Bukan Jodoh

Bukan Jodoh
Part 83


__ADS_3

Sebelum magrib Farida sudah pulang, Farida pulang lebih cepat karena Farida tidak menunggu teman teman lainnya. Karena habis Ashar hanya mengaji Al-Quran jadi tidak sampai 1 jam dan untuk pelajaran lainnya di lanjut habis magrib dan setelah isya'.


"Assalamu'alaikum " ucap Farida saat masuk rumah


"Wa'alaikum salam " jawab Tyas yang berada di ruang tengah bersama Angga dan Clarisa.


"Mbak Fafa ngajinya cepet banget ?" tanya Clarisa penasaran


"Iya, lapar makan dulu habis ini mbak berangkat lagi," jawab Farida" Bagaimana Cha?" tanya Farida pada Clarisa


"Icha boleh tidur di sini mbak " jawab Clarisa bahagia


"Alhamdulillah, yesss, nanti tidur sama aku ya, aku mau makan dulu nanti keburu magrib lagi" ucap Farida bahagia. Farida langsung pergi ke meja makan untuk makan sendiri.


"Koko nanti jam berapa ke hotelnya ?" tanya Tyas pada Angga


"Aku mau tidur di sini juga " jawab Angga tenang


"What?," ujar Tyas


"Iya, aku dan Icha sudah minta ijin ke bapak dan ibuk mu untuk tidur di sini, lagian beliau juga sudah mengijinkan, mana mungkin aku membiarkan Clarisa di sini tanpa aku. Ya, aku tahu kamu dan keluargamu pasti mampu jaga in Icha, namun aku juga kepingin menikmati Indah dan sejuknya udara pagi di kampung " jawab Angga panjang lebar.


Malam ini karena ada tamu pak Sholeh libur tidak mengajar ngaji di masjid. Pak Sholeh menemani Angga untuk ngobrol di ruang tengah sedangkan bu Warsi, Tyas dan juga Clarisa duduk nonton TV di toko sambil jaga toko.


Angga bertanya tentang keadaan kampung dan juga bertanya tentang adik adik Tyas yang no 2 dan 3. Dengan senang hati pak Sholeh menceritakan tentang suasana di kampung serta tentang anaknya yang no 2 dan 3. Angga dan pak Sholeh sangat akrab seperti sudah lama kenal, dan bisa langsung nyambung saat berbincang tentang apa saja.


"Assalamu'alaikum, Cha kamu dimana ?" teriak Farida saat pulang dari ngaji

__ADS_1


"Wa'alaikum salam, jangan teriak teriak Fa,itu Icha di toko sama ibuk dan mbak mu " jawab pak Sholeh yang duduk di ruang tamu bersama Angga


"Bahagia ya pak punya anak anak yang nurut dan patuh pada orang tua " ujar Angga mengomentari keluarga pak Sholeh


"Alhamdulillah Ngga, semua ini rejeki dari ALLAH dan amanah yang di titipkan oleh Allah kepada bapak untuk di didik supaya selalu kejalan Allah " jawab pak Sholeh bijak


"Setiap hari jam segini Fafa baru pulang dari ngajinya? Kapan waktu untuk belajar San mengerjakan tugas sekolahnya ?" tanya Angga penasaran karena dari siang melihat aktifitas Farida seperti kitiran.


"Biasanya pulang sekolah, atau sepulang dari ngaji jika belum selesai di lanjut habis sholat subuh, sekalian latihan jika mondok nanti biar tidak kaget " ujar pak Sholeh menjelaskan pada Angga.


Adzan subuh berkumandang semua keluarga pak Sholeh sudah bangun, pak Sholeh pergi ke masjid untuk jamaah bu Warsi Tyas dan Farida sholat berjamaah di rumah. Setelah sholat bu Warsi, Tyas dan juga Farida masak bereng bereng di dapur. Clarisa dan Angga masih terlelap dalam tidurnya dan masih berkelana di alam mimpinya.


Harumnya bau masakan dan suara gemlontang di dalam dapur baru bisa membangunkan Clarisa dan Angga. Angga pergi ke kamar mandi dan langsung mandi sedangkan Clarisa setelah cuci muka dan sikat gigi menonton TV di ruang tengah.


Jam 6 pagi Pak Wirawan sudah sampai di rumah pak Sholeh bersama sang sopir. Clarisa menyambutnya dengan senang hati karena pak Wirawan menepati janjinya untuk ikut menemani Clarisa bermain di sawah.


Mereka berjalan menyusuri pematang sawah, Clarisa dan Farida tak henti hentinya berceloteh dan mengomentari apa saja yang di lihatnya.


Tyas menunjukan beberapa tanaman pada Clarisa mulai dari pohon pisang, pohon pepaya, pohon ketela, pohon lombok,terong beberapa sayuran yang ada di sawah pak Sholeh. Clarisa sangat antusias mendengarkan dan ikut memetik cabe yang sudah merah pak Wirawan dan Angga yang mengamati mereka bertiga turut bahagia.


"Sudah lama papa tidak melihat senyum bahagianya Icha, Ngga, selama ini kita hanya disibukan dengan kerja kerja dan kerja, kadang papa sendiri tidak paham dengan pemikiran Merry. Merry terlalu fokus dengan pekerjaannya sampai sampai lupa kalau ada Icha yang harus diperhatikannya, dulu dia sibuk bermain dan sekarang sibuk kerja. Entahlah papa benar benar tidak paham dengan jalan pikirannya, berkali kali papa ingat kan tapi tetap saja sama" keluh pak Wirawan pada Angga yang berdiri di sampingnya


"Kapan kapan biar Angga bantu untuk bicara sama Merry Pa, Papa jangan kawatir Angga tetap menyayangi Icha sama seperti dulu dan samapi kapanpun" ujar Angga


Saat Angga dan Pak Wirawan sedang ngobrol Tofa menghampiri mereka berdua dengan membawa kacang panjang dan alat semprot obat padi.


"Pak Wirawan, selamat pagi pak" sapa Tofa saat sudah di dekat pak Wirawan

__ADS_1


"Tofa, pagi kamu ada di sini juga, dari mana ?" tanya pak Wirawan sedikit kaget " Kenalkan ini Angga anaku, Ngga ini Mustofa arsitex yang Papa ceritakan itu" ucap Pak Wirawan memperkenalkan Tofa pada Angga


"Selamat pagi Pak Angga, kenalkan saya Mustofa " ucap Tofa sopan dan ramah langsung berjabat tangan " Itu dari nyemprot padi dan memetik kacang panjang " ujar Tofa


"Angga, " jawab Angga singkat namun sopan dan ramah


"Yas, bagaimana kabarnya?, pulang kok gak kabar kabar " tanya Tofa saat melihat Tyas yang sedang memetik cabe


"Eh, kang Tofa, baik kang , dari mana kang ? panen kacang kang ?" tanya Tyas beruntun


"Dari nyemprot padi Yas, iya ini pas lihat kacangnya kok sudah waktunya metik, ya tak ambil saja " jawab Tofa ramah


"Bupuh sama pak puh bagaimana kabarnya kang?" Tyas bertanya tentang kedua orang tua Tofa


"Alhamdulillah beliau sehat semua, kamu kalau ada waktu main kerumah dong, bapak sama ibuk kepingin ketemu kamu, sekarang Anis juga sudah hamil sebentar lagi lahiran, " ujar Tofa "Kapan kamu nyusul ?" tanya Tofa pada Tyas yang berdiri di pematang sawah


"Ya kapan kapan aku kesana kang, sekalian pingin ketemu mbak Anis, suami mbak Anis orang mana kang?" tanya Tyas penasaran


"Temanku mondok dulu Yas, mainlah kerumah mumpung Anis di sini, soalnya habis lahiran Anis ikut suaminya lagi di pesantren," jawab Tofa


"Ohhh, suaminya mbak Anis ngajar di pesantren " ujar Tyas


"Iya, kamu sendiri kapan nikah ?" tanya Tofa penuh sekidik


"Nunggu ada jodoh, dam nungggu Toufiq lulus kuliah dulu kang " jawab Tyas ramah


Angga cemburu saat mendengar percakapan Tyas dan Tofa yang begitu akrab, namun tak ada yang mengetahui akan kecemburuan Angga. Angga begitu rapi menyimpan rasa cemburunya.

__ADS_1


__ADS_2