
Sore itu Doni menemui nyonya Renata di rumahnya. Dia hendak menyelesaikan urusan
hutang Irene kepada nya.
"Doni,,, apa kabar...kamu sekarang jarang main ke rumah ??".
"Alex masih di kantor, barang kali dia lembur".
"Itulah yang ingin saya bicarakan tante, ini tentang anak tante yang menyiksa karyawan
nya hanya karena hutang".
"Apa maksud mu,, tante kurang paham".
"Tolong tante,, katakan berapa hutang Irene kepada tante, biar aku yang bayar sekarang juga".
"Hutang!!!,hutang apa?? tante tak memberi hutang pada siapa pun".
"Soal Irene, tante membantu nya membayar biaya operasi adik nya, karena Irene telah menyelamatkan tas tante yang di jambret di jalan".
"Dan itu tidak seberapa dibanding isi di dalam
tas tante".
"Hanya Irene yang menganggap nya sebagai pinjaman, karena tidak enak hati pada tante".
"Tante ikhlas membantu nya, Irene itu anak yang sangat baik, dan manis, juga cantik tentu nya.
"Dan putra Tante memperlakukan nya sebagai pembantu di kantor, karena dia masih punya utang kepada tante".
"Seharusnya itu bukan urusan Alex, karena dia tidak tahu situasi nya".
"Alex tak berhak ikut campur sama sekali".
"Anak itu sudah benar-benar keterlaluan".
"Doni,, kau bisa antar tante ke kantor sekarang??".
"Biar tante sendiri yang selesaikan ini".
"Anak nakal itu harus diberi pelajaran".
"Mari tante, biar aku antar".
Doni lantas mengantar nyonya Renata ke kantor Alex. Doni ingin Nyonya Renata mengetahui sendiri perlakuan Alex kepada Irene.
Sementara di ruangan nya, Irene masih mengerjakan laporan, ketika Alex menyuruhnya membawakan teh panas.
Irene segera turun ke pantry dan menyeduh teh untuk Alex. Segera Irene membawa teh tersebut ke ruangan Alex.
"Apa-apa an ini, kau mau membakar mulut ku??".
"Maaf pak, saya tidak bermaksud...".
"Prang.......!!!!!".
Sebelum Irene menyelesaikan kalimat nya, cangkir teh itu sudah melayang di depannya.
Irene menahan sakit akibat terkena air teh dan pecahan cangkir.Bersamaan dengan itu
nyonya Renata masuk kedalam ruangan.
__ADS_1
Dia melihat kaki Irene yang berdarah tapi tak dihiraukan karena sibuk membersihkan lantai. Doni yang datang setelah nyonya Renata langsung menyuruh Irene untuk duduk agar luka di kakinya bisa diobati.
"Kau sudah keterlaluan Alex,,apa seperti ini cara mu bersikap terhadap karyawan mu??".
"Mama sungguh kecewa padamu,,, kelakuan anak mama sungguh rendah".
"Mama, kenapa mama kemari??".
"Untuk melihat kejahatan mu terhadap Irene".
"Lihat dengan mata kepala mu,, lihatlah.....".
"Apa perlakuan ini pantas menurutmu?".
"Kau bisa dipenjara kalau Irene sampai melaporkanmu".
"Mulai besok,,Irene bukan lagi pegawai mu, dia akan bekerja dengan mama".
"Doni,,bawa Irene, kita antar dia ke rumah sakit".
"Baik tante".
Doni membopong Irene menuju mobilnya. Mereka segera menuju rumah sakit. nyonya Renata terlihat sangat bersalah kepada Irene.
"Irene,, maafkan anak tante ya,, dia memang sungguh keterlaluan".
"Tidak apa tante,, Irene maklum kok".
"Kamu selalu seperti itu, lihat kakimu Irene,
salah sedikit, kau tidak bisa berjalan".
"Ini hanya luka kecil Doni, jangan melebih-lebihkan seperti itu".
"Tapi kau tak akan melaporkan nya kan sayang??".
"Tidak tante,,, lagipula anda sangat baik kepada saya,jadi saya tak harus memperpanjang hal ini".
"Ingat Irene, mulai besok, kau kerja di butik tante".
"Tapi kontrak dengan perusahaan pak Alex??".
"Aku yang mengurus kontrak nya, kau tenang saja".
Mereka tiba di rumah sakit. Doni membopong Irene ke kursi roda. Darah masih saja. mengalir di sela-sela kakinya. Pecahan cangkir masih ada yang menancap di kaki Irene. Perawat mendorong Irene ke ruang dokter.
Selesai pemeriksaan, kaki Irene diperban. Dia harus beristirahat selama 3 hari, menunggu luka di kakinya mengering. Doni mendorong kursi roda sampai ke mobil. Sementara menunggu nyonya Renata menyelesaikan administrasi.
"Aku antar Tante Rena pulang dulu, baru nanti aku mengantar mu".
"Iya, terimakasih banyak Doni".
"Sampaikan itu nanti kalau kau sudah sembuh,,,ok!!!".
Irene tersenyum.Dia sangat berterimakasih
atas bantuan yang diberikan Doni.Kalau tidak- ada dirinya, entah apa jadi nya Irene sekarang.
"Semua sudah selesai,kita bisa pulang sekarang".
"Ayo tante, biar aku antar tante pulang dulu".
__ADS_1
"Tante naik taxi saja, kau antar Irene pulang, dan pastikan dia beristirahat dengan baik".
"Sayang,,, cepat sembuh ya".
"Terima kasih tante".
"Tante yakin bisa pulang sendiri??".
"Iya Don,,,ayo sana...antar Irene pulang".
Doni masuk ke mobil nya untuk mengantar Irene pulang. Di perjalanan Irene membicarakan kebaikan nyonya Renata yang
berbanding terbalik dengan boss nya yang brengsek.
"Kupikir... pak Alex itu mungkin bukan anak kandung nyonya Renata".
"Kau ini....kami tumbuh bersama, jadi aku tahu kalau memang dia putranya".
"Aku hanya bercanda Doni".
"Dia besar di luar negeri, belum lama ini dia kembali ke Indonesia, jadi kau tahu kan, budaya barat itu memang individualistis".
"Kau benar sekali, beruntung kita masih mengenal sopan santun dan saling menghargai".
"Kita sudah di depan gang Irene,,jadi yang mana rumahmu??".
"Kau turunkan aku disini saja, biar aku jalan sendiri".
"Mana bisa begitu,,,kalau kau jalan sendiri,, bisa sampai malam kau baru sampai rumah".
"Doni....".
Irene berteriak karena Doni membopong nya sampai ke rumah nya. Irene merasa tidak enak karena tatapan mata tetangga nya tertuju ke arahnya.
Sampai di rumah, Doni menurunkan Irene di ruang tamu. Orang tuanya masih menunggu Laura di rumah sakit.
"Maaf Doni, aku tak bisa bikin minum untukmu, orang tuaku masih di rumah sakit semua".
"Tak masalah,, kalau kau masih butuh bantuan, aku bisa tinggal disini lebih lama"..
"Ah .....tidak,, aku bisa sendiri, kau jangan repot-repot".
"Kau yakin??".
Irene mengangguk mendengar pertanyaan dari Doni. Dia sungguh tak mau menyusahkan nya lagi.
"Ini obatmu,, minum dengan teratur dan jangan bangun dulu".
"Iya,,, aku mengerti".
"Sekali lagi, terima kasih Doni".
"Ok,,aku pulang ya,,cepat sembuh".
Doni meninggalkan Irene sendirian di rumah nya. Dia tak mungkin bersikap manja di situasi seperti ini. Dia lalu bangkit dan berpegangan pada dinding untuk berjalan.
Dia meminum obat yang diberikan dokter, kemudian merambat ke kamar. Di atas kasur, dia masih mengurus toko online nya dan menambahkan beberapa bab di novelnya.
Irene kemudian menelpon ibunya untuk memberitahu tentang kakinya yang cedera.
Irene tidak bisa menunggui Laura di rumah sakit. Namun begitu, dia masih tetap bekerja dari ponselnya. Di sela-sela istirahatnya dia juga menggambar dua desain kebaya modern.
__ADS_1
Irene memang tipe pekerja keras. Kalau hanya cedera kaki nya, tak akan bisa menghalangi keinginan nya untuk tetap bekerja. Dia tidak akan kesulitan, karena sumber pendapatan nya sangat banyak.
Kalau dia mau, sudah banyak desainer kenamaan yang hendak membeli hasil karya nya, tapi dia akan menyimpan untuk butiknya sendiri nanti.Setelah semua pekerjaan nya selesai, baru lah Irene beristirahat dengan nyenyak.