Bukan Jodoh

Bukan Jodoh
Part 99


__ADS_3

Semua orang sudah di sibukan dengan berita meninggalnya Angga yang mendadak apalagi seluruh karyawan kantor yang banyak tidak percaya begitu saja.


Di kediaman bu Saras semua sudah bagi bagi tugas untuk persiapan acara pemakaman Angga yang akan di laksanakan beberapa hari lagi.


Tyas mengingatkan Sandra agar memenuhi permintaan Angga, semua baru sadar tentang maksud dari perkataan Angga tempo hari.


Pak Wirawan dan Merry kebagian menghubungi pihak gereja dan tempat untuk upacara penghematan terakir. Semua bekerja sama tanpa ada paksaan.


Dengan segenap kekuatannya yang ada Tyas berusaha untuk memenuhi janjinya pada Angga, memesan bunga Melati putih segar dan Mawar merah segar sendiri.


Sandra sudah memesan mobil jebazah dan juga sudah memesan Bunga sesuai permintaan Angga.


Malamnya semua sudah berkumpul di rumah masih dalam keadaan berduka, makanan yang tersaji pun tak tersentuh.


"Ce, sekarang tinggal jas warna putih yang belum ada " ucap Tyas saat berada di kamar Sandra


"Besok kita sama - sama cari di kamar Koko, bagaimana Yas, siapa tahu koko punya, seperti yang ada dalam mimpimu " usul Sandra


"Aku, belum berani ke kamar Ko Angga Ce" ucap Tyas singkat dan langsung jatuhlah butiran cristal dari pelupuk matanya.


"Besok, Aku temani, Yas. Aku sama sekali tidak mengira Koko akan pergi secepat ini " ucap Sandra turut sedih matanya menerawang.


Kelopak mata Sandra sudah penuh air mata.


"Yas, Sand " sapa Louise yang baru datang.


"Ois, Ce" seru Sandra dab Tyas bersamaan


Sandra, Tyas dan Louise langsung berpelukan tanpa ada kata yang keluar , pecahlah tangis ketiganya tanpa menghiraukan siapapun.


Anak -anak sandra berada dalam pengasuhan asisten rumah tangganya. Mario masih sibuk dengan tugas tugasnya di rumah sakit.

__ADS_1


Bu Saras dan bu Warsi berbincang ringan di kamar bu Saras , bu Warsi berusaha menghibur dan menguatkan agar bu Saras tetap tabah dan kuat.


Dengan kepergian Angga yang begitu cepat dan mendadak membuat ke empat wanita terpukul, Tyas, Sandra, bu Saras dan Clarisa.


Di kediaman pak Wirawan Clarisa terus menerus menangis tiada henti. Merry yang biasanya kurang perhatian pada Clarisa hari ini Merry yang memeluk dan menyenangkan Clarisa.


"Ma, kenapa Papa pergi meninggalkan kita Ma?" tanya Clarisa di tengah isak tangisannya


"Papa, tidak pergi sayang, Papa sekarang sedang bahagia bersama Tuhan " ucap Merry juga sudah sembab matanya.


"Icha, ikut Papa, Ma" rengek Icha dalam pelukan Merry.


"Icha, ingat pesan Papa kan ?" ucap Merry


Clarisa tidak menjawab hanya mengangguk "Icha sayang Papa" ucap Clarisa lirih, karena lelah menangis akirnya Clarisa tertidur dalam pelukan Merry.


Paginya setelah sarapan, Sandra dan bu Saras menemani Tyas masuk kamar Angga. Mereka bertiga membuka lemari pakaian Angga tujuan utama mencari setelah jas putih seperti yang Angga maksud.


Sandra dan bu Saras langsung menghampiri Tyas akirnya pecahlah tangisi Tyas" Ce, Bu, kenapa Koko begitu tega meninggalkan kita?" tanya Tyas dalam tangisnya sambil memeluk jas Angga yang baru di temukannya.


"Yas, kita harus ikhlas, kita harus kuat, Angga sudah bahagia di Syurga, Angga pasti sedih melihat kamu seperti ini " nasihat bu Saras pada Tyas. Sambil memeluk tubuh Tyas yang sudah duduk terkulai di lantai.


Bu Saras dan Sandra berusaha kuat saat berada di hadapan Tyas. Setelah diam sesaat mereka bertiga segera keluar dari kamar Angga.


Sandra membawa Tyas untuk masuk di kamar Tyas, tidak lama Louise masuk kamarnya Tyas setelah di beri tahu oleh Bu Saras.


Sandra dan Louise berusaha untuk menghibur dan menenangkan Tyas, mereka bertiga saling bergenggaman tangan untuk saling menguatkan.


"Ois, makasih kamu sudah datang kemari " ucap Sandra


"Sand, Yas, kita saudara, sampai kapan pun kita tetap saudara, Aku juga sangat sedih Ko, Angga pergi begitu cepat " ucap Louise

__ADS_1


Setelah 2 jam bersama tangis Tyas sudah mereda, mereka bertiga keluar dari kamar Tyas, mata mereka bertiga sudah sembab.


Bu Warsi dan bu Saras duduk di taman "Maaf, Bu jika Tyas belum bisa menerima kenyataan ini" ucap bu Warsi merasa sungkan, karena Tyas yang sering tiba tiba pingsan


"Saya paham Bu, Sebenarnya saya sangat senang jika Angga dan Tyas berjodoh, namun nyatanya Tuhan berkehendak lain, baru kemarin lusa tiba-tiba Angga bahas pernikahannya, ternyata yang di maksud oleh Angga saat ini, bukan pernikahan tapi malah kematian " ucap bu Saras sedih


"Saya ikut prihatin bu, saya juga tidak menyangka jika ko Angga pergi secepat ini" ucap bu Warsi


"Siapa yang mengira bu, paginya masih lari-lari sama Tyas dan Icha, dan kita masih bercanda. Kalau Tyas shock saya paham karena Tyas yang menemukan Angga pertama kali saat pingsan. Apa lagi mereka sangat dekat, walaupun mereka tidak nengikrarkan kata pacaran tapi mereka berdua seperti sudah punya ikatan batin yang kuat " ucap Bu Saras menerawang jauhhh " Bu boleh saya minta sesuatu pada Ibu " pinta bu Warsi


"Apa, bu?" tanya bu Warsi kaged


"Saya, minta ijinkan Tyas tetap disini sampai Tyas berkeluarga, kami semua sudah menganggap Tyas sebagai bagian keluarga ini" ucap bu Saras


"Selama Tyas tidak keberatan, kami tetap mengijinkan, semua keputusan di tangan Tyas bu" jawab bu Warsi


"Terima kasih, bu, kami bersyukur sekali Putri ibu masuk di keluarga kami, sekarang kami sudah kehilangan Angga dan kami tidak ingin berpisah dengan Tyas " ucap bu Saras dengan suara parau.


Mereka berdua larut dalam kesedihsn masing - masing. Bu Saras sedih karena kepergian Angga mendadak, bu Warsi sedih karena Tyas limbung dengan keadaan ini.


Jam 12 siang Tyas masuk kamar berniat untuk melaksanakan sholat dzuhur. Setelah sholat dzuhur Tyas nderes sebentar kurang lebih 1 juz, karena kantuknya Tyas tertidur di atas sajadah dan masih pakai mukena.


Karena masih dalam keadaan berkabung kantor di liburkan sampai hari pemakaman. Karyawan kantor pun dengan suka rela memberikan bantuan dalam persiapan pemakaman Angga.


Persiapan kebutuhan untuk acara penghormatan terakir dan pemakaman sudah selesai, karangan bela sungakawa dari rekan bisnisnya juga sudah memenuhi halaman rumah Bu Saras.


Dengan tangannya sendiri Tyas dan Sandra merangkai bunga Melati dan Mawar tanpa di bantu oleh siapapun. Bukan tak ada yang ingin membantu namun memang mereka berdua tidak mau di bantu karena ingin memenuhi permintaan terakirnya Angga.


Dengan berusaha kuat mereka berdua terus merangkai bunga - bunga Melati dan mawar merah segar hingga selesai.


Sedang bu Saras selalu ditemani oleh bu Warsi dalam menerima tamu yang datang dalam rangka mengucapkan berbela sungkawa. Karena dalam penghormatan terakir hanya kerabat dekat yang diperbolehkan datang maka yang lainnya datang ke kediaman bu Saras.

__ADS_1


__ADS_2