ponselku di atas nakas.
"Sekretaris aku," balasku jujur. Yang membuat Jiya makin menyipitkan matanya.
"Oh, si Tante Lemper. Ngapain, pagi nelpon-nelpon dia? Aaron 'kan bisa?" ujar Jiya yang bisa kupastikan mulai tersulut emosi.
"Beda dong Sayang, Gisel kan sekertarisku. Kalau Aaron kepala di divisi produksi. Lagian aku nelpon dia, buat nyuruh si Gisel gantiin aku ikut perjalanan bisnis ke luar kota selama tiga hari karena nggak enak badan. Emangnya kamu mau aku tinggal, perjalanan bisnis, hm?" tanyaku pada Jiya setelah menjelaskan semuanya. Supaya tak terjadi kesalahpahaman lagi diantara kami.
"Ya nggak juga, sih." Jiya membalasnya dengan nada bicara yang sudah dia turunkan satu oktaf. Menjadi lebih lembut daripada sebelumnya.
"Ya udah."
Tak terasa, janin dikandungan Jiya sudah memasuki tahap kelima bulan. Padahal, rasanya baru kemarin dia mengeluh hamil dan muntah-muntah. Lalu mengalami fase ngidam, sampai meminta dipetikan mangga saat hari masih malam.
Beberapa minggu yang lalu, keluarga kami juga baru melakukan acara selamatan yang dinamakan 'mapati'. Supaya janin yang ada dalam dikandungan Jiya diberi keselamatan sampai dia terlahir ke dunia. Eh, nggak terasa saja sudah masuk lima bulanan.
Melihat perut Jiya yang semakin hari semakin membesar. Hingga membuatnya kadang kesulitan bergerak dan lebih cepat merasa lelah. Aku pun memberi saran padanya untuk mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga di penthouse, selama masa kehamilan bocah rese itu, sampai Jiya sudah pulih setelah melahirkan dan mampu mengurus semua pekerjaan rumah lagi.
Namun, Jiya menolaknya. Dia malah menyarankan padaku untuk tinggal bersama Mamah Vivi saja ataupun Momi selama hamil ini. Yah, dimulai saat usia kandungannya sudah memasuki fase 8 bulan sampai 9 bulanan.
Habis, saat di fase-fase itu Jiya merasa akan lebih cepat letih. Selain itu, tinggal bersama orang tua sendiri daripada seorang pembantu lebih membuatnya merasa nyaman. Karena bisa berbagi cerita tentang kehidupan pribadinya tanpa harus takut rahasianya terbongkar.
Kalau aku sih, setuju-setuju saja dengan apa kemauannya itu. Toh, Jiya sendiri yang secara langsung bertemu, bertegur sapa serta bertatap muka lebih sering dari pada aku yang keseringan sibuk di kantor.
Jadi, apapun keinginan bocah rese itu. Aku akan menyetujuinya. Asalkan, bisa membuat Jiya merasa tak stress lagi serta kelelahan setelah selesai bekerja.
Ngomong-ngomong, aku juga menyarankan dirinya untuk cuti beberapa bulan setelah melahirkan.
__ADS_1