Bukanlah Butiran Debu

Bukanlah Butiran Debu
Kebaikan Alex.


__ADS_3

Pagi hari saat Irene terbangun, dia mendapati tangan nya berada di bawah kepala Alex. Mungkin tanpa sadar, tertindih Alex ketika dia sedang tidur semalam. Irene berusaha menarik tangan nya, tapi berat sekali. Alhasil, dia membiarkan saja, sungkan kalau harus membangunkan Alex.


Tak berapa lama, Alex membuka matanya. Dia menyadari tangan Irene yang berada di bawah kepalanya. Buru-buru dia meminta maaf kepada Irene.


"Maafkan aku Irene, aku ketiduran jadi tak memperhatikan".


"Apakah tangan mu kram,, atau kebas???".


"Tidak Alex,,aku baik-baik saja".


Obrolan mereka terhenti karena suster masuk untuk memandikan Irene. Dia heran melihat pria yang bersama Irene sudah berbeda. Iseng dia menggoda Irene.


"Suami ibu sedang lembur ya??".


"Dari semalam saya tidak melihatnya,, hanya mas ini yang menunggu".


"Iya suster".


"Suami,,, memangnya kau sudah punya suami??".


"Mas ini gimana to,,, jelas-jelas tiap hari dia menunggu di sini kok".


"Sudah,,,mas keluar dulu,,saya mau memandikan pasien".


Alex keluar dari kamar Irene. Dia menunggu di lorong rumah sakit. Tapi kemudian Alex bangkit, dia menuju kantin untuk membelikan Irene sarapan. Waktu mandi mungkin agak lama, jadi Alex menyempatkan untuk sarapan dulu.


Setelah selesai sarapan, Alex kembali ke kamar inap Nisa. Rupanya dia sudah selesai mandi. Dokter visit sedang memeriksanya. Alex kemudian masuk dan ikut menemui dokter.


"Suami ibu belum datang,,,,padahal ibu sudah boleh pulang hari ini".


"Semuanya sudah normal, hanya jangan terlalu capek dulu".


"Ini adiknya ya,,,mas..sebaiknya suami Bu Irene ditelpon, biar bisa mengurus administrasi".


"Iya dokter,, nanti biar saya yang urus".


Irene menatap Alex dengan sedikit sungkan. Pasalnya, mereka sudah menganggap Doni adalah suaminya. Itu memang bukan salah Doni. Semata-mata Doni hanya ingin menyelamatkan harga diri Irene, agar tidak di sangka hamil di luar nikah.


Ketika dokter sudah pergi, Alex segera mendekati Irene. Dia menanyakan perihal administrasi rumah sakit.


"Irene,, kita tunggu Doni, atau aku saja yang mengurus administrasinya".


"Soalnya semua staf disini mengira kau adalah istrinya".


"Jadi, silahkan saja...aku menunggu keputusan mu".


"Kalau tak keberatan, kau saja yang urus,, aku sudah bosan berada di sini".


"Lagi pula, Doni mungkin juga punya kesibukan sendiri".


"Aku tak enak terus-menerus membuatnya


repot".


"Ok, Irene...kau tunggu disini sebentar,,,jangan bangun dulu sampai aku datang".


Alex pergi mengurus administrasi. Sementara Irene menunggu sambil berbaring. Tak lama dia tersenyum melihat kedatangan Doni di depan pintu.


"Rupanya benar,,anak ini merindukan ayahnya".


"Kau terlihat jauh lebih segar setelah Alex mengurus mu semalam".

__ADS_1


"Di mana dia,,,aku tak melihatnya dari tadi".


"Dia sedang mengurus administrasi".


"Hari ini aku sudah boleh pulang".


"Bagus,,, kau memang terlihat sehat dan cantik tentunya".


"Aku merindukan wajah ini kembali".


"O ya,,sebaiknya kau tidak pulang ke toko,, naik turun tangga tidak baik untuk kandungan mu".


"Aku akan menyewakan apartemen di depan ku,,,jadi aku bisa terus mengawasi mu".


"Bagaimana,,kau setuju??".


Belum sempat Irene menjawab, Alex sudah lebih dulu menyahut perkataan Doni.


"Irene,,kau boleh tinggal di apartemenku".


"Di sana masih kosong,,daripada Doni yang harus menyewakan untuk mu".


"Kau boleh memakainya, kalau kau belum mau pulang ke rumah".


"Entahlah ...aku masih bingung".


"Bagaimana Don,,kau setuju dengan ide ku kan??".


"Kita bisa gantian menjaganya nanti".


"Baiklah,,,aku setuju dengan mu Alex".


"Irene,,biar aku bereskan barang mu,?".


Kedua lelaki ini sepertinya tidak mau kalah. Mereka berlomba-lomba mengambil hati Irene. Sementara di kediaman Irene, nyonya Renata sedang menjelaskan keadaan Irene kepada orang tuanya.


Dalam kesempatan ini, nyonya Renata sekaligus melamar Irene, untuk menjadi istri Alex. Keluarga Irene sangat terkejut mendengar penjelasan dari nyonya Renata.


Dia tak menyangka Irene begitu rapi menyembunyikan masalahnya. Mereka justru tahu dari orang tua si pemerkosa.


"Maaf Bu, tampaknya kami harus segera ke rumah sakit untuk menjenguk anak kami".


"Lalu, tentang lamaran saya,,apakah diterima?".


"Irene memang harus menikah dengan anak nyonya, tapi kita bicarakan itu nanti saja".


"Terlebih kan sekarang dia sudah hamil, mau tak mau, Irene harus setuju menikah".


"Kalau begitu, biar saya antar kalian ke rumah sakit".


Keluarga Irene segera bergegas ke rumah sakit bersama nyonya Renata. Langkahnya lebar dan senyum nya mengembang, karena permintaan nya dipenuhi.


Sementara di rumah sakit, Doni tengah mendorong Irene dengan kursi roda. Sementara Alex mengambil mobilnya. Mereka tinggal berangkat ke apartemen Alex.


"Semalam kau tidak kembali,,,apa ada pekerjaan??".


"Tidak Irene,,aku hanya tidak enak karena Alex sudah menunggumu di rumah sakit".


"Aku takut kehadiran ku mengganggu kalian".


"Kau tahu kan Don kalau itu tidak benar".

__ADS_1


"Ya,,,setidaknya kalian sudah berbaikan".


"Jadi ada sisi positifnya aku tidak kemari semalam".


Mobil Alex sudah ada di halaman rumah sakit. Doni hendak mengangkat Irene, tapi Alex mencegahnya.


"Biar aku saja,,kau tolong bawakan perlengkapan Irene dan taruh di bagasi".


Doni mengalah dan menuruti kata-kata Alex.


Dia kemudian menuju motornya dan mengikuti mobil Alex. Sementara, nyonya Renata dan keluarga Irene, tiba di rumah sakit sesaat setelah Irene pergi. Mereka segera menuju kamar inap. Tapi rupanya kamarnya sudah kosong dan sedang di bersihkan.


"Maaf mas, pasien di kamar ini dipindahkan kemana ya??".


"Beliau baru saja pulang Bu, dokter sudah memberi izin".


"Oh...begitu,, terimakasih mas".


Nyonya Renata segera menelpon Alex. Lama sekali dia memanggil, tapi tak ada jawaban.


Mereka kemudian keluar dari rumah sakit dan memutuskan untuk pulang kembali ke rumahnya, sambil menunggu kabar dari Alex.


Alex dan Irene sudah sampai di apartemen. Dia segera menggendong Irene naik ke lantai atas. Irene agak canggung untuk memegang pundak Alex. Tapi akhirnya dilakukan juga karena sempat akan terjatuh.


"Kau tak usah sungkan, pegang saja tanganku".


"Atau aku tak mau tanggung kalau kau terjatuh nanti".


"Alex,, kau turunkan aku saja, aku bisa jalan sendiri".


"Mana boleh seperti itu,, yang ada Doni malah yang akan menggendong mu".


Doni masih membawa perlengkapan Irene. Dia ketinggalan di lift. Jadi terpaksa dia bersabar menunggu. Sementara Alex dan Irene sudah sampai di kamarnya.


"Irene,, ambil kunci di saku bajuku,, dan kau bukalah pintu ini".


Irene mencari kunci apartemen seperti yang diperintahkan Alex. Dia menahan senyum melihat raut wajah Irene yang polos, sedang menyentuhnya. Tahu dipandangi, Irene jadi salah tingkah. Buru- buru dia membuka pintu apartemen.


Mereka masuk ke dalam. Alex mendudukkan Irene di kamar tidur. Kemudian dia mengangkat telepon dari Doni.


"Di kamar berapa kalian,, aku sudah sampai lantai 3".


"Kamar no 5, kau masuk saja,, pintunya tidak terkunci".


Alex kemudian beralih ke Irene yang masih diatas tempat tidur.


"Kau merasa nyaman,, atau aku perlu menambah sesuatu".


"Ini sudah cukup Alex, terima kasih".


"Sebaiknya aku menyewa suster untuk membantumu, bagaimana....kau setuju??".


"Jangan,, tidak perlu,, biar aku sendiri saja".


"Aku setuju dengan Alex, kecuali kau mau kami yang merawat mu bergantian".


"Kalian jangan berlebihan,, aku tidak sakit,, cuma hamil saja".


"Dan aku bisa sendiri tanpa bantuan suster".


Kalau Irene sudah berkata seperti itu, keduanya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mereka takut Irene kembali marah dan memilih pergi dari apartemen. Wanita hamil memang mood nya berubah-ubah, jadi Doni dan Alex harus lebih banyak bersabar.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2