
Ruangan yang tadinya hening kini dipenuhi suara napasku dan Jiya, yang tersengal-sengal. Bahkan, oksigen di kamar terasa habis dan menyisakan udara panas.
Sungguh, ini benar-benar panas sekaligus manis. Aku sendiri bahkan tak mampu mengontrol akal sehatku sendiri. Dan mulai mengangkat tubuh Jiya untuk naik perlahan ke atas pangkuanku.
Memeluk tubuh bocah itu semakin erat, seraya menghujaminya dengan beribu ciuman kecil. Jiya sendiri tak menolaknya. Bocah rese itu malah semakin mendekatkan kepalaku ke arah ceruk lehernya, membuatku semakin menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang kini bak endorfin.
Kurasakan, jari-jemari tangannya yang kecil nan rapuh itu menarik kepalaku semakin dalam, sambil sesekali menjambak ujung rambutku frustasi.
Gila! Apa begini surga dunia yang Aaron maksud?
Aku bahkan baru memberinya kecupan-kecupan kecil namun sudah berefek begitu dahsyat begini. Saking dahsyatnya, kudengar Jiya mengeluh perlahan. Seolah-olah, ingin memintaku untuk melakukan hal lebih pada tubuhnya itu.
Cukup! Aku harus berhenti.
Detik itu juga, kulepaskan pagutan ciuman kami. Membuat Jiya yang sempat memejamkan mata, kini beralih menatapku sendu.
"Ke-kenapa?" tanyanya masih diselimuti kabut nafsu.
Aku berdeham sesaat, seraya menghapus sisa saliva disudut bibirnya yang kini sedikit membengkak.
"Jangan sekarang, aku takut kebablasan."
Kupikir, Jiya akan segera berteriak marah-marah. Diluar dugaan, bocah rese itu malah memeluk tubuh erat sambil menyembunyikan wajahnya itu ke dalam dada bidangku.
"Kamu nggak marah?" tanyaku, lumayan kaget.
Kudengar Jiya malah tertawa. Kemudian mengecup pangkal hidungku tiba-tiba.
"Nggak tuh, lagian pasti Om Ferdi punya alasan kenapa tiba-tiba berhenti."
"Bukan, maksudku kamu nggak marah aku cium mendadak kayak tadi?" tanyaku lagi.
Kulihat bocah rese itu menggelengkan kepalanya cepat. Mendekatkan wajahnya kembali ke wajahku, lantas beralih meletakkan kepalanya menyender dipundak sebelah kiri.
Selain itu, tangannya juga tiba-tiba menyentuh area dadaku yang masih terbuka gara-gara kejadian ciuman beberapa saat yang lalu. Perlahan-lahan Jiya nyentuhnya naik-turun. Membuatku mengernyitkan alis, heran.
"Kamu ngapain?"
Tampak Jiya mendongakkan wajahnya sedikit, lalu tercengir tanpa dosa.
"Dada Om Ferdi bagus, Jiya suka."
__ADS_1
Blush! Kali ini nampaknya mukaku yang sudah semerah kepiting rebus. Untungnya langsung kupalingkan ke samping, agar Jiya tak melihatnya.
"Kamu ngomong apa sih, Ji!" balasku pura-pura kesal.
Tapi, Jiya tetaplah Jiya. Bukannya segera beranjak, tangannya malah makin nakal dan menyentuh kemana-mana. Bocah setan itu, bahkan menyibak jubah mandiku sedikit untuk menyentuh area perut.
"Ih, Jiya baru tahu loh, kalau Om Ferdi punya roti sobek. Aduh, boleh dielus-elus nggak, Jiya penasaran sama teksturnya nih. Kira-kira mirip roti kasur yang biasanya dijual di swalayan nggak yah?" katanya polos.
Aku mulai gelagapan. Khawatir, kalau gara-gara niat isengnya Jiya. Dia malah membangunkan si Joni juga.
"Jangan!" cegahku, seraya mencekal pergelangan tangannya yang hampir menyentuh perut kotak-kotakku ini.
"Kenapa? Lagian kan udah sah, Om Ferdi juga suami Jiya. Dosanya dimana coba?"
Benar juga sih, tapi kan aku masih memegang prinsip buat nunggu sampai Jiya benar-benar siap jadi Ibu. Sekaligus mengejar mimpi-mimpinya setinggi langit dulu.
Tapi kenapa, si bocah rese itu malah mancing duluan dan nggak bisa diajak kompromi, sih?
Tahan Fer, tahan.
Untungnya, tak lama kemudian kudengar suara bel depan yang ditekan. Ah, sepertinya itu tukang grab food yang mengantar pesanan makanan kami.
Jiya sendiri yang mendengar itu, kudengar mengumpat sesaat. Sebelum akhirnya, mulai merangkak turun dari atas pangkuanku.
Barulah setelah dia pergi, aku mengusap dadaku naik-turun.
"Ah, hampir aja." Monologku, lega.
Berhubung besok pagi weekend, aku dan Jiya memutuskan untuk menginap semalam di sini. Kami juga sudah menghubungi Momi lewat video call singkat tadi.
Selain itu, besok juga penthouse ini mulai diisi dengan perabotan. Sebenarnya, sudah ada beberapa furniture yang tersedia. Tapi, Momi bilang ingin mendekorasinya ulang.
Aku yang sudah memakai baju tadi siang dan melihat Jiya kembali setelah mengambil pesanan. Segera mendudukkan diri di atas sofa ruang keluarga.
Jiya yang melihatku duduk, ikut mengekor juga. Lalu meletakkan pesanan ayam gepreknya begitu saja di atas meja.
Nampak tak tertarik, dan malah merangkul tubuhku tiba-tiba seraya ngedusel mirip anak kucing kurang belaian.
"Eh, kamu ngapain? Tadi katanya laper?" tanyaku, seraya mengusap-usap kepala Jiya lembut.
Posisinya sekarang, si bocah rese itu tiduran di atas sofa dan menjadikan pahaku sebagai bantal.
__ADS_1
"Udah nggak selera," balas Jiya merajuk.
"Gimana sih, udah dibeli loh. Sayang kalau nggak dimakan." Aku berkata setenang mungkin supaya si bocah rese itu mau menurut.
"Buat Om Ferdi ajalah, Jiya nggak mau."
Huft, kuembuskan napas berat sesaat sembari menyugar rambutku kebelakang. Mulai frustasi, karena menghadapi sikap Jiya yang hari ini manja dan kekanak-kanakan banget menurutku.
"Terus kamu maunya apa?" tanyaku pada akhirnya.
Bukannya menjawab, si bocah rese itu malah mengubah posisinya yang tadinya tiduran menjadi duduk menghadap ke arahku. Lalu, dengan tatapan mata yang dipenuhi binar, Jiya berseru dengan lantang.
"Kasih lihat Jiya roti sobek Om Ferdi lagi, yah! Yah, plisss!" mohonnya dengan kedua tangan yang sudah ditangkupkan didepan dada.
Sudah begitu, Jiya juga memasang aegyo kelewat lucu. Yang membuatku akhirnya mengalah, sekaligus mengiyakan permintaannya tadi.
"Ingat, ngeliat aja. Jangan disentuh oke?" peringatku yang hanya dibalas dengan anggukan cepat kepala hitam Jiya.
"Oke!"
Sejujurnya ini benar-benar konyol, sih. Dan bisa-bisanya aku mau-mau saja, mengikuti permintaan si bocah setan yang aneh ini.
Disuruh berbaring di atas kasur tanpa mengenakan kaos. Kayaknya, Jiya sengaja pengin buat aku masuk angin deh. Apalagi, hujan tiba-tiba turun begitu derasnya di luar sana. Membuat udara dingin seketika menyergap masuk, memenuhi kamar ini.
"Ji!" panggilku mulai lelah.
Apalagi saat kulihat Jiya makin menjadi-jadi, sambil ngakak sesekali setelah memotret bagian kotak perutku. Rasanya, tubuhku seperti bocah rese itu manfaatkan sekarang.
"Ji!" Lagi aku memanggil nama depannya. Kali ini dengan intonasi yang naik satu tingkat.
"Bentar aelah Om, Jiya pengin pamer ke Nadin sama Sekar dulu nih."
Astaghfirullah, bisa-bisanya dia.
"Om Ferdi, coba pose ala-ala Sugar Daddy. Yang biasanya buat cover di novel plus-plus ituloh," ujar Jiya seraya memeragakan pose tiduran miring kesamping.
"Maksudnya?" tanyaku bingung.
Karena tak tahu dengan hal begitu, gini-gini aku tak mempunyai hobi untuk mengoleksi hal-hal berbau begituan. Masa iya, lagi-lagi aku harus tanya Aaron dulu?
"Ih, begini. Sambil gigit bibir atau ah, gimana yah ... Jiya lupa."
__ADS_1
Aku yang melihat Jiya begitu, rasanya ingin menghilang saja dari dunia.