
Alex tengah sarapan saat mama nya tiba-tiba menegur nya.
"Alex,, ubah lah sikapmu yang egois dan otoriter itu".
"Mama nggak suka kau melibatkan mama dalam kejahatan mu".
"Maksud mama apa??".
"Irene tidak berhutang sama sekali pada mama, jadi kau jangan mengatasnamakan sesuatu yang bukan urusan mu untuk mencelakai orang lain"..
"Jadi ini tentang gadis itu".
"Dia karyawan di kantor ku ma, dan aku berhak untuk menyuruh nya melakukan apapun".
"Dan lagi,, kenapa kalian selalu membela nya,,, pantas saja anak itu jadi keras kepala".
"Lihat dirimu sendiri Alex, pantaskah kau melakukan itu pada seorang gadis yang sangat baik".
"Tiga hari ke depan, dia tidak akan bisa berjalan, dan itu karena kesalahan mu".
"Pokoknya mama tidak mau tahu,,, kamu harus minta maaf pada Irene".
Alex meninggalkan sarapan nya dan langsung pergi ke kantor tanpa berpamitan dengan mama nya. Dia sangat kesal karena semua orang membela gadis kampung itu.
Dia juga tak akan mau minta maaf padanya.
Saat masuk kantor, Alex bertemu dengan Doni, tapi dia tak mau bertegur sapa dengan sahabatnya itu. Alex masih kesal karena Doni
mengadu ke mama Alex, jadi dia sangat marah kepada nya.
Doni tak memperdulikan kelakuan sahabat sekaligus atasan nya itu. Dia tak perduli apa yang akan di perbuat olehnya.
"Noni, tolong pindahkan barang-barang ini dari sini".
"Mulai sekarang, Irene sudah bukan pegawai di kantor ini lagi".
"Baik pak".
Pagi hari baru terasa sakit di kaki Irene. Walaupun begitu, dia tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Dia tidak mau manja
seperti anak-anak orang kaya di luar sana.
Dia baru saja selesai menyiapkan sarapan.
Sebentar lagi bapak pulang untuk mandi dan berangkat kerja. Irene segera menelpon nyonya Renata. Dia ingin mulai berangkat kerja hari ini.
"Jangan sayang,, 3 hari kau harus istirahat di rumah".
"Pekerjaan ini masih bisa menunggu mu".
Tapi nyonya, saya merasa sehat, dan saya tidak betah kalau harus menganggur di rumah".
"Tante tidak mau dibantah, kau bisa masuk setelah 3 hari, Oke??".
"Baiklah tante...".
Irene menuruti kata-kata nyonya Renata. Dia orang yang begitu baik, mengerti akan keadaan Irene.
Walaupun di rumah, Irene tidak hanya berdiam diri. Dia menggambar desain, sesekali menulis novel masih sambil memantau toko online nya.
__ADS_1
Hanya kurang sedikit lagi, dia akan membuka outlet frozen food di dua tempat sekaligus.
Seluruh team dan karyawan nya tengah bekerja keras untuk menyiapkan segala nya.
Sebenarnya dia tak perlu melamar pekerjaan di tempat nyonya Renata. Tapi dia harus mengembalikan hutangnya, minimal dengan potong gaji kalau tidak bisa membayar sekaligus.
Hari-hari Irene dilewati dengan sangat baik. Setelah 3 hari, luka di kakinya sudah mengering. Meskipun masih sedikit nyeri, tapi
Irene tetap masuk kerja hari ini.
Pagi-pagi sekali, dia sudah sampai di butik nyonya Renata. Bangunan nya megah dan tampak berkelas. Irena masuk ke dalam nya.
Selera nyonya Irene memang tak diragukan.
Koleksi bajunya fantastis dan mengikuti mode yang sedang tren.
Tak heran kalau langganan nya banyak dan
dari kalangan kelas atas.
"Mbak Irene kan,,, anda sudah ditunggu Bu Renata di atas".
"Ya, baik mbak, saya segera ke sana".
Irene mengetuk pintu ruangan nyonya Renata.
"Ayo sayang, masuklah...tante sudah menunggu dari tadi".
"Maaf nyonya, saya kena macet di angkot".
Irene menatap wanita cantik di sebelah nyonya Renata. Wanita yang anggun dan cantik. Sepertinya dia model karena Irene ingat betul wajahnya terpampang di poster yang ada di jalan raya.
dia juga teman baik Alex. Mereka sama-sama menyelesaikan kuliah di Amerika".
"Ya,,, dan satu lagi tante, aku juga calon menantu tante kan??".
"Sofi,, kalau kau mau dengan anak nakal itu, tante nggak akan melarang".
"Tante tenang saja, anak nakal itu akan berubah baik sebentar lagi".
"Irene, kenapa kau tidak memilih menjadi model??".
"Aku bisa mengenalkan mu pada agensi ku".
"Kau itu sangat cantik, aku yakin dalam waktu singkat kau pasti jadi model terkenal".
"Untuk sementara, saya bekerja di nyonya Renata saja".
"Saya belum terpikir untuk menjadi model".
Mereka berbincang layaknya seorang sahabat, ketika tiba-tiba Alex masuk ke dalam
ruangan mama nya.
Dia melihat sekilas pada Irene dan membuang muka. Melihat Sofi disana, Alex segera berbalik dan membuang muka.
"Kau mau kemana sayang,, aku khusus datang ke sini untuk menjumpai mu".
"Sewaktu di Paris, aku sangat merindukan mu".
__ADS_1
"Ma, bilang padanya untuk tak usah kembali ke sini lagi".
"Teruskan saja bersenang-senang di Paris"
"Kau masih juga jadi anak manja rupanya".
"Kapan kau akan dewasa, kalau setiap kali kau mengadu kepada Tante Rena".
Alex merasa tersinggung dengan perkataan Sofi. Terlebih lagi, ada Irene di sana, gadis yang pernah menjadi sasaran kemarahan nya.
Dia tak ingin terlihat seperti anak kecil di depan Irene.
"Aku pergi.....jangan pernah mengatai ku lagi".
Alex memberi ultimatum untuk Sofi, supaya Irene tidak memandangnya rendah.
"Tunggu Alex, kau belum minta maaf pada Irene kan??".
"Mama ingin kau bertanggung jawab atas perbuatan mu".
"Minta maaf sekarang!!!".
Alex melihat mama nya sudah mulai hilang
kesabaran. Perlahan Irene menenangkan nyonya Renata agar suasana tidak menjadi tegang.
"Sudah lah nyonya, saya sudah sembuh, pak Alex tak perlu meminta maaf".
Alex menghampiri Irene dan memaki dirinya di depan Sofi dan mama nya.
"Anak kampung,, tak perlu kau cari muka di depan mama".
"Aku juga tak Sudi meminta maaf padamu".
"Itu pelajaran yang pantas kau dapatkan, karena kau sudah meremehkan aku".
Irene menahan air mata nya agar tidak tumpah.Kata-kata pak Alex sungguh menyakitkan.Demi menjaga perasaan nyonya Renata, Irene harus tetap tersenyum kepada nya.
Alex sangat marah. Entah kenapa setiap kali melihat Irene, Alex sangat membencinya. Irene mengingatkan diri nya dengan mantan kekasih nya.
Dia pergi meninggalkan Alex setelah ketahuan berselingkuh dengan sahabat nya sendiri.Mereka menikam Alex dari belakang.
Itulah mengapa sikap nya berubah drastis setiap kali melihat wajah Irene. Luka lama yang berusaha dilupakan nya, kini seolah terbuka kembali.
Walaupun Sofi hadir di sisi Alex, namun tak
membuatnya lantas jatuh cinta. Ingatan nya masih tentang pengkhianatan kedua orang sahabatnya itu.
Irene bingung dengan kelakuan Alex. Dia selalu saja melampiaskan kekesalan pada
nya. Dia bahkan tak pandang situasi kalau mau mempermalukan Irene.
"Irene,,sabar ya...anak itu memang sudah gila".
"Mungkin aku harus memberi nya pelajaran".
"Jangan Sofi,,, aku ingin menghentikan semua ini".
"Kalau pak Alex memang tidak ingin berbicara ataupun melihat wajahku, baiklah...aku akan menuruti nya.
__ADS_1
Tekad Irene sudah bulat.Cukup lah diri nya di permalukan seperti tadi.Dia tak akan menghormati nya lagi mulai sekarang.