
"Yas, Tangi nduk(bangun nak) " suara bu Warsi lembut dan terus membelai tangan Tyas.
Tyas mulai menggerakan tangan dan membuka matanya "Buk, " ucap Tyas langsung menitikan air mata yang sudah tidak terbendung
"Wes nduk, sing sareh, istiqfar(sudah nak, yang sabar) " nasihat bu Warsi, karena bu Warsi sudah tahu yang sebenarnya.
Tidak lama Mario dan Sandra masuk dengan seorang suster. Suster langsung memeriksa tekan an darah nadi dan mengecek infus Tyas.
"Semua sudah normal dok " lapor suster
"Baik, sus, "jawab Mario " Yas, Kamu hanya butuh istirahat, jangan pikir yang macam - macam, supaya besok sehat kembali " nasihat Mario
"Cepat sehat ya Yas, " ucap Sandra sudah tidak bisa membendung airmatanya
"Ce, ko Angga baik - baik saja kan?" tanya Tyas di tengah isak tangisnya
"Kita berdoa bersama sama Yas, aku harus pulang karena anak - anak membutuhkanku, kita hadapi semua bareng - bareng sama seperti dulu Ya, Yas" pinta Sandra sambil memeluk Tyas
"Iya, Ce," jawab Tyas "bagaimana ibu, dan Icha " tanya Tyas
"Mama dengan bude Lasmi, Icha sudah di antar pulang, Ko Angga di temani Ce Merry dan Pak Wirawan " terang Sandra
Sandra dan Mario meninggalkan Tyas dan bu Warsi di ruang rawat inap. Dengan langkah gontai Sandra menuju parkiran untuk pulang dengan Mario. Walau sebenarnya Sandra tak ingin pulang namun kedua bayinya pasti membutuhkan dia.
"Pa, masihkah ada harapan untuk Koko ?" tanya Sandra sambil bersandar di kursi penumpang
"Sulit, menurut ilmu kedokteran sudah tidak ada harapan, kira tunggu perkembangan besok Ma, apapun yang terjadi kita harus siap " ucap Mario berusaha tenang, supaya Sandra juga ikut tenang.
"Yang Aku, takutkan, Tyas " ucap Sandra sedih
"Ya, Aku juga " jawab Mario terus mengendari mobil menuju rumahnya.
Sampai di rumah Sandra langsung membersihkan diri dan melihat kedua bayinya yang sudah tidur terlelap di kamarnya. Sedangkan Mario masih sibuk dengan laptopnya untuk mengetahui perkembangan Angga.
__ADS_1
Makan semakin merambat dengan tenangnya seolah tidak pernah terjadi apa -apa. Tyas sudah tertidur dengan nyenyak efek obat tidur yang di berikan oleh dokter.
Bu Saras dan bude Lasmi tidak bisa tidur, terus memikirkan keadaan Angga. Pak Wirawan dan Merry stanbay di luar ruang ICU mereka berdua duduk di bangku sesekali mengintip Angga dari I lubang kaca pintu. Setiap satu jam ada dokter atau suster yang masuk ke ruangan Angga dan memantau keadaan Angga.
Mentari pagi bersinar dengan cerahnya seolah tidak mengerti ada kemelut duka yang menyelimuti hati anak manusia. Hiruk pikuk aktifitas manusia di dalam rumah sakit sudah mulai ketara. Angga masih damai dan tenang dengan alam barunya, sedangkan warga lainnya sedang bergumul dengan kecemasannya.
"Assalamu'alaikum, Buk, Mbak" sapa Taufiq saat memasuki ruangan Tyas
"Wa'alaikum salam " jawab Tyas dan bu Warsi
"Piye mbak(bagaimana Fiq) , " tanya Taufiq
"Wes, sehat Fiq, aku wes oleh metu to Fiq ?(sudah, Fiq, saya sudah boleh keluar kan) " tanya Tyas sudah tidak sabar untuk keluar
"Piye, Fiq mbakmu wes sehat opo urong ?(bagaimana, Fiq kakamu sudah sehat apa belum) " tanya bu Warsi pelan
"Sampun buk, mbak sampean wes oleh metu, buk niki sarapan riyen sampun kulo tumbasne sekule, niki kaleh mbak nopo(sudah buk, mbak kamu sudah boleh keluar, buk ini sarapan dulu sudah ku belikan nasi, ini sama mbak) " ucap Taufiq sambil memberikan nasi kotak yang di beli dari kantin rumah sakit.
Pagi ini pak Wirawan dan Merry menemui Tyas di ruangannya, Taufiq dan bu Warsi menyambut dengan senang hati. Merry belum pernah ketemu dengan bu Warsi, dan Pak Wirawan langsung me perkenalkan Merry pada bu Warsi,setelah berbasa basi sebentar Merry langsung memeluk Tyas.
"Yas, maaf in aku, semua ini salahku " ucap Merry tulus dengan mata sudah mulai sebab
Untuk memberi ruang dan waktu pada Merry dan Tyas, tanpa di minta pak Wirawan, Taufiq dan bu Warsi keluar ruangan.
"Kenapa Cece, minta maaf pada saya Ce?" tanya Tyas tidak mengerti
"Seandainya dulu aku tidak bertengkar dengan Angga dan tidak terjadi kecelakaan pada Angga, maka hari ini tidak akan pernah terjadi " ucap Merry sudah tidak bisa membendung airmatanya.
"Semua sudah takdir Ce " jawab Tyas
"Kamu,harus kuat Yas, aku tahu Angga sangat mencintaimu, kamu kuat ya Yas, Terima kasih kamu sudah mencintainya dengan tulus " ucap Merry sendu
"Ce, maaf in aku bukan maksud aku merebut hati ko Angga " ucap Tyas
__ADS_1
"Kamu tidak perlu minta maaf yas, semua yang terjadi salahku karena aku sudah meninggalkan Angga di saat- saat sulit dan menyia -nyiakannya, kamu tidak salah, justru aku belajar dari kamu Yas. Kamu maukan tetap berteman denganku dan menganggap aku sebagai saudara dan memaafkan semua kesalahanku padamu dulu " ucap Merry tulus penuh penyesalan.
Keduanya saling berpelukan dan nangis bersama tanpa ada kata yang ada hany deraian air mata.
Setelah mendapat kabar dari rumah sakit Mario dan Sandra langsung meluncur ke rumah sakit. Mario berusaha tidak panik agar Sandra tidak panik karena Angga anfal lagi.
Sesampainya di rumah sakit Mario langsung menuju ruangan Angga dengan Tim medis lainnya. Semua keluarga menunggu di luar dengan perasaan cemas dan Was-was, tidak ada kata yang terucap semua sudah larut dengan pikiran dan berdoa masing- masing.
Mario keluar di ikuti Taufiq dengan mimik wajah yang sangat berbeda, semua langsung berdiri dan menghampiri Mario serta Taufiq.
"Bagaimana " tanya semuanya
"Maaf, kemungkinan besar nyawa Koko tidak bisa di selamatkan, kita sudah melakukan yang terbaik sebaiknya kita masuk dulu sebentar lagi alat alat medis akan dilepas " ucap Mario parau dan dengan mata yang sudah merah.
Sandra, bu Saras, Tyas dan Merry masuk di temani Mario dan Taufiq. Sampai di dalam Tyas sudah mulai lemas lagi dengan sigap Taufiq segera menopang tubuh Tyas. Layar monitor semakin menunjukan grafik menurun dan sampai akirnya pergilah Angga bersama Malaikat menuju rumah Tuhan.
Tyas terus manangis" Innalillahi wainnailaihirooji'un, ko Angga " hanya itu yang keluar dari mulut Tyas dan Tyas sudah tidak sadar lagi.
Taufiq dan suster langsung memberi pertolongan pada Tyas, sedang yang lainnya larut dalam tangisnya. Mario dan tim medis lainnya segera mengurus jenazah Angga untuk di pindahkan ke ruang jenazah.
"Yas, kenapa?, bangun gi, aku gak ingin lihat kamu lemah dan sedih " ucap Angga yang sudah berada di samping ranjang Tyas
"Ko, benar itu kamu kan Ko, ?" ucap Tyas tidak percaya
"Ko, jangan pergi ko aku mohon " ucap Tyas iba dengan linangan airmata
"Kamu harus kuat, aku selalu ada, bangunlah sayang dengar aku sangat mencintaimu dan menyangimu, semua sangat sangat sayang kamu yas, ingat kadonya ya sayang, cepat bangun siapkan kado untukku " pinta Angga lembut penuh kasih sayang.
"Aku ingat ko, aku mencintaimu ko " ucap Tyas
Tyas langsung membuka matanya ketika sadar Tyas hanya bisa menangis lagi. Bu Warsi dengan sabar mendampingi Tyas dengan penuh kasih sayang, Taufiq sibuk membantu Mario dalam mengurus jenazah dan keluarga lainnya.
Sandra segera menghubungi pak Dion dan mengabarkan atas kepergian Angga. Louise ketika mendengar kabar dari Sandra langsung meluncur ke kota Surabaya penerbangan hari ini juga.
__ADS_1