
2 jam telah berlalu tim dokter yang di pimpin Mario telah keluar dari ruang ICU. Mario langsung meminta dokter lain menyampaikan berita keadaan Angga, karena Mario harus mencari dokter iwan untuk meneliti rekam medisnya Angga yang dulu.
"Keluarga pak Anggara Setiawan " suara dokter menyebutkan nama Angga
"Iya, kami keluarganya " sahut bu Saras langsung berdiri
"Silahkan ikut saya ke ruangan" ucap Dokter dan langsung berjalan menuju ruangan dokter tersebut.
Bu Saras ditemani oleh Tyas menuju ruang dokter dan juga Taufiq ikut sesuai perintah Mario, untuk menjaga bu Saras dan Tyas, karena Mario tahu keadaan Angga sudah fatal.
"Silahkan, " dokter mempersilahkan, karena dokter sudah kenal dengan Taufiq dan juga sudah mendapat penjelasan dari Mario dokter tidak mempermaslahkan Taufiq ikut serta.
"Bagaimana keadaan Angga pak ?" tanya bu Saras kuwatir
"Maaf, bu mbak kita saat ini hanya bisa berdoa mengahrap mukjizat dari Tuhan. Pasien mengalami koma karena pembuluh darah otak kanan dan kiri sudah pecah, apa penyebabnya dokter Mario masih mengecek rekam medis pasien terdahulu serta masih menghubungi dokternya dulu " jelas dokter
"Ya, Tuhan Angga" ucap bu Saras dan langsung pingsan
Dokter dan suster dengan sigap langsung memberi pertolongan pada bu Saras. Sedangkan Tyas sudah nangis jatuh terkulai lemas Taufiq dengan lembutnya menguatkan Tyas.
"Istiqfar mbak, " ucap Taufiq dan memeluk Tyas.
Tyas tidak menjawab hanya menangis dan menyebut nama Angga. Karena Taufiq takut Tyas terguncang jiwanya, Taufiq segera sms orang tuanya untuk datang ke Surabaya segera.
Tidak lama bu Saras sudah sadar dari pingsannya, Tyas langsung menghampiri dan menggenggam tangan bu Saras.
"Yas, Angga Yas, ya Tuhan Angga " hanya itu yang keluar dari mulut bu Saras yang masih terbaring di atas ranjang dokter.
"Kita berdoa untuk kesembuhan Ko Angga Bu " ucap Tyas dengan deraian air mata yang mengalir semakin deras.
Dokter dan Taufiq berbincang bincang sedikit menjauh " Pak Taufiq, tetap jaga mbaknya pak Taufiq sudah tahu kan " ucap Dokter menasehati Taufiq
"Iya, dok saya pasti jaga " jawab Taufiq meyakinkan
"Bu, sekarang kondisi ibu sangat lemah jangan bergerak, dan ibu harus di rawat di rumah sakit, ini makan dulu bu " jelas suster yang merawat bu Saras.
"Mbak, mbak Tyas juga makan ya, inshaallah ko Angga selamat " hibur Taufiq.
Tyas tidak menjawab hanya menggelengkan kepala, dan terus menangis.
__ADS_1
"Kalau begitu mbak ambil air wudhu dan sholat mbak atau ngaji supaya mbak tenang " masihat Taufiq
"Baiklah, sekarang jam berapa ?" tanya Tyas
"Jam 3 mbak, sudah waktunya masuk ashar" jawab Taufiq.
"Saya ke mushola dulu ya bu, sus tolong jaga ibu dulu ya " pinta Tyas pada suster jaga
Tyas dan Taufiq berjalan menuju mushola tanpa suara, walau Taufiq lelah sebab semalam tidak tidur karena jadwalnya jaga malam sama Mario, Taufiq sama sekali tidak mengeluh.
Samapi mushola tyas langsung ambil air wudhu dan kebetulan pas adzan ashar tiba. Tyas dan Taufiq ikut sholat berjamaah di mushola rumah sakit, selesai sholat Tyas tidak langsung keluar Tyas masih melanjutkan untuk berdzikir. Di luar mushola Taufiq sedang ngobrol dengan suster jaga kebetulan sedang istirahat, sambil WA nan sama orang tuanya yang siap siap untuk berangkat ke Surabaya.
"Pak Taufiq, apa ada jadwal piket?" tanya suster laki laki yang menemani Taufiq duduk di teras mushola
"Enggak pak, ini lagi menemani mbak saya kebetulan majiaknnya sakit dan di rawat di rumah sakit ini " jawab Taufiq
Setelah setengah jam wiridan Tyas keluar dari mushola dan mengajak Taufiq untuk kembali ke ruangan tempat bu Saras di rawat. Sebelum ke ruangan bu Saras Tyas ke kamar ICU untuk melihat keadaan Angga walau hanya ngimtip di kaca kecil.
Angga masih barada di ruang ICU belum ada yang boleh jenguk, banyak selang dan mesin monitor menempel di tubuh Angga. Ketika melihat keadaan Angga Tyas tak kuasa menahan beban tububnya, Taufik dengan sigap memapah Tyas mencari duduk di kursi.
Pak Wirawan dan Merry ganti melihat keadaan bu Saras yang di rawat di ruangan yang tak jauh dari ruang ICU.
Di kediaman bu Saras, Sandra sedang sibuk dengan kedua bayinya dan juga Clarisa yang terus terisak menangis. Yuni orang yang merawat Clarisa akirnya datang bersama Bu Lisa atas perintah pak Wirawan.
Waktu terus bergulir tidak ada tanda tanda perubahan pada tubuh Angga. Pada jam 7 malam akirnya Mario memutuskan semua keluarga untuk menjenguk 1 persatu.
Sandra, dan Clarisa datang dengan sopirnya karena Mario sibuk dan tak bisa menjemput. Pak Wirawan dan Merry belum beranjak dari rumah sakit sejak siang tadi.
Keadaan Bu Saras masih lemah, sehingga untuk menuju ke ruangan Angga harus naik kursi roda. Tyas tidak henti hentinya menangis dan selalu berpegangan tangan pada Taufiq.
Saat, berada di ruang ICU untuk menjenguk Angga, Sandra didampingi Mario dan menangis tersedu sedu " Ko, bangun ko, jangan tidur ko, jangan tinggalin kami ko, bukankah Koko ingin bermain main dengan anak anaku, bukankah Koko janji tidak akan ninggalin kami " rancau Sandra yang sudah mulai lemas. Mario dengan sabarnya menopang dan menguatkan sang istri
"Ko, bangun ko kami sangat mencintaimu ko, kamu dengarkan? Ko?" Sandra semakin merancau mengenggam erat tangan Angga. Sedang Angga sama sekali tak bergeming.
Sandra keluar dari ruangan, ganti dengan bu Saras yang masuk, dan Mario yang mendampingi. Tak jauh dari Sandra bu Saras juga meminta Angga untuk bangun dan sadar.
Tyas masuk di dampingi Taufiq sang adik "Ko, apa Koko tega ninggalin aku?, aku mohon bangun Ko, apa ini arti cinta yang Koko katakan, bangun Ko apa Koko tega meninggal kan orang yang sangat mrnyintaimu " suara Tyas semakin melemah di iringi deraian airmata akirnya Tyas limbung tak sadarkan diri.
Dengan di bantu suster Taufiq mengangkat Tyas di baringkan di atas ranjang pasien. Tyas segera di geledek dan di masukan ke dalam ruang inap. Semua yang melihat Tyas pingsan langsung mengikuti ke ruangan Tyas, Tyas di tangani langsung oleh Taufiq.
__ADS_1
"Bagaimana Fiq?" tanya Mario
"Tekanan darah lemah, karena terlalu shock " jawab Taufiq sedih
"Saya, tahu, jaga mbak mu dia pasti lebih terguncang dari siapa pun " masihat Mario " Sebenarnya ko Angga dan Tyas saling menyintai, tapi aku salut dengan cinta mereka, namun mereka memilih lebih mencintai TuhanNya, mungkin ini jalan terbaik buat mereka yang Tuhan rancang " tambah Mario
"Iya, pak inshaallah saya paham itu, dan sebentar lagi ibuk juga sampai tadi bilang sudah sampai mojokerto " jawan Taufiq
Merry dan Pak Wirawan juga di ijinkan untuk menjenguk Angga di ruang ICU. Airmata penyesalan Merry tumpah ruah, penyesalan tinggalah penyesalan, walau Merry tak sehisteris Sandra, Tyas dan bu Saras, dari sikapnya Merry benar - benar menyesal telah menyia nyiakan dan menyakiti Angga dulu.
"Pa, seandainya dulu Merr tidak egois dan kecelakaan itu tidak terjadi, tidak ada hari seperti hari ini, Merr benar- benar bodoh pa " adu Merry pada pak Wirawan
"Semua sudah takdir Merr, yang terpenting kita doakan untuk kesembuhan Angga, tadi Papa sudah telpon pak pendeta supaya pada kebaktian besok minta bantuan dari para jemaat " ucap Pak Wirawan masih tenang walau airmatanya juga sudah tidak bisa di bendung.
"Yas, Yas bangun Yas temani aku sebentar " pinta Angga yang berdiri di dekat ranjang Tyas
"Ko, kamu sudah sadar ko?" tanya Tyas tidak percaya
"Aku, baik - baik saja sayang " ucap Angga di iringi senyum bahagia
Tyas bangkit dari tempat tidurnya dan mengikuti langkah Angga menuju sebuah taman yang Indah. Angga memakai jas warna putih dan juga celana warna putih sangat cocok membuat persona tersendiri.
"Ko, bajunya bagus mau kemana ?" tanya Tyas bingung
"Duduk sini sebentar sayang, aku ingin kamu temani aku menikmati indahnya taman ini walau hanya sebentar " ucap Angga lembut penuh kasih sayang
"Ko, jangan pingsan lagi jangan tinggal kan aku ko, aku sangat mencintaimu ko " ucap Tyas iba penuh permohonan
"Aku, tidak kemana - mana sayang, terima kasih sudah mencintaiku dengan tulus sayang" ucap Angga lembut dengan senyum tulus sambil mengelus kerudung Tyas.
"Aku, takut ko, aku takut kita berpisah" ucap Tyas sedih
"Lihat," ucap Angga sambil memandang wajah Tyas " Setahuku Tyas ku, seorang yang yang tabah , kuat dan tidak cengeng kenapa sekarang jadi cengeng begini, kita tidak akan berpisah selamanya" ucap Angga
Sayup - Sayup terdengar suara bu Warsi melafal surat yasin dan memanggil nama Tyas penuh kasih sayang.
"Ko, seperti dengar suara ibu ?" tanya Tyas
"Pergilah, temui ibu, beliau sangat mencintai dan menyayangimu, tetap jadilah Tyas yang Taat terhadap Tuhan dan berbakti pada kedua orang Tua " ucap Angga dengan senyum tulus tenang penuh kedamaian.
__ADS_1