Bukanlah Butiran Debu

Bukanlah Butiran Debu
Ke Kantor.


__ADS_3

Setelah beberapa jam menemani Irene memeriksa laporan, Alex keluar untuk membeli makanan. Selagi Alex pergi, Doni mendekati meja Irene dan langsung duduk di dekatnya.


"Kalau kau capek, sebaiknya istirahat dulu Irene".


"Kasihan bayi mu, di dalam pasti haus dan lapar".


"Sebentar lagi Don,, lagipula Alex sudah keluar untuk membeli makanan".


"Iya,, aku melihatnya, dia sekarang jadi perhatian padamu".


"Dia selalu seperti itu untuk urusan anak nya".


"Tapi dulu kau enggan menerima kebaikan nya".


"Akhir-akhir ini, ku lihat kalian semakin dekat".


"Dokter menyuruh kami membangun ikatan yang baik,, sehingga anak di kandungan ku bisa tumbuh dengan sehat".


"Lagipula Alex adalah ayahnya,, tak sepantasnya aku menjauhkan dia dari bayi ini".


"Aku hanya mencoba realistis Doni".


"Dan bagaimana dengan hubungan kita berdua Irene??".


"Apa sudah tidak berarti lagi".


"Untuk sekarang, aku hanya fokus pada bayi ku ini,, mereka kembar Doni".


"Jadi, aku harus ekstra dalam menjaganya bukan??".


"Kenapa aku baru tahu sekarang kalau bayi mu kembar".


"Selain kau, baru Alex yang tahu,, aku ingin ini menjadi kejutan".


"Irene,, kalau ada sesuatu dengan mu, bicaralah padaku".


"Aku sangat merindukan mu".


Sekilas Alex tampak memperhatikan Doni dan Irene dari kejauhan. Mereka terlihat sedang asyik ngobrol. Alex membawa makanan dan minuman untuk Irene.


"Tutup laptop mu Irene....dan makanlah, aku sudah membelikan ini untuk mu".


"Sebentar lagi Alex, tanggung...sudah hampir selesai".


"Kau sekarang lebih perhatian kepada Irene".


"Padahal kau dulu sering sekali menyiksanya".


"Itu masa lalu Doni,, orang bisa berubah karena keadaan bukan??".


"Dan aku, ingin berubah demi anak yang sedang di kandung Irene".


"Baguslah,,setidaknya kau sudah berusaha menebus dosa-dosa mu".


"Meskipun aku tak yakin, kalau Irene bersedia menerima mu setelah anak kalian lahir".


Alex berdiri dan hendak menceritakan sebenarnya kepada Doni kalau Irene sudah memaafkan nya. Kalau sekarang di antara mereka sudah bukan lagi sandiwara. Dia bahkan ingin berteriak kepada Doni kalau dia sudah bisa memiliki Irene seutuhnya.


Namun, kedipan mata Irene menunjukkan bahwa Alex tak boleh mengatakan nya. Dia hanya harus bersabar menerima ejekan dari Doni. Dan Alex menghormati keputusan Irene tersebut. Dia kembali duduk dan terdiam, tanpa menjawab sepatah kata pun juga.


"Sebaiknya kau makan dulu Irene, aku juga akan ke kantin sebentar".

__ADS_1


"Iya Doni, selamat makan".


Doni terlihat berjalan keluar. Alex kemudian mendekati istrinya dan memindahkan laptop dari hadapan nya.


"Irene,, kau tidak harus bekerja sekeras ini ".


"Aku tak suka melihat mu kelelahan seperti ini".


"Iya,,aku akan makan sekarang".


"O,ya..Irene....kenapa kau sembunyikan hubungan kita dari Doni??".


"Aku rasa, dia berhak tahu kalau kita sudah berbaikan sekarang".


"Tidak sekarang Alex, tunggu waktu yang tepat,, nanti aku sendiri yang akan memberi tahukan padanya".


"Saat ini aku tak tega melukai hati Doni".


"Tolonglah kau bersabar sedikit,, aku sedang mencari cara agar dia tidak tersinggung".


"Baiklah,,terserah kau saja".


Keduanya lantas melanjutkan pekerjaan kantornya.Alex sedikit kecewa pada sikap Irene sebenarnya. Tapi dia akhirnya memberi kesempatan kepada istrinya untuk menyelesaikan semuanya sendiri. Asal kan Irene mencintai Alex, itu sudah cukup baginya.


Hari sudah semakin senja, Alex dan Irene mengakhiri aktivitas di kantornya. Mereka berjalan ke parkiran hendak pulang, ketika sesaat kemudian perut Irene mengalami kontraksi. Dia merintih menahan nyeri di perutnya.


Alex segera membawanya ke dokter kandungan yang biasa merawat Irene.


"Anda terlalu kecapekan Bu,, jadi perut ibu kram".


"Sebaiknya hindari duduk dan berdiri dalam waktu lama".


"Usahakan untuk sering berbaring".


"Mungkin ini karena seharian ini istri saya terlalu keras bekerja".


"Bisa jadi pak, tapi kalau seperti ini terus, bisa bahaya buat ibu Irene".


"Lalu, saran dokter, bagaimana??".


"Mengingat istri anda hamil anak kembar, sebaiknya berhenti bekerja dulu".


"Akan sangat beresiko kalau terus kontraksi seperti ini".


"Baik, dokter...saya mengerti".


"Baiklah,,saya resep kan obatnya dulu".


"Dia hari ini, istri anda harus bed rest".


Dokter kemudian keluar, setelah selesai memeriksa Irene. Alex menghampiri istrinya.Memegang tangan nya dan mengelus perutnya lembut.


"Apa masih terasa sakit??".


"Tidak,,sepertinya anak mu ini menurut pada ayahnya".


"Mereka menyukai sentuhan mu".


"O..ya...mereka tahu kalau aku ayahnya".


"Mulai besok, kau tak usah pergi ke kantor".

__ADS_1


"Aku tak ingin terjadi sesuatu padamu".


"Biar aku saja yang bekerja,, kau istirahatlah di rumah.


Irene hendak membantah ucapan Alex, tapi dia tahu bahwa hal itu hanya akan memicu pertengkaran di antara keduanya. Jadi, dia lebih memilih untuk diam dan menuruti perkataan suaminya.


Sudah larut malam, saat keduanya akhirnya kembali ke apartemen. Alex menggendong Irene dari tempat parkir sampai ke kamar mereka. Dia membaringkan istrinya di ranjang, dan kemudian menyusul tidur di sampingnya.


Keesokan paginya, Irene terbangun lebih awal. Dia melihat wajah Alex yang tertidur lelap di sampingnya. Irene hendak bangun, namun tangan Alex menahan nya.


Irene tersenyum. Alex sudah banyak berubah.


Sekarang dia sangat mencintai Irene dan terus memanjakan dirinya. Irene merasa keputusan nya datang di saat yang tepat. Walaupun dengan itu, dia harus menyakiti hati Doni.


Ponsel Alex berdering tiba-tiba, mengagetkan Irene yang sedang memandangi ketampanan suaminya. Irene melihat di layar ponsel. Ada nama Nona di sana. Irene ingat betul siapa wanita itu. Dia kemudian membangun kan Alex.


"Sayang, ponsel mu berdering".


"Kau saja yg jawab Irene, katakan kalau aku masih tidur".


Irene mengambil ponsel Alex dan menjawab nya. Sesaat kemudian suara wanita terdengar


di seberang sana.


"Alex,,,hari ini aku ke kantor ya??".


"Ada yang ingin ku bicarakan dengan mu,, ini sangat penting".


"Aku sedang ada masalah sekarang,, pokoknya kau harus membantu ku".


"Hanya kau yang bisa menolong ku keluar dari masalah ini".


Irene terus saja mendengar kan perkataan Nona, tanpa menjawab sepatah kata pun. Dia baru menyadari kalau ternyata Nona bukan hanya sekedar sahabat. Rupanya mereka sudah sering bertemu. Alex bahkan tak menyadari kalau Nona menaruh harapan besar padanya.


Irene menutup ponselnya, saat Nona mengakhiri pembicaraan di antara keduanya.


Irene memandangi wajah suaminya. Entah kenapa kali ini dia merasa marah. Dalam hatinya tak rela kalau ada wanita lain yang menarik perhatian Alex.


Irene mendekati suaminya dan mencium keningnya dengan lembut. Dia juga mendekap erat tubuh Alex, hingga dia terbangun.


"Ada apa ini sayang,, kenapa dengan wajah mu??".


"Apa kau menangis,,kenapa...katakan pada ku".


"Aku tak tahu sayang, entah kenapa air mata ku keluar begitu saja".


"Memangnya siapa yang menelpon ku tadi??".


"Wanita yang waktu itu bersama mu".


"Apa kau mencintai nya??.


"Siapa yang kau maksud,,aku hanya mencintai satu wanita saja, dan itu adalah kau Irene".


"Dia ingin menemui mu di kantor".


"Aku takut kalau dia menggoda mu".


"Kau tenang saja, tak ada wanita lain selain diri mu".


Alex memeluk istrinya dengan erat. Dia tahu kalau ibu hamil biasanya sangat sensitif dan perasa. Mungkin, perasaan inilah yang tengah di rasakan oleh Irene saat ini. Jadi, sebisa mungkin Alex berusaha menghibur dirinya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2