
Sepanjang pesta berlangsung, tak henti-henti nya Bagas mencuri pandang wajah Irene. Wanita itu sudah menarik perhatian nya, bahkan sejak pertama kali mereka bertemu.
Irene adalah tipe wanita idaman nya. Tegas, cerdas serta percaya diri. Bahkan Bagas sama sekali tak memandang bahwa Alex adalah suaminya.
"Aku melihat mu dari tadi, kau terus menatap istri pak Alex".
"Itu mungkin hanya perasaan mu saja Candra".
"Tidak,,jelas sekali di wajah mu kalau kau menyukai nya".
"Aku penasaran dengan wanita yang sudah berani memakai ku di depan umum".
"Beruntung, aku kembali bertemu dia di sini".
"Jangan berfikir untuk mendapatkan nya, dia istri orang, asal kau tahu itu".
"Kau mengenalku kan,,apa yang tidak bisa di dapatkan oleh Bagas di dunia ini".
"Aku berani bertaruh, dalam waktu dekat, dia akan bersedia makan malam dengan ku".
"Kau memang gila Bagas,,kalau sampai pak Alex tahu, kau bisa habis dengan nya".
"Kau sudah mengenal ku kan,,apa yang ku inginkan, sudah pasti akan ku dapatkan".
"Terserah kau saja,,dasar orang gila".
Bagas masih tetap memandangi Irene dari kejauhan. Entah kenapa wanita itu begitu menarik perhatian nya. Untung saja Irene tidak menyadari kalau sedari tadi Bagas terus memandangi wajahnya.
Acara makan malam selesai. Sebelum pulang, Alex lebih dulu berpamitan dengan ketua dewan direksi. Di sana juga ada Bagas yang sedang duduk di samping orang tuanya.
"Kami pamit duluan pak, kasihan anak-anak sendirian di rumah".
"Iya pak Alex, sekali lagi selamat, dan mohon bimbingan nya untuk putra saya".
"Pak Alex, saya boleh kan sesekali main ke rumah anda".
"Silahkan pak Bagas, pintu rumah saya selalu terbuka untuk anda".
"Dan Bu Irene juga tak keberatan bukan??".
"Em....silahkan saja".
"Kalau suami saya sudah mengizinkan, saya harus menurut kan!!".
"Baiklah,,kapan-kapan saya akan ke sana".
Alex dan Irene melangkah meninggalkan meja makan. Mereka berjalan menuju ke tempat parkir. Alex mengambil mobil dan segera meninggalkan hotel untuk pulang ke rumah.
"Kau kenapa sayang, wajah mu kelihatan cemberut dari tadi".
"Aku tidak suka dengan pria itu,,,sangat tidak sopan".
"Oh.....soal itu,, kau belum cerita padaku tentang perkenalan kalian".
"Sangat buruk, dia sombong dan arogan".
__ADS_1
"Dia pikir, semua urusan bisa di beli dengan uang".
"Bersabarlah......dia masih anak muda, nanti aku akan mengajarinya".
"Aku tak yakin dia bisa berubah".
Irene sudah terlanjur tidak suka dengan Bagas, jadi dia tidak terlalu menanggapi omongan suaminya. Dia lebih memilih membuka ponselnya.
"Omong-omong sayang, malam ini kau kelihatan cantik sekali".
"Ini karena kau sudah menyiapkan semuanya".
"Tidak, bukan karena baju dan riasan ini, tapi karena kau memang sudah cantik".
"Jangan merayu ku Alex, kau sedang menyetir".
"Aku ingin segera sampai di rumah".
"Aku sudah tak sabar ingin memeluk mu".
Irene hanya terdiam ketika Alex mencium tangan nya mesra. Sudah lama mereka tak menikmati momen berdua, setelah peristiwa beberapa waktu yang lalu.
Alex segera mempercepat laju mobilnya. Dia ingin segera menghabiskan waktu berdua dengan istrinya. Tak berapa lama, mereka pun sampai di rumah.
"Kau tetap di situ, biar aku yang membawamu sampai ke kamar".
"Jangan Alex, bagaimana kalau Nina masih belum tidur?".
"Aku bisa malu nanti, kalau mereka sampai tahu".
Alex menggendong Irene sampai ke kamarnya. Untung saja penghuni rumah sudah tidur. Dengan hati-hati Alex merebahkan Irene di atas ranjang. Dia mencium bibirnya dan menjelajah seluruh tubuh Irene dengan lidahnya. Wanita itu tak kuasa menolak. Sentuhan Alex kali ini sangat lembut dan memabukkan. Irene pasrah, membiarkan Alex memberinya kenikmatan.
Kemesraan keduanya berlangsung panas sepanjang malam.
Pagi harinya, Alex dan Irene bangun kesiangan. Mereka kelelahan setelah semalam memadu cinta sampai pagi. Entah berapa kali Alex meminta lagi dan lagi. Dia seolah tak pernah ada puasnya. Irene sampai kewalahan mengimbangi permainan nya.
Bunyi ponsel yang berdering, membuat Irene terbangun. Dia segera melihat ke layar ponsel Alex. Hari ini hari pertamanya bertugas sebagai CEO. Irene lalu membangun kan suaminya.
"Alex,,,,bangun.....ini sudah siang, kau harus ke kantor bukan??".
"Jam berapa sekarang sayang??".
"Setengah 8,,kau harus bergegas kalau tak ingin terlambat".
Alex membuka mata dan buru-buru berlari ke kamar mandi. Irene menyiapkan pakaian kantor dan sarapan untuknya. Secangkir kopi dibawa ke kamar untuk suaminya.
"Ah.....aku terlambat kali ini".
"Ini karena kau sayang,,semalaman aku terlalu bersemangat".
"Minum kopi mu dulu, aku sudah siapkan sarapan mu".
"Tak sempat sayang, aku sarapan di kantor saja".
"Aku berangkat dulu, sampaikan ciuman ku untuk anak-anak".
__ADS_1
"Hati-hati Alex".
Alex mencium bibir Irene sekilas dan langsung berlari menuju mobilnya. Hari ini bisa kacau kalau sampai dia telat datang. Ketua dewan akan hadir di kantor untuk memperkenalkan putranya sebagai direktur menggantikan Alex.
Irene bersiap untuk mandi setelah Alex berangkat. Namun, sesaat ponsel nya berbunyi. Rupanya ada pesan masuk dari nomer baru yang tak di kenalnya.
"Nyonya Irene, tolong simpan kontak saya di ponsel anda".
"Kita akan sering berhubungan setelah ini".
"Maaf, ini dengan siapa ya??".
"Bagaskara....teman baru anda dan suami anda".
"Baik pak Bagas, terimakasih sudah menghubungi saya pagi ini".
"Ok Bu Irene,, nanti saya hubungi anda kembali".
Irene melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Pagi-pagi mood nya sudah di rusak dengan pesan singkat yang seakan mendikte dirinya. Irene lantas masuk ke kamar mandi dan melanjutkan aktivitasnya.
Walaupun sudah buru-buru, Alex tiba di kantor,ketika ketua dewan sudah mengadakan inspeksi ke karyawan. Alex masuk dan langsung mengambil tempat di samping ketua dewan.
"Sedikit terlambat pak Alex??".
"Apa anda melewati malam yang buruk??".
"Justru karena malam saya sangat indah pak Bagas, saya sampai lupa diri".
"Saya bisa melihatnya, istri anda tentu sangat memanjakan anda bukan??".
"Yah....bisa di bilang begitu".
Pembicaraan keduanya terhenti karena isyarat dari ketua dewan. Bagas maju ke depan dan memperkenalkan dirinya. Semua karyawan menyambut baik dan memberi selamat kepada kedua atasan nya tersebut. Setelahnya, mereka kembali ke pekerjaan nya masing-masing.
"Pak Alex, untuk selanjutnya...perusahaan ini akan menjadi tanggung jawab kalian berdua".
"Saya pamit dulu".
"Silahkan pak, hati-hati di jalan".
Setelah ketua dewan pergi, Alex langsung masuk ke ruangan barunya. Bagas pun menempati ruangan lama yang dulunya di pakai Alex. Dia mengambil ponselnya dan mulai mengetik kan pesan singkat untuk Irene.
"Suami mu pasti beruntung mendapatkan diri mu".
"Aku bisa melihat nya dari aura wajahnya pagi ini, kalian habis bercinta semalaman bukan??".
"Itu bukan urusan mu, jangan pernah mencampuri urusan pribadi orang, pak Bagas...saya peringatkan anda!!".
"Aku suka kalau kau marah seperti ini".
"Kalau kau di samping ku pasti terlihat lebih seksi".
Irene benar-benar sudah jengkel. Laki-laki ini terus menguji kesabaran nya. Kalau tak memandang Alex, Irene pasti sudah melabraknya. Dia matikan ponselnya dan pergi ke kamar si kembar.
...****************...
__ADS_1