
Sudah jam 4 sore ketika Alex tiba di butik Irene. Dia segera turun dari mobil dan menghampiri Irene di ruangan nya.
"Kau sudah selesai sayang??".
"Iya,,tinggal sedikit lagi,,laporan ini sepertinya banyak sekali kesalahan".
"Angkanya seperti habis diganti,, aku harus merevisi di beberapa bagian".
"O..ya, bagaimana dengan tuan Carlos, kita jadi menemuinya bukan?".
"Iya sayang, begitu kita dapat bukti, kita akan langsung bergerak".
Irene segera merapikan meja kerjanya. Dia tak mau sampai terlambat menemui tuan Carlos. Keduanya segera kembali ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian.
Tanpa sepengetahuan Irene, Doni lagi-lagi mendatangi tempat hiburan malam. Dia merasa telah gagal mengelola butik Irene selama di tinggal di rumah sakit. Penyesalan nya akibat pencurian hasil karya itu sungguh membuatnya frustasi.
Kebetulan Roger juga ada di sana. Dia duduk di meja Doni dan mentraktir minuman buat
nya. Padahal Doni bukan orang yang bisa minum. Dua sampai tiga gelas saja, dia sudah langsung mabuk.
"Kau tahu kenapa aku bisa seperti ini".
"Kenapa lagi memangnya kau Doni??".
"Ini kecerobohan ku, Irene kehilangan semua desain karya nya yang baru".
"Butik kita rugi besar Roger!!".
"Parahnya lagi,,hanya Alex yang bisa mengetahui pelakunya".
"Kau bilang apa Doni,,ulangi perkataan mu??".
"Ya,,,mereka akan menangkap pelakunya".
"Malam ini,,pengkhianat di butik kita akan habis".
Roger terkejut mendengar kata-kata Doni. Dialah orang yang di maksud. Roger sama sekali tak menyangka, sepak terjang nya sudah di pergoki justru oleh Irene sendiri.
Roger segera berlalu dari bar dan langsung menuju ke apartemen nya. Buru-buru dia mengemasi pakaian dan harta yang baru saja di dapatnya. Dia berniat kabur ke luar negeri untuk menyelamatkan diri. Untung saja Doni tak sadar sudah memberitahunya, sehingga Roger masih punya kesempatan untuk melarikan diri.
Sementara di restoran, tuan Carlos beserta sekretarisnya sudah hadir. Di tambah lagi dengan Tamara yang diundang Irene dan Alex. Mereka segera membicarakan hal yang terjadi di butik Irene yang baru saja di bukanya.
"Tampaknya kau salah memilih partner Tamara, coba kau lihat semua bukti ini".
"Apa Roger yang melakukan semua ini??".
"Ya,,musim ini kita rugi besar".
"Untung tuan Carlos berbaik hati mengembalikan hak cipta nya kepada kita".
"Kalian tunggu sebentar, biar aku hubungi dia".
Tamara mencoba menghubungi Roger, tapi ponselnya tidak aktif. Beberapa kali dia mencoba tapi hasilnya nihil.
"Mungkin dia sudah tahu kalau kita memergokinya".
"Tak mungkin, seharian tadi dia masih bersama ku di butik".
__ADS_1
"Kau lihat Irene,,ponselnya sudah tidak aktif".
"Kalau begitu, sebaiknya kita minta bantuan polisi".
"Biar mereka yang mencarinya".
Saat mereka sedang sibuk mencari Roger, pria itu sudah menaiki pesawatnya menuju Paris. Uang yang di ambilnya dari butik Irene lebih dari cukup untuk biaya hidupnya.
Roger tak perlu khawatir lagi. Polisi pasti tak akan bisa mencari dirinya. Dan hebatnya lagi,
semua uang butik telah ikut di bawa kabur olehnya. Bahkan Irene dan Alex tak menyadari sama sekali akan hal ini.
Tamara menelpon pegawai apartemen tempat Roger tinggal. Menurut keterangan mereka,Roger memang sudah pergi dengan membawa kopernya.
"Kita benar- benar kecolongan, Roger sudah kabur".
"Irene, periksa rekening perusahaan mu, sepertinya perasaan ku tidak enak".
Irene langsung mengecek ponselnya. Benar saja, saldo di rekening perusahaan sudah raib. Ada transaksi transfer, beberapa jam sebelumnya. Rupanya Roger sudah memperhitungkan semuanya. Dia ingin Irene benar-benar hancur oleh nya.
"Habis sudah Tamara, dana operasional butik sudah diambil oleh Roger".
"Orang itu sungguh licik".
"Aku sama sekali tak menyangka kalau dia tega berbuat seperti itu".
"Sudah lah Irene,,ini semua sudah terjadi".
"Biar polisi yang akan menangani nya nanti".
"Tenang saja Tamara,, mungkin ini peringatan bagiku".
"Semoga setelah ini,kita bisa lebih berhati-hati".
"Terutama memilih partner bisnis".
Malam itu, mereka semua kembali dari restoran dengan perasaan kecewa. Butik yang baru saja di buka, akhirnya harus hancur. Akan butuh waktu lama bagi Irene untuk memulai semuanya kembali. Kerja kerasnya selama ini sia-sia.
Sepanjang perjalanan pulang, Irene lebih banyak melamun. Alex khawatir dengan kondisi istrinya. Apalagi, dia baru saja melahirkan. Istrinya bisa kembali drop.
Sebisa mungkin Alex berusaha menghiburnya. Supaya Irene tak larut dalam kesedihan.
"Sayang,,sepertinya kita butuh liburan".
"Segera setelah anak-anak keluar dari rumah sakit nanti, aku akan membawa kalian jalan-jalan".
"Irene,,kau mendengar ku kan??".
"Maaf Alex, tapi aku kurang fokus tadi".
"Kau bilang apa??".
"Sayang,,berhentilah memikirkan Roger".
"Cepat atau lambat, kita pasti menemukan nya".
"Soal butik mu, pelan-pelan, aku akan membantu mu nanti".
__ADS_1
"Mungkin saat ini kau harus fokus dulu mengurus si kembar".
"Tentang karyawan mu, aku akan menarik mereka ke perusahaan ku".
"Sambil menunggu butik mu aktif kembali".
"Iya,,kau benar Alex, pasti ada hikmah di balik semua kejadian".
"Aku yakin, ini semua memang yang terbaik untuk ku".
Kedua pasangan itu melanjutkan perjalanan mereka. Tak ada kata yang terucap. Keduanya saling diam, menyelami perasaan mereka masing-masing. Hingga mereka tiba di rumah dan segera beristirahat.
Pagi harinya, Irene terlihat sangat lesu. Malas sekali rasanya untuk berangkat ke butik. Dia harus mengambil keputusan tersulit, menutup butik yang baru beberapa bulan berdiri.
Tiba di butik, Irene langsung mengadakan rapat mendadak. Doni yang terlambat bangun,
sama sekali tak mengetahui apa-apa. Buru-buru dia masuk ke ruang rapat karena sudah terlambat.
Sampai di dalam, Doni mendengarkan penjelasan Irene dengan seksama. Barulah saat itu dia menyadari kalau Roger memang tidak ada. Doni mengingat percakapan nya semalam. Mungkin karena dirinya, Roger bisa lolos dengan mudah.
"Untuk pak Doni,,anda kembali menjadi manager di perusahaan pak Alex".
"Dan yang lain nya, posisinya sama dengan posisi kalian di butik".
"Saya meminta maaf sekali kepada kalian semua".
"Semoga ini hanya sementara saja".
"Semoga kita kembali lagi ke butik ini, setelah Roger tertangkap nanti".
Para karyawan memeluk Irene dan berpamitan satu-persatu. Dalan kondisinya yang habis melahirkan, dia menerima cobaan bertubi-tubi. Padahal di mata mereka, atasan nya ini sangar baik memperlakukan karyawan nya.
Setelah semua karyawan pulang, Doni mendekati tempat Irene duduk.
"Maafkan aku Irene,,ini semua salah ku".
"Bukan Doni,,semua ini murni kesalahan Roger".
"Dia memang orang yang licik".
"Rupanya dia sudah lama merencanakan semua ini".
"Seharusnya aku bisa lebih peka".
"Sudahlah,,lupakan semuanya,,kita berdoa saja semoga Roger segera tertangkap".
"Dan,,apa rencana mu selanjutnya Irene??".
"Aku akan mengurus kedua buah hatiku dulu".
"Kebetulan, besok mereka sudah bisa di bawa pulang".
"Jadi memang, mungkin ini sudah diatur, supaya aku fokus pada anak-anak dulu".
Doni merasa lega melihat Irene. Nampaknya, goncangan ini sama sekali tidak mempengaruhinya. Dia tetap bahagia menikmati peran nya yang baru, sebagai seorang ibu.
...****************...
__ADS_1