
Setelah kejadian malam itu semua masih nampak biasa, Angga dan Tyas selalu berangkat ke kantor bersama sama. Bagi Angga masih bisa bersama dengan Tyas sudah menjadi kebahagiaan tersendiri walau waktu kebersmaannya tidak akan lama lagi.
Seperti hari ini mereka berada dalam satu mobil menuju ke kantor. Angga mengemudi mobil dengan santai sedang Tyas duduk di sebelah Angga.
"Yas, nanti kita pulang agak siang aku mau jalan - jalan " ucap Angga sambil terus mengemudi mobilnya.
"Bukankah hari ini kita banyak kerjaan, Ko?" tanya Tyas heran dengan perkataan Angga, karena selama ini Angga hanya kerja, kerja dan kerja.
"Sekali-kali, Yas, mumpung masih bisa jalan sama kamu " ucap Angga enteng seolah tanpa beban
Tyas tidak menjawab pikirannya sudah tidak tenang dengan sikap Angga akir akir ini, namun Tyas masih tetap berpikir positif.
Sesampainya di kantor Angga dan Tyas langsung masuk ruangannya masing-masing, Angga menyuruh Tyas untuk memanggilkan pak Dion untuk menghadap.
Tanpa menunggu lama pak Dion langsung datang ke ruangan Angga, Angga langsung memberi arahan pada pak Dion dengan beberapa pekerjaan yang biasanya ditangani Angga. Karena menurut pak Dion, Angga sangatlah janggal, pak Dion memberanikan diri untuk bertanya.
"Maaf, Pak bukannya apa ?, kenapa tugas ini diserahkan ke saya, bapak mau kemana ?" tanya pak Dion penasaran
"Oh, rencana mau liburan dan mungkin jika Tyas menikah pasti akan mengundurkan diri juga kan " jawab Angga santai namun masih menyimpan misteri.
"Oh, Baiklah " jawab pak Dion mengerti
Setelah jam istirahat Angga langsung mengajak Tyas untuk makan siang di luar, Tyas mengikuti tanpa banyak tanya.Pantai kenjeran yang menjadi tujuan Angga, setelah memarkir mobilnya Angga langsung mengajak Tyas untuk duduk di bibir pantai.
Angga memesan kelapan muda dan juga beberapa camilan untuk di jadikan teman,Tyas masih belum bisa mencerna dengan keanehan Angga.
"Kamu, suka Yas,?" tanya Angga pada Tyas, namun pandanganya menatap jauh didepan.
"Suka, " jawab Tyas singkat
"Kamu, gak ingin tahu! kenapa aku ngajak kamu kesini ?" tanya Angga lagi tanpa menoleh ke Tyas.
"Enggak" jawab Tyas singkat sambil menggelengkan kepala, walau Angga tak melihatnya.
__ADS_1
"Sengaja, Aku ajak kamu ke pantai, karena kamu suka pantai, Aku takut tak ada kesempatan lagi untuk mengajak kamu ke Bali, seperti dulu - dulu, makanya Aku bawa kamu ke sini," ucap Angga
"Maksudnya ?" tanya Tyas tambah tak mengerti dengan Ucapan Angga.
"Karena, Aku ingin mengukir kenangan indah bersamamu sebelum kita berpisah nantinya " ujar Angga dan menoleh ke arah Tyas.
Tidak ada jawaban dari Tyas, dengan refkek Tyas langsung menatap ke arah Angga, tatapan mata mereka bertemu seolah tidak ingin saling berpisah. Air mata Tyas langsung jatuh tanpa bisa di bendung, hati terasa sesak tanpa sebab, seolah Angga pamit untuk pergi dalam jangka waktu yang lama itulah yang ditangkap Tyas.
"Sudah, jangan pikir Aku akan meninggalkanmu, Yas, bukankah jika kamu menikah kita tidak mungkinkan jalan bareng kayak gini " ucap Angga masih menatap Tyas penuh arti
Tyas semakin tak bisa membendung airmatanya, dengan ujung hijabnya di mengusap airmatanya dan tatapannya kembali menerawang jauh ke arah laut.
"Maaf, jika membuatmu sedih, dan maaf sayang, Aku tidak akan meminjamkan bahuku untuk kamu bersandar " ucap Angga masih menatap Tyas dengan nada sedikit bercanda
Tyas langsung menoleh ke arah Angga, dengan mata masih sembab airmata.
"Tahu, " jawab Tyas " Memang Koko mau kemana ? seolah Koko mau pergi jauh " tanya Tyas
"Aku, aku gak kemana mana, yang pasti ragaku akan tetap berada di kota ini " jawab Angga enteng "Sudah senja, sebentar lagi waktunya magrib kamu ganti baju dan sholat dulu nanti kita lanjut ke mall, mau beli hadiah buat anaknya Sandra " ucap Angga dan langsung berdiri di ikuti Tyas.
Begitu Tyas selesai melaksanakan ibadah sholat magrib, Angga langsung membawa mobilnya menuju tunjungan plaza untuk beli hadiah. Sampai di tunjungan Angga langsung memarkir mobilnya, restaurant tujuan Angga yang pertama. Setelah dari restaurants Angga mengajak Tyas untuk menuju toko emas terbesar yang ada di tunjungan plaza.
"Kesini mau beli apa ko?" tanya Tyas ingin tahu
"Yang pasti untuk beli emas, masa mau beli es cream " jawab Angga singkat "Aku mau beli untuk Sandra dan Tante juga buat kamu " ucap Angga
"Buat ku?" tanya Tyas tidak percaya
"Iya, tapi maaf Aku tidak akan membelikan cincin untukmu" ucap Angga singkat
"Mbak, tolong saya minta yang satu set tapi yang tidak ada cin cinnya " pinta Angga pada pelayan.
"Sebelah sini pak, banyak pilihan atuq bapak mau pesen model sendiri juga bisa" jawab pelayan toko mas dengan sopan
__ADS_1
"Yang ada saja mbak, biar bisa langsung di pakai " jawab Angga mengikuti langkah sang pelayan toko menuju etalase yang di maksud.
"Yas, pilih yang kamu suka dan sekalian pilihan buat Tante dan Sandra " pinta Angga pada Tyas yang berdiri di belakangnya.
"Aku, mau kasih hadiah ke Sandra, karena dia bahu melahirkan, kalau untuk Tante bulan depankan Tante ulang tahun dan untuk bude Lasmi bair sama rata " Angga menjelaskan maksudnya karena menangkap keraguan di hati Tyas.
Tanpa menjawab Tyas langsung memilih 4 paket perhiasan dengan model yang berbeda. Karena menurut Angga pilihan Tyas sudah sesuai dengan hatinya, Angga langsung membayarnya di kasir.
"Ko, tidak beli untuk Icha ?" tanya Tyas dan berusaha mengingatkan
"Ehmm, gak usah Icha sudah banyak Aku belikan " jawab Angga enteng dan berjalan ke toko mainan anak - anak.
Dengan sigap Angga langsung memilih beberapa mainan anak-anak dengan jumlah agak lumayan banyak. Angga meminta barangnya untuk di kirim langsung ke rumah karena Angga tidak mau ribet bawa barang belanja an yang banyak.
Jam sepuluh malam Angga dan Tyas sampai di rumah, Sandra dan bu Saras belum tidur begitu juga bude Lasmi karena bayinya Sandra yang kecil rewel. Begitu masuk rumah Angga langsung menemui dan memberikan perhiasannya tadi ke Sandra, bu Saras dan bude Lasmi. Ketiganya menerima dengan senang hati tanpa menaruh rasa curiga, namun tidak dengan Tyas.
Setelah membersihkan diri Angga turun kembali ke kamar Sandra untuk melihat anak bayi Sandra yang masih rewel.
"Coba, aku gendong " pinta Angga dan langsung mengambil bayinya dari gendongan Sandra
Bayinya Sandra langsung diam, dalam gendongan Angga" Tant, San istirahatlah dulu bair aku gendong dulu bayinya " pinta Angga
"Ngga, terima kasih hadiahnya" ucap bu Saras, Angga tidak menjawab hanya senyum
"Ko, terima kasih hadiahnya" ucap Sandra pula " Bukankah ulang tahun Mama masih bulan depan ko ?" tanya Sandra, heran
"Takut, lupa " jawab Angga sekenanya.
Sandra dan bu Saras saling pandang mendengar jawaban Angga, karena tidak biasanya Angga lupa dengan ulang tahun keluarganya.
"Takutnya pas Tante ulang tahun aku harus keluar kota " ucap Angga yang mengerti akan reaksi Sandra dan bu Saras.
Akirnya Sandra dan bu Saras bisa menerima alasan Angga, bayinya Sandra masih terlelap dalam pangkuan Angga sedang Sandra merebahkan diri di kasur begitu pula bu Saras ikut merebahkan diri di sebelah Sandra.
__ADS_1
Di dalam kamar Sandra tidak ada kata dan suara hanya kesunyian, karena hanya Angga yang terjaga.
Tyas di dalam kamarnya juga tidak bisa tidur dengan kegelisahan hatinya yang tak menentu . Akirnya Tyas mengambil air wudhu dan membaca kitab suci Al qur'an untuk menenangkam hatinya dari kegelisahan.