
dia menunjukan bungkusan kecil seperti gula bubuk seperti ada di dalam dapurnya
" ini apa?? kamu tau???" bentaknya
"gula halus, ," jawabnya polos
" sabu sabu " bentak pria itu
betapa terkejutnya Arin mengetahui barang haram tersebut didalam tasnya, melihatnya aja baru pertama kali bagaimana dia bisa mempunyai nya
" bawa dia, beritahu orang tuanya" katanya kepada anak buah nya
Arin memberontak, menangis dan menjelaskan tapi apa daya dia terbukti membawa barang haram itu
" pak saya tidak tau siapa yang menaruh itu, saya di jebak pak.. lepaskan. saya" teriaknya
polisi tetap menarik Arin menuju kantor polisi.
didalam mobil Arin tetap merengek minta dilepaskan
dilain tempat , ibu dan bapak Arin sedang menutup kedai snek nya, ponsel nya berdering
terlihat bapak nya mengangkat panggilan, raut mukanya panik
dia bergegas menutup kedai, ibunya yang terus bertanya menerima panggilan dari siapa tetapi hanya diacuhkan
__ADS_1
motor bapak Arin telah sampai rumah dan menurunkan ibunya Arin dirumahnya.
" bapak mau kemana? tadi panggilan dari siapa?" tanyanya
" bapak ada urusan sebentar , ibu dirumahnya saja" kata nya.
menghidupkan setater motor . menuju kantor polisi
ibu nya Arin hanya mengangguk setuju walau didalam hatinya menaruh curiga
kalo sampai ibu tau darah tinggi nya kumat bisa bahaya,sebaiknya aku simpan dulu sampai masalah ini selesai, batin bapaknya Arin sambil mengendarai motor
dikantornya polisi
tes sidik jari, tes urine ,tes kesehatan. Arin juga sudah memberi tahu saksi mata yang selalu berada di dekat Arin selama 5 jam terakhir
Lea dan bapaknya Arin datang hampir bersamaan
Arin memeluk bapaknya sambil menangis. bapaknya mengelus pundak anak perempuan satu satunya.
Lea juga menggenggam tangan Arin berusaha menenangkan sahabatnya itu
satu persatu saksi memberikan kesaksian nya atas Arin. hampir jam 7 malam belum bisa bebas. ayahnya dan Lea berada disampingnya
tapi entah kenapa air mata Arin tidak kunjung reda
__ADS_1
jam menunjukan 20.25 . pria yang tadi menemui Arin keluar dari ruangannya sambil membawa beberpa berkas.
pria tadi duduk dengan perlahan dan meletakkan berkas dimeja, dia membuka beberapa halaman, matanya mencuri pandang kepada Arin yang sedari tadi tidak berhenti menangis
pria itu membuka suara
" selamat malam pak..." pria itu bersuara lebih tenang
Arin hanya mencuri pandang dari pelukan bapaknya, Lea dan bapak nya hanya mengangguk
" saya Aiptu Fandy Fabio, saya yang bertanggung jawab kasus anak bapak Herman setiawan , dari tes kesehatan , pernyataan saksi dan kronologi kejadian. dengan besar hati saya mengucapkan terimakasih dan mohon maaf sebesar besarnya kepada saudara Kanaya vareen, bapak Herman Setiawan dan nalea Surya telah kooperatif dan banyak meluangkan waktu untuk penyelidikan ini " Aiptu bio menghela nafas sebentar dan melanjutkan kata katanya
" dengan fakta fakta yang ada ,anak pak Herman tidak ada hubungan dengan gembong narkoba nasional , barang yang ada di tas nona Kanaya terbukti bukan kepemilikan nya. jadi malam ini anda di perbolehkan pulang dan istirahat . demi kebaikan anak bapak dimohon untuk wajib lapor setiap sebulan sekali " Aiptu bio menutup berkas nya
" jadi saya boleh pulang???" tanya pak Herman
Aiptu bio hanya mengangguk. pak Herman bersalaman dengan Aiptu bio. mereka berdiri dan mengangguk
Arin tak mau lepas dengan bapaknya , Arin dipeluk sambil di ajak berdiri
" Arin bisa pulang pak???" Arin melihat wajah bapaknya
bapaknya mengangguk. baru beberapa langkah pandangan mata Arin blur
brukkkk
__ADS_1