
Kehadiran Clarisa di rumah pak Sholeh membuat para tetangga dan anak anak kecil penasaran. Banyak anak anak kecil yang datang ke rumah pak Sholeh untuk kenalan dan mengajak Clarisa bermain. Clarisa dengan antusiasnya ikut bergabung bermain dengan anak anak lainnya. Angga dan pak Wirawan sangat bahagia saat melihat kehebohan Clarisa dalam bermain, Clarisa terus bermain seperti tidak punya lelah. Farida memberi permainan tebak tebak an pada semua anak kecil yang ada di teras rumah pak Sholeh, tebakan yang di berikan Farida juga tentang pelajaran sekolah sesuai usianya.
Pak Wirawan yang tadinya mau mengajak Clarisa untuk bermain di hotel barunya menjadi gagal, karena Clarisa bersikeras tetap milih tinggal di rumah orang tua Tyas. Demi kebahagiaan Clarisa Angga mengabulkan permintaan Clarisa, begitu juga pak Wirawan tak mau memaksakan kehendak Clarisa. Pak Wirawan dan Angga duduk santai di ruang tamu sambil melihat Clarisa dan teman temannya bermain.
"Hari ini acaranya apa pa ?" tanya Angga pada pak Wirawan
"Pikirku mau ngajak Icha bermain main di hotel, malah anaknya gak mau, ini lagi wa Tofa kalau dia ada di rumah mau mampir mumpung ada di sini " ucap Pak Wirawan sambil mengotak ngatik hp untuk kirim pesan ke Tofa
"Papa seringkah datang ke rumah Tofa ? Sepertinya papa juga sudah begitu akrab dengan Tofa ?" tanya Angga penasaran
"Belum pernah, karena kalau ke kota ini paling mampir ya ku rumah ini, lagian jarang ada waktu senggang seperti sekarang, dengan Tofa ya lumayan akrab dia baik dan berwawasan luas, kerjanya juga rapi " ujar pak Wirawan yang masih mengetik untuk membalas pesan lewat wa.
"Bagaimana perkembangan hotel di sini Pa ?" tanya Angga pada pak Wirawan
"Bagus sekali, bagaimana kalau nanti siang kita ke hotel lihat lihat, Icha biarkan main di sini, toh kalau sudah kembali ke Surabaya Icha gak akan bisa bermain seperti sekarang " ujar pak Wirawan
"Sebenarnya Angga mau mau saja pa, tapi... " ucap Angga menggantung
"Tapi apa?, tapi gak bisa pisah dengan Icha atau tidak mau pisah dengan Tyas " goda pak Wirawan sambil berbisik
"Dua duanya, pa " jawab Angga santai, dan Angga sudah mulai terbuka dengan keluarganya tentang perasaannya pada Tyas.
"Asal kamu bahagia papa juga turut bahagia Ngga, Tyas tahu kalau kamu menyintainya ?" tanya pak Wirawan dengan perasaan ingin tahu
__ADS_1
"Tyas tahu, namun terlalu sulit untuk menaklukan hati Tyas pa, biar kami sudah lama kenal dan bahkan tinggal satu atap tidak mudah untuk mendapatkan hatinya, Tyas bukan tipe wanita mudah jatuh cinta ataupun gila harta. Sudah berapa kali aku mengungkapkannya namun jawabannya masih sama tidak mau pacaran dan bilang cukup sebagai sahabat saja. Tyas sangat pandai menyimpan perasaannya dan itu tantangan buatku pa, aku sendiri sulit untuk bisa menebak hati dan perasaan Tyas, " ujar Angga sedikit mengeluh
"Tetap berusaha Ngga, oh ya papa mau ke rumah Tofa kamu ikut nggak?,sekalian lihat lihat dan menikmati udara di kampung " ucap Pak Wirawan dengan harapan Angga mau ikut. Angga menyetujui ajakan pak Wirawan untuk berkunjung di kediaman orangtua Tofa.
Dengan diantar Tyas pak Wirawan dan Angga menuju ke rumah orang tua Tofa. Angga dan pak Wirawan berboncengan sedangkan Tyas naik motor sendiri karena ngajak Clarisa malah Clarisanya milih tetap bermain dengan teman teman barunya.
"Assalamu'alaikum " ucap Tyas ngasih salam saat berada di depan pintu rumah orang tua Tofa.
"Wa'alaikum salam" jawab Anis saat mendengar orang memberi salam," Ya Allah Yas bagaimana kabarnya ?" ucap Anis antusias"Mereka siapa ?" tanya Anis penasaran saat melihat Pak Wirawan dan Angga berdiri di belakang Tyas
"Alhamdulillah, kabarku baik, mbak Anis sendiri gimana maaf ya waktu mbak anis nikah aku gak bisa datang " ucap Tyas yang masih berdiri di depan pintu
"Dek, kok tamunya gak di suruh masuk to" ucap Tofa saat keluar dari ruang belakang
"Maafkan adik saya pak, ada tamu bukannya segera diajak masuk malah ngobrol sendiri di depan pintu " ucap Tofa merasa tidak enak " Dek ini pak Wirawan yang punya hotel randu yang baru jadi itu, dan ini anaknya juga majikannya Tyas " ucap Tofa memperkenalkan Anis pada kedua tamunya.
Anis mengangguk tanda mengerti serta menyapa dengan ramahnya. Anis langsung mengajak Tyas ke dapur untuk bikin minum buat tamunya sambil ngobrol.
"Yas, cerita dong bagaimana waktu di Singapore, aku gak nyangka kamu bisa bekerja sampai ke negara Singapore " ujar Anis sambil menaruh gula pada tehnya.
"Biasa saja mbak, kalau bukan karena majikanku yang harus berobat ke Singapore dan aku harus menemaninya gak mungkin aku bisa sampai di negara Singapore mbak " ujar Tyas yang berdiri di samping Anis, dan memberi penjelasan pada Anis.
"Tapi, majikanmu baik kan ?" tanya Anis lagi
__ADS_1
"Alhamdulillah mereka semua baik mbak, walau beda keyakinan " jawab Tyas sambil ngaduk ngaduk tehnya dan menaruh di atas nampan.
"Alhamdulillah kalau majikanmu baik, soal beda keyakinan gak masalah Yas, di negara kita kan memang ada beberapa agama Yas, yang penting kita bisa hidup saling berdampingan dan saling menghargai serta jangan cari musuh atau bikin musuh " jelas Anis bijak
"Kapan lahiran mbak?" tanya Tyas" Pingin lihat keponakanku nih" ucap Tyas gemas
"Menurut HPL nya sih 10 hari lagi, kata dokter bisa maju atau mundur, doain ya semoga lahirannya normal " ucap Anis bahagia
"Sini aku bawa in mbak, mbak duduk saja di sini " ucap Tyas dan membawa nampan berisi teh buat tamunya.
Tyas menaruh tehnya di atas meja dan mempersilahkan tamunya untuk minum.
"Terima kasih Yas " ucap Tofa, Tyas tidak menjawab hanya tersenyum manis dan ramah.
"Kelihatannya Tyas akrab sekali dengan keluargamu?" tanya pak Wirawan ingin tahu
"Alhamdulillah, dari dulu Tyas sudah terbiasa main atau tidur di sini bersama adiku Anis pak, " ucap Tofa memberi penjelasan
"Pantas saja, kok sepi orang tuamu kemana kok gak kelihatan ?" tanya pak Wirawan
"Silahkan diminum pak, maaf hanya ada air saja, kebetulan ibu sama bapak menghadiri pengajian rutinan pak, jadi di rumah hanya aku dan Adiku " ucap Tofa
Angga lebih banyak diam dan tak banyak bicara hanya mendengar obroran mereka saja. Pak Wirawan sangat menikmati saat ngobrol dengan Tofa, sekali kali Obrolan mereka di selingi canda tawa riang gembira.
__ADS_1
Tak kalah hebohnya Tyas dan Anis juga larut dalam canda tawanya. Anis mendengarkan cerita dari Tyas waktu Tyas masih di Singapore dan bagaimana bisa cepat kembali ke tanah air.