
Pagi - pagi sekali semua keluarga bu Saras sudah di sibukan dengan persiapan pemakaman Angga yang akan di laksanakan siang ini di TPU.
Karena takut Tyas jatuh pingsan maka Tyas tidak di perbolehkan datang saat acara penghormatan terakir.
Tyas baru diperbolehkan masuk saat mau penutupan peti, dimana semua keluarga boleh melihat wajah Angga yang terakir kalinya.
Dengan di gandeng oleh Louise, Tyas melangkah menuju peti dengan perasaan penuh sesak, dan saat berada berada di dekat peti Angga, Tyas melihat wajah Angga yang begitu tenang. Tyas meletakan setangkai bunga Mawar dan Melati di dalam peti Angga dengan derai airmata yang sudah tidak bisa dibendung lagi.
Setelah serangkaian acara penghormatan terakir dan penutupan peti, jenazah Angga di angkat dengan ambulance menuju TPU.
Arak - arak an dari pihak keluarga dan karyawan kantor serta isak tangis mengiringi kepergian Anggara Setiawan.
Acara pemakaman berjalan dengan khidmad. Ketika satu persatu orang telah pergi meninggalkan area pemakaman, Tyas, Sandra, bu Saras, Clarisa, Mario, pak Wirawan dan Merry masih setia duduk mengitari makam Angga.
Tidak ada kata yang terucap dari mereka hanya isak tangis yang memiliki sejuta makna dan pasti hanya Tuhan dan yang bersangkutan yang tahu.(bukan Author lo ya)
"Ngga, berbahagialah bersama bapa di Syurga " ucap bu Saras.
"Ko, aku ikhlas tapi aku akan tetap kangen denganmu " ucap Sandra
"Ko, akan Aku ingat pesanmu " ucap Tyas "Aku mencintaimu ko" bisik Tyas lirih sambil menegang batu nisan Angga.
"Pa, Icha sayang sekali sama Papa " ucap Clarisa sedih
"Ngga, berbahagiah bersama di Syurga, maafkan aku " ucap Merry
Setelah mengucapkan kata terakir semua pergi meninggalkan makam Angga dan menuju rumah masing - masing.
Seminggu sudah kepergian Angga, bu Saras akirnya mulai kembali menghandel perusahaannya. Melihat Tyas yang masih sedih bu Saras melarang Tyas pergi ke kantor untuk bekerja.
Ketika bu Saras masuk Kantor semua karyawan menyambut dengan suka cita walau masih diselimuti duka cita. Kepergian Angga yang mendadak meninggalkan duka mendalam bukan hanya untuk keluarga tapi juga bagi karyawan kantor.
__ADS_1
Di kantor Angga di kenal sebagai pimpinan yang disiplin dan baik hati, tak pernah sekalipun Angga berperilaku frontal pada karyawannya. Rendah hati dan selalu bijak dalam mengambil keputusan, serta menghormati karyawannya apapun posisi sang karyawan.
Sesampainya di kantor bu Saras langsung memanggil pak Dion untuk menghadap.
"Selamat, pagi Bu" sapa Pak Dion sopan, saat sampai di ruangan Bu Saras.
"Selamat pagi Pak Dion " jawab Bu Saras ramah walau masih menyimpan duka yang mendalam.
"Pak, minta tolong siapkan berkas berkas yang harus saya kerjakan " bu Saras memberi perintah pada pak Dion
"Baik, Bu. Namun setelah saya cek ternyata Almarhum pak Angga sudah mengerjakan semua, tinggal berkas yang sebelah sini, itupun tentang pekerjaan bulan depan " jelas Pak Dion sambil menunjukan tumpukan berkas di salah satu rak lemari
"Terima kasih pak Dion. Pak apa ada pesan khusus dari Almarhum Angga ?" tanya bu Saras serius
"Pak, Angga hanya pesan agar saya mengambil alih pekerjaannya selama pak Angga liburan dan Pak Angga juga pesan jika Ibu pasti ke kembali ke kantor lagi " ucap Pak Dion menjelaskan
"Ternyata ini maksud dari semua ucapan Angga beberapa waktu lalu , saya benar - benar tidak menyangka Angga bisa pergi secepat ini " ucap bu Saras sedih
"Tyas tentu masih shock, tapi Tyas tetap bekerja seperti biasa " ucap bu saras
"Saya harap Tyas bisa tabah, saya senang jika Tyas tetap bekerja di sini " ucap Pak Dion.
Waktu berlalu sangat lamban, itulah yang dirasakan oleh seorang Tyas. Tyas seorang wanita yang berusaha tegar saat di tinggal pergi sang pujaan hatinya untuk selama lamanya.
Satu bulan telah berlalu, Tyas sudah bisa beraktifitas seperti biasa walau separuh hatinya telah hilang. Satu bulan setelah kepergian Angga, kamar Angga masih tertata sama seperti dulu. Entah kenapa hari ini sepulang dari kantor Tyas ingin merebahkan tubuh ya di ranjang Angga.
Setelah lelah dari kantor Tyas masuk kamar Angga dan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil memeluk bantal milik Angga. Tak perlu butuh lama Tyas sudah terlelap dalam mimpinya. Belaian lembut tangan Angga mendarat di pioi Tyas. Tyas segera terbangun dan begitu bahagia bisa merasakan kehadiran Angga.
Tidak ada kata yang terucap di antara mereka berdua, mereka tersenyum bahagia, Tyas bisa menyandarkan tubuhnya dalam dekapan Angga. Dengan lembut dan penuh kasih sayang Angga memeluk dan membelai Tyas yang berada dalam dekapannya.
"Yas, Yas, bangun " suara Sandra telah membiarkan mimpi Tyas
__ADS_1
Tyas langsung bangun dang mengerjap ngerjapkan matanya" Ce, "ucap Tyas
"Tumben, tidur di sini lagi kangen ?" tanya Sandra lembut
Tyas tidak menjawab hanya mengangguk pelan dan di iringi jatuh ya butiran kristal dari matanya.
"Aku sebenarnya juga kangen sama Ko Angga, Yas, kita keluar sebentar lagi magrib Mama tadi nyari in kamu" ucap Sandra
Mereka berdua keluar dari kamar Angga, Sandra pergi ke kamarnya dan Tyas juga ke kamarnya untuk melaksanakan sholat magrib.
Jam 8 malam semua telah berkumpul di ruang tengah tidak terkecuali sekalipun, karena Mario juga sedang di rumah.
"Yas, Ibu ingin kamu tetap di sini bersama kami, ada ataupun tidak ada Angga. Kami tahu perasaan kalian berdua, Ibu harap kamu tetap bersaudara dengan Sandra seperti dulu dulu " ucap bu Saras penuh harap
"Iya, Yas aku sudah tidak punya saudara lagi, kamu orang yang sangat di cintai dan di sayangi oleh almarhum maka kami menganggap kamu seperti belahan jiwa almarhum, kami sangat membutuhkan kamu Yas " pinta Sandra penuh harap
"Aku, akan di sini bersama kalian semua, inshaallah saya akan menyayangi kalian sama seperti dulu " ucap Tyas
Mereka bertiga berpelukan dan yang lain juga ikut senang melihat Tyas sudah mulai ikhlas dengan kepergian Angga.
Tamat.......
Terima kasih kepada semua yang sudah dengan setia mendukung novel karyaku ini, semoga kalian semua di limpahkan keberkahan dunia akhirat.
Semoga melalui tulisan saya ini ada hikmah yang bisa di ambil.
Maaf bila dalam penulisan saya ada kesalahan sengaja ataupun tidak di sengaja. Untuk peran beda keyakinan saya hanya menggunakan sesuai dengan pengalaman saya saja.
Untuk kasus Angga yang pingsan secara tiba tiba, pembuluh darah otak kanan dan kiri yang pecah akirnya koma dan berakhir dengan kematian itu berdasarkan beberapa teman saya yang mengalami hal serupa.
Untuk proses upacara pemakaman saya tulis berdasarkan pengalaman saya di tahun 2011, jadi jika ada kesalahan dalam proses upacara pemakaman saya mohon maaf karena kejadiannya sudah lama sekali.
__ADS_1