
Wanita cantik itu melangkahkan kakinya ke rumah nyonya Renata. Sejak kembali dari Amerika, baru kali ini dia sempat mengunjungi rumahnya. Dia sudah rindu sekali untuk berdebat dengan rival nya, Alex.
Nyonya Renata dan suaminya sedang sarapan di meja makan. Vera sudah hafal dengan rumah Alex, jadi dia langsung saja menghampiri nyonya Renata.
"Vera,, kejutan sekali, kapan kau pulang ??".
"Dua hari yang lalu tante, tapi aku masih ada dead line, jadi baru sempat ke sini".
"Apa anak nakal itu masih belum bangun??".
"Apa boleh aku saja yang membangun kan nya Tante??".
"Siapa yang kau maksud,, Alex??".
"Siapa lagi, hanya dia satu-satunya anak nakal Tante buka?".
"Kau tak perlu repot-repot,, Alex sudah ada yang mengurus sekarang".
"Lagipula dia sudah tidak tinggal disini".
"Bagus lah,, Tante bisa bernafas lega sekarang".
"Mungkin giliran asisten nya yang pusing melayani nya".
"Memangnya, tinggal di mana dia sekarang??".
"Aku sudah tak sabar ingin mengejeknya".
"Vera,,, maafkan Tante tidak memberitahu mu, tapi, Alex sudah menikah dengan Irene, dan mereka tinggal di apartemen".
"Sebentar lagi mereka akan mendapat anak kembar".
"Tante bercanda kan,, yang aku tahu anak nakal itu bermusuhan dengan Irene".
"Aku ingat betul kalau dia pacaran dengan Doni kan??".
"Kenapa tiba-tiba bisa menikah dengan Alex".
"Dan sebentar lagi punya anak kembar??".
"Lelucon macam apa ini Tante??".
"Sayang, ini bukan lelucon, ceritanya panjang".
"Yang jelas,, mereka sekarang tidak tinggal di sini lagi".
"Kalau kau ingin bertemu Alex dan Irene, kau bisa ke apartemen mereka"
Vera sungguh terkejut mendengar penjelasan Tante Renata. Lebih lanjut, dia tak mengatakan tentang pernikahan Alex dan Irene. Dia malah membahas kerjaan di butik.
Alhasil, Vera jadi penasaran. Seperti ada yang di sembunyikan oleh Tante Renata.
"Tante, kalau begitu aku ke apartemen Alex saja".
"Aku penasaran dengan anak nakal itu".
"Tapi, ini kan sudah jam nya kerja Vera, paling an mereka berdua sudah berangkat!".
"Memangnya Irene bekerja dengan Alex lagi??".
"Tidak,, dia baru saja membuka butik, kerjasamanya dengan CEO luar negeri".
"Bukan itu saja, Irene ternyata punya usaha Frozen food yang bahkan sudah memiliki 5 cabang".
"Gadis itu benar-benar jenius rupanya".
__ADS_1
"Di tak seperti yang kita duga selama ini,, pantas saja kalau Alex begitu tergila-gila padanya".
Vera mendengarkan setiap perkataan nyonya Renata dengan seksama. Irene yang selama ini di rendahkan dan di hina oleh Alex, rupanya karena Alex jatuh cinta padanya. Tapi Vera juga makin penasaran, kenapa bisa mereka akhirnya menikah. Lalu pacar Irene yang bernama Doni, bagaimana dengan dirinya saat ini.
"Bisakah Tante menelpon Alex untuk ku??".
"Aku ingin tahu dia di mana sekarang ".
"Tunggu sebentar sayang,, Tante coba menelpon nya".
Ponsel Alex berdering dengan kencang. Tapi dia tak hendak ingin mengangkat nya. Dari tadi mood Irene tidak bagus setelah menerima telepon dari Nona.
Alex sendiri juga bingung dengan sikapnya. Alhasil keduanya masih ada di atas ranjang, enggan untuk pergi kemana-mana.
Irene mengambil ponsel Alex dan melihat ke layar nya. Saat mengetahui, ibu mertuanya yang menelpon, buru-buru Irene menyerahkan ponsel itu kepada Alex.
"Mama menelpon,, mungkin dia ingin bicara penting dengan mu".
"Kau saja yang jawab,, nanti kau marah lagi padaku".
"Kau saja,,nanti mama mengira aku menguasai diri mu".
Irene menyodorkan ponsel kepada Alex. Laki-laki itu menerimanya dan langsung menjawab panggilan dari mamanya tersebut.
"Halo ma,,, apa mama ada perlu dengan ku??".
"Kau sudah ke kantor atau masih di rumah??".
"Aku masih di rumah ma, semalam perut Irene sakit, jadi aku membawanya ke dokter".
"Lalu,,apa ada hal serius yang terjadi".
"Tidak,, mama tak usah khawatir, Irene baik-baik saja".
"Lalu, kau tidak ke kantor hari ini??".
"Memangnya kenapa,, mama ingin bertemu??".
"Bukan mama, tapi Vera, dia baru kembali dari Amerika".
"Ah.....anak itu,, bilang padanya untuk tidak mengganggu ku lagi ma".
"Hai anak nakal,bilang apa kau ??".
"Tunggu aku di apartemen,, aku akan mengunjungi mu sekarang".
"Kau jangan.......!!!".
Vera menutup ponsel yang diberikan kepada nyonya Renata. Alex terlambat memberitahunya kalau dia di larang datang ke apartemen. Kondisi Irene sedang tidak memungkinkan untuk menerima tamu saat ini.Apalagi Vera adalah orang yang sangat mencintai Alex.
"Kenapa kau jadi gelisah seperti ini,, apa yang mama katakan??".
"Mama bilang, Vera ingin datang sekarang".
"Vera,,,tunggu...sepertinya nama itu tak asing di telinga ku".
"Bukan kah Vera itu, tunangan mu waktu itu".
"Bukan,, kami hanya berteman saja".
"Bagus,,, aku akan pergi ke kantor saja, kalian bisa menghabiskan waktu bersama".
"Tunggu sayang,, dengarkan aku,, ini tidak seperti yang kau bayangkan".
"Aku juga tidak membayangkan apapun,hanya memberi mu waktu berdua dengan mantan tunangan mu".
__ADS_1
"Jangan seperti itu Irene,, aku tidak menyuruh Vera datang".
"Ya,,, memang bukan salah mu kalau Nona, Vera dan siapa lagi yang aku tak tahu, ingin bertemu dengan mu".
"Aku juga sadar kalau pernikahan kita hanya demi si kembar".
"Sayang,,kau jangan bicara seperti itu,,".
"Kau tahu benar, seperti apa aku mencintai mu".
"Kalau aku mau, mereka sudah ku nikahi dari dulu".
"Tapi karena aku mencintai mu, makanya aku memperjuangkan mu".
"Dengan memperkosa ku,,ayolah Alex....
jangan mengada-ada".
"Sejak dulu aku memang bukan kriteria mu,, kau membenci ku sejak awal bukan??".
"Hentikan Irene,,sejak semalam kau bersikap aneh".
"Kau melampiaskan kemarahan mu pada ku".
"Apa karena kau masih menginginkan Doni??".
"Kau melarang ku jujur padanya bukan??".
"Jadi, kenapa aku yang jadi kambing hitam".
"Aku rasa kau hanya mencari alasan untuk bisa dekat kembali dengan Doni".
Irene memandang wajah Alex. Raut mukanya tampak marah. Dia berteriak kasar dan menuduh Irene yang bukan-bukan. Hanya karena kedatangan Vera, Alex sampai bicara di luar batas.
Irene kemudian beranjak dan menuju ke kamar mandi. Tak ada gunanya terus berdebat dengan suaminya itu. Dia memutuskan untuk berangkat ke butik saja.
Tanpa menghiraukan Alex, Irene bersiap-siap dan mengambil tas kerjanya. Dia kemudian melangkah hendak keluar dari kamar. Alex menahan tangan nya dengan tatapan penuh kemarahan.
"Mau kemana kau,,aku tanya pada mu,,
jawab Irene??".
"Sudah ku bilang, aku mau ke butik bukan".
"Apa masih kurang penjelasan ku".
"Tetap di sini,, kau tak boleh kemana-mana".
"O,,ya...dan aku harus memperhatikan kau dan mantan tunangan mu berduaan di sini??".
"Vera bukan mantan tunangan ku, dan dia tidak akan kesini".
"Sebegitu yakin nya diri mu,, bukan kah di telpon tadi dia sudah jelas mengatakan nya padamu".
"Apa kau tidak dengar, semalam dokter bilang apa padamu".
"Setidaknya, jagalah anak di perut mu, jangan terlalu egois dengan sikap keras kepala mu".
"Kecuali kalau kau memang tidak menginginkan mereka".
Alex memang benar, demi sifat egoisnya, anak di kandungan nya yang jadi taruhan nya.
Sejenak Irene terduduk di ranjang. Alex sudah keluar kamar. Mungkin dia menenangkan diri.
Wajar memang kalau dia marah. Sikap Irene memang seperti anak kecil. Dia seharusnya mendengar kata-kata suaminya.
__ADS_1
...****************...