Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Ruam?


__ADS_3

"Arghhh!" teriak Jiya di pagi-pagi buta.


Aku yang baru saja membuka mata, menguceknya beberapa saat sebelum, mengubah posisiku yang semula berbaring menjadi terduduk di tepi ranjang.


Mencoba memperjelas penglihatan, saat menyadari Jiya sedang berdiri di depan cermin. Entah, sedang melakukan apa.


"Ada apa sih, Ji? Masih pagi loh ini, ayam jantan aja belum berkokok. Jangan teriak-teriak begitulah, kalau kamu bangunin tetangga sebelah gimana?" kataku panjang lebar, mencurahkan isi hati.


Kulihat, Jiya langsung membalikkan tubuhnya. Kemudian, berjalan ke arahku dengan langkah seribu kaki.


"Om, lihat!" tunjukknya sambil mengangkat kaos putih yang semalam dia pakai tidur.


Meskipun sekarang sudah lebih enak dipandang mata, karena di double dengan kaos dalam bergambar Dora the Explorer.


"Lihat apa?" tanyaku balik, saat tak menemukan keanehan apapun.


Jiya lantas menaikan kaosnya ke atas kepala, sebelum akhirnya melepasnya begitu saja di depan mataku.


"Ini!" ujarnya lagi, seraya menunjuk bekas-bekas merah yang cukup banyak di area leher sampai dada bagian atas.


"Perasaan, Jiya semalam udah pakai soffel sebelum tidur. Tapi kok, pas bangun udah ada ruam-ruam begini, yah?" katanya berpikir keras.


Aku menahan tawa diam-diam. Saat melihat tingkah polos bocah rese itu. Bisa-bisanya dia tak menyadari kalau itu bekas ******. Parahnya lagi, nyamuk yang jadi kambing hitam. Padahal pelakunya jelas-jelas ada di depan matanya sendiri. Yakni, aku wkwkwk...


"Om, aneh banget nggak sih? Eh, tapi kalau nyamuk, harusnya lengan sama kaki Jiya juga bentol-bentol, kan?" tanyanya lagi, penuh selidik.


Aku hanya menganggukkan kepala polos, mengiyakan.


"Tapi, Om! Kalau beneran nyamuk, harusnya Om Ferdi yang semalam tidur telanjang dada juga digigit. Kenapa cuma Jiya aja, sih?" Lagi, bocah rese itu mengeluarkan semua rasa penasaran.


"Udahlah, nanti juga sembuh. Lagian kamu nggak ngerasa gatel-gatel, kan?"


Secepatnya, kepala si bocah rese itu menggeleng. "Nggak, cuma perih dikit kayak dijilat setan."

__ADS_1


Mata Jiya langsung melotot, "Ah, jangan-jangan ini ulah setan? Iih, parah banget, Jiya dijilatin sampai ruam-ruam begini."


Plis deh, aku udah nggak kuat lagi. Tadi nyamuk, sekarang setan yang jadi sasaran. Jujur, rasanya aku pengin ngakak sambil guling-guling ditempat. Cuma harus tetap stay cool, di depan si bocah rese itu.


Bangkit dari posisi duduk, kudekati Jiya yang masih misuh-misuh di depan cermin. Lantas, kuraih pinggangnya yang ramping itu. Untuk kupeluk dalam-dalam dari arah belakang. Yang kontan saja, membuat bocah rese itu terdiam seketika.


"Mau sampai kapan, kamu marah-marah begitu? Nggak tahu apa, kalau aku perlu dikasih asupan juga?"


Niatnya, aku mau mengkode Jiya untuk segera pergi memasak. Tapi, kalau dilihat-lihat dari reaksi tubuh dan perubahan mimik wajahnya yang kini bersemu. Tampaknya, Jiya salah mengartikan ucapanku barusan.


"O-Om Ferdi, ja-jangan peluk-peluk begini. Jiya bau asem soalnya."


Detik itu juga alisku terangkat sebelah. Sedikit kumajukan wajahku ke depan, supaya bisa melihat muka Jiya dari samping dengan jelas.


"Kamu wangi kok, asem dari mananya coba?"


Blush!


Aku tak menduga, damage dari omonganku barusan bisa membuat Jiya makin nggak karuan. Alih-alih, menjawab, Jiya malah langsung ngacir sambil menutupi wajahnya sendiri dengan kedua tangannya, keluar kamar.


***


Sekitar pukul 09.00 pagi, aku sudah kembali menjalani rutinitasku di kantor. Duduk manis, dan ditemani dengan berkas-berkas yang menumpuk di atas meja.


Kulihat, Gisel juga tak kalah sibuknya dari sini. Tampak sekertarisku yang seksi itu menghubungi beberapa klien untuk mengatur jadwal pertemuan denganku. Selain itu, perusahaan makanan dan minumanku ini tengah membuka lowongan pekerjaan secara global.


Mungkin, hari ini menjadi hari yang super duper sibuk karena pengumuman penerimaan untuk karyawan magang baru. Sekaligus, berlangsungnya kegiatan bekerja pertama untuk beberapa karyawan yang mendapat panggilan minggu lalu. Jadi, sepertinya hampir semua divisi membuat persiapan yang tak main-main.


Mengembuskan napas berat, sejenak kusenderkan bahuku pada kursi kantor. Hm, nampaknya aku perlu istirahat ataupun mengambil cuti. Tapi, untuk saat-saat seperti ini, terlihat mustahil.


Sembari mengedarkan pandangan ke arah langit-langit ruanganku. Sekelebat bayangan tentang sosok Jiya tiba-tiba hadir. Membuat seutas senyum simpul di sudut bibirku, terukir tiba-tiba.


Sial, kenapa aku jadi merindukannya.

__ADS_1


Namun, belum sempat lamunanku berlanjut. Mendadak kudengar suara pintu ruanganku yang diketuk perlahan dari luar.


"Masuk!" balasku, memerintah.


Terdengar suara pintu ruanganku yang dibuka perlahan-lahan, begitu juga dengan derap langkah kaki seseorang. Aku sendiri yang kembali fokus dengan tumpukan berkas di atas meja. Memilih untuk menundukkan kepala tanpa niatan untuk melihat Gisel masuk.


Kalau diingat-ingat, ini waktu yang biasanya Gisel gunakan untuk mengantarkan kopi ke ruanganku. Akan tetapi ...


"Om Ferdi!"


Aku yang mendengar suara tak asing itu, seketika mendongakkan wajah sedikit untuk memastikan. Dan benar saja, tak jauh dari tempatku duduk, sudah ada sosok Jiya yang berdiri di sisi meja. Dengan tangan memegang nampan berbentuk bulat.


"Ji-Jiya? Kok kamu bisa ada di sin-"


Kata-kataku kontan menggantung diudara, saat kulihat penampilan istri kecilku itu.


Terlihat, sosoknya yang anggun dan kelihatan dewasa dengan seragam atasan berwarna pink, serta celana bahan hitam. Selain itu, rambutnya juga Jiya sanggul. Membuat aura kecantikannya semakin terpancar.


Meskipun aku tahu, kalau statusnya ditempat ini benar-benar jauh denganku.


"Ah, akhirnya Jiya ketemu Om Ferdi juga!" serunya senang, seraya menerjang tubuhku tiba-tiba.


Aku yang mendapat serangan mendadak, hanya tertawa kecil seraya melepaskan pelukannya itu.


"Jangan lupa, ini masih dikantor." Kulihat, kepala Jiya langsung menggangguk.


Meskipun posisinya, dia belum benar-benar beranjak pergi dari atas tubuhku.


"Kenapa kamu nggak bilang, kalau jadi OB di sini? Padahal, kamu bisa minta jab-" Jiya meletakkan jari telunjuknya di depan bibirku cepat. Membuatku berhenti berbicara, dan malah menatap dirinya yang kini menatap diriku serius.


"Om Ferdi dengerin Jiya deh, meskipun Jiya ini manja dan nyebelin banget. Tapi, Jiya tuh nggak suka sama cara yang instan. Apalagi, pakai bantuan orang dalam segala. Jiya mah ogah banget, tahu!" kata Jiya terus-terang.


Aku yang mendengarnya tersenyum. Kemudian, mengusap-usap puncak kepala bocah itu sayang. "Alasannya?"

__ADS_1


"Ya, karena Jiya pengin mandiri dan mengukur kemampuan diri sendiri. Bukannya, hidup itu terus maju, yah? Waktu juga terus berjalan tanpa henti. Nah, singkatnya gini. Kalau kita terus-terusan ngandelin orang lain dalam kehidupan ini, terus tiba-tiba nih, dia hilang atau pergi jauh dari kita. Masa iya, hidup kita bakal berakhir begitu aja? Nggak asik dong, kan-hmphh ..."


"O-Om, i-ini masih dikantor uhhh!" lenguh Jiya pelan, saat kusambar bibir merah miliknya mendadak.


__ADS_2