
Pagi-pagi sekali Irene sudah bersiap.Hari ini dia akan membantu Tamara di hari pernikahannya. Dua hari kemarin dia buru-buru membuat baju sederhana untuk acara ini. Untung saja Irene mampu menyelesaikan nya. Dia sudah mengenakan kebaya dengan riasan yang sederhana, namun terlihat anggun dan mempesona.
Pagi ini, Irene sengaja naik taxi online, agar make up dan dandanan nya tidak rusak. Dia tiba di hotel bersamaan dengan penata rias.
Mereka langsung bekerja untuk mempercantik tampilan Tamara di hari bersejarahnya.
"Kau cantik sekali Irene,,, bisa-bisa aku kalah cantik dengan mu".
"Tenang saja Tamara,, sebentar lagi mereka akan kagum melihat penampilan mu".
"Duduklah dengan tenang, biar kami yang mengubah mu menjadi bidadari".
Irene memberi masukan pada penata rias sewaktu memoleskan make up ke wajah Tamara. Bahkan penampilan Tamara terlihat sangat sempurna. Tamara hampir tak mengenali wajahnya sendiri karena Irene mendandani nya bak putri raja.
"Ini masih ada waktu,, boleh aku menambahkan aksen pada kebayamu, supaya aura kecantikan mu semakin bersinar".
"Silahkan saja,, aku percaya padamu sekarang".
Tak butuh waktu lama bagi Irene untuk menambah kan mutiara di kebaya akad nikah. Dia langsung memakaikan sendiri kebaya tersebut, walaupun bukan rancangan nya. Kebaya yang tadinya biasa saja sekarang terkesan mewah dan glamor di tubuh Tamara.
"Aku suka sekali,,, ini indah Irene".
"Bagaimana kalau kau menjadi fashion stylish ku saja mulai hari ini".
"Tapi,,,aku masih kerja di butik nyonya Renata".
"Itu gampang,, biar aku yang bicara pada nya nanti".
"Nanti saja kita bicarakan lagi, sekarang ayo turun ..acara akan segera dimulai".
Irene membawa Tamara menuruni tangga. Mereka berdua terlihat seperti kakak beradik.
Beberapa pasang mata mengagumi kecantikan keduanya. Alex yang duduk bersebelahan dengan Sofi, bahkan sampai melongo menatap penampilan Irene.
"Hei.....kau lihat apa,,,bahkan air liur mu hampir menetes".
"Jangan bicara sembarangan Sofi".
"Irene,,,,benar- benar sempurna".
Irene duduk di belakang kursi Tamara. Sepanjang acara akad nikah, pengantin laki-laki sampai gugup melihat kecantikan Tamara. Selesai acara akad, Irene membantu Tamara untuk berganti baju dan kemudian mengantarnya ke pelaminan.
Irene baru beristirahat setelah Acara lain-lain.
Dia duduk di kursi depan pelaminan.
"Ini,,, minumlah....kau pasti haus kan??".
"Pak Alex,, anda tak usah repot-repot, saya bisa ambil sendiri".
"Simpan terimakasihnya nanti saja,,,itu untuk menebus kesalahan ku".
"Dan,, bersiaplah lebih awal, aku akan menjemputmu pukul 7 malam nanti".
"Baik pak".
Doni datang ke acara akad sedikit terlambat. Tamara juga merupakan teman nya. Dia tak ingin melewatkan kebahagiaan sahabatnya tersebut.
Setelah memberi selamat pada pengantin, Doni turun dari pelaminan. Matanya melihat sosok yang tak asing baginya, tapi penampilan nya kali ini sangat cantik.
__ADS_1
"Tuhan ku......aku pikir kau bidadari yang sengaja turun untuk mencari jodoh".
"Doni,,,,kau juga datang,,,berarti pesta malam nanti, kau juga diundang??".
"Tentu saja,,kau butuh tumpangan??".
"Kali ini aku pergi dengan nyonya Renata,,Tamara memakai gaun rancangan ku, jadi aku harus menyiapkan nya".
"Bagus,,,,aku senang mendengar nya".
"Irene,,, kau mau jadi istriku???".
"Apa........?".
"Itu,,,,kau cantik sekali dengan kebaya itu".
Irene tersenyum melihat tingkah Doni. Tak henti-hentinya dia memandang wajah Irene.
Irene jadi salah tingkah dibuatnya.
"Hentikan Doni,,malu dilihat banyak orang".
"Mereka itu cuma iri dengan kecantikan mu
itu saja".
"Aku nggak enak, mereka memperhatikan terus".
Irene kemudian menuju pelaminan dan berpamitan pada Tamara. Dia harus pulang lebih awal untuk menyiapkan acara nanti malam.
"Terimakasih Irene,,kali ini aku puas dengan hasilnya,, jangan lupa nanti malam".
"Ok,,,pasti Tamara".
"Tentu saja,, jangan kan menumpang,,menjadi
sopir mu pun aku rela".
"Ayo cepat,,,jangan bercanda terus".
"Irene,,,bagaimana kau bisa secantik ini??".
"Aku jadi gemas sekali".
Doni sudah tak tahan untuk mencubit pipi Irene. Makhluk manis dihadapan nya ini, dalam sekejap sudah mengobrak-abrik isi hatinya. Tinggal menunggu nanti malam, dan Doni akan mengutarakan isi hatinya pada Irene.
"Aku sudah sering merepotkan mu,,kuharap kau tidak keberatan".
"Tentu saja, kau tinggal bilang saja,dan aku akan langsung ada di hadapanmu".
"Doni,,,kau selalu saja bercanda".
"Omong-omong kau mau mampir??".
"Lain kali saja, aku sudah telat ke kantor".
"Ok,,sampai jumpa nanti malam".
Nisa masuk ke dalam rumahnya. Waktu yang singkat, dia gunakan untuk mempercantik gaun nya. Maklum,, dia membuatnya dadakan saja. Tapi memang dasar perancang busana,
__ADS_1
dadakan pun hasilnya tidak mengecewakan.
Acara resepsi diadakan pukul 7 malam, Alex menjemput Nisa pukul 5 sore, supaya dia bisa menyelesaikan tugasnya merias Tamara.
"Maaf pak Alex, saya jadi merepotkan Anda".
"Tadinya Doni bersedia menjemput, tapi karena nyonya Renata yang menyuruh, jadi saya bersedia".
"Kenapa setiap hal kau harus melibatkan Doni??".
"Kalian pacaran???".
"Tidak pak,, Doni baik, jadi saya senang bersamanya".
"Lain kali kalau bersamaku, jangan pernah
menyebut nama Doni lagi,,, mengerti??".
Irene tak mau memperpanjang masalah dengan berdebat sama anak manja ini. Dia hanya terdiam, enggan membalas kata-kata Alex. Irene kemudian mengajak Alex untuk segera berangkat.
Diakui Alex, hatinya sangat kesal setiap kali Irene bersama Doni. Entah kenapa dirinya tidak rela kalau melihat kedekatan mereka berdua. Belakangan ini Alex bahkan diam-diam sudah mencuri pandang wajah Irene nan ayu. Dia senang, akhirnya bisa satu mobil bersamanya.
"Irene,, aku ingin sekali lagi meminta maaf padamu".
"Kadang, aku memang tidak bisa mengontrol emosiku".
"Wajar kalau kau sampai marah dan benci kepada ku".
"Kita lupakan saja pak, saya sudah memaafkan anda".
"Lagi pula, tak ada gunanya menyimpan sakit hati terlalu lama, bisa berakibat buruk pada kesehatan kita".
"Saya hanya ingin melihat kesungguhan hati anda saja pak".
"Dan saya yakin, Anda memang orang baik".
Irene lega setelah memberi penjelasan pada Alex. Dia tak ingin mantan boss nya itu menganggap dirinya keras kepala. Lain halnya dengan Alex, dia tersenyum licik setelah mendengar Irene luluh dengan sikapnya. Inilah saatnya permainan Alex dimulai.
Setibanya di hotel, Irene bergegas masuk ke kamar Tamara.Dia sudah dirias cantik. Irene memakaikan gaun dan membenahi riasan Tamara. Gaun yang dirancang Irene menempel pas di tubuhnya. Kulitnya yang putih, sangat serasi mengenakan gaun hitam dengan permata dan Swarovski berkilauan.
"Aku yakin, teman-teman artis mu pasti tidak mengenali mu,, kau cantik sekali".
"Terima kasih,,, kau temani aku ke bawah ya,, aku akan mengenalkan mu dengan teman-teman ku".
Irene memegangi lengan Tamara, sementara suaminya di sampingnya. Mereka berjalan beriringan masuk ke aula. Semua media menyorot kehadiran Irene di resepsi malam ini. Kilatan cahaya Blitz berkali-kali mengenai wajah pengantin, dan tentu saja Irene. Keduanya segera duduk di pelaminan.
Irene segera menjauh dari kerumunan teman-teman Tamara. Dia dipojok panggung, mencari-cari keberadaan Alex. Seorang lelaki menghampiri Irene.
"Hai....kenalkan aku Yuda, teman Tamara".
"Aku Irene, Irene Wijaya".
"Tamara tak pernah cerita kalau punya adik secantik ini".
"Adik,,,, aku bukan adiknya".
"Benarkah,,,,padahal kalian mirip satu sama lain, sama-sama cantik".
Irene tersenyum mendengar komentar Yuda.
__ADS_1
Apa wajahku ini seperti Tamara, hingga para tamu mengira aku adiknya. Secara, Tamara kan anak tunggal. Mereka telah salah sangka rupanya.
...****************...