
Hari sudah sore, tapi Alex masih belum bangun juga. Banyak sekali panggilan dari handphone nya, dan Irene tak berani menjawabnya. Dia hanya menunggu sampai Alex bangun sendiri. Padahal toko.sudah tutup dari tadi, dan karyawan sudah pada pulang semua.
Irene memegangi perutnya yang keroncongan sejak tadi. Rupanya bayinya sudah kelaparan.
Akhirnya dia beranikan diri untuk membangun
kan Alex.
"Alex,,, ayo bangun,, perut ku lapar sekali".
"Alex,,,,,bangun.....ini sudah sore".
"O, ya...maaf Irene,, aku jadi kelamaan tidur".
"Jam berapa ini,, toko mu sudah tutup??".
"Sudah hampir jam 7 malam, dan aku kelaparan dari tadi".
"Kenapa tak membangunkan aku??".
"Aku takut kau marah".
"Ayo,, kita cari makan di depan, yang paling dekat".
"Yang penting perut mu terisi dulu, baru nanti kita makan di restoran".
Alex memegangi tangan Irene sewaktu naik tangga. Dia tak ingin sampai terjadi sesuatu padanya. Setelah menutup rolling door, Alex dan Irene segera berjalan ke depan. Mereka menemukan bakso di seberang jalan. Keduanya segera melangkah ke warung tersebut.
Sesampainya di warung bakso, Irene tak sengaja bertemu dengan teman-teman kuliahnya. Mereka ikut senang karena Irene jadi desainer terkenal. Bahkan fashion show waktu itu, teman-teman nya pun menonton.
"Ya ampun Irene,,, senang sekali ketemu kau di sini".
"Sudah lama kau menghilang,, di butik tempat mu bekerja bilang kalau kau sudah keluar".
"Iya lah,,, secara.....Irene kan sudah jadi desainer sekarang".
"Ayo,, bergabunglah di meja kami".
"O,,ya..siap teman mu itu, tampan sekali dia".
"Dia suami ku,, kenalkan namanya Alex".
Teman-teman Irene keheranan mendengar Irene sudah menikah. Mereka tak pernah merasa di undang atau mendengar kabar pernikahan Irene selama ini.
"Suami,,,, kau tak bohong kan???".
"Mas Alex ini benar suaminya Irene??".
Alex hanya tersenyum dan mengangguk. Dia kemudian menarik kursi untuk Irene duduk dan memesan makanan untuknya.
"Hmmm...aku juga mau punya suami se sweet ini".
"Tapi kenapa kau tak mengundang kami di pernikahan mu??".
"Tenang saja,, kalian semua aku undang di acara resepsi".
"Undangan sudah di kirim ke rumah kalian masing-masing,, tunggu saja".
"Irene,,, ku kira kau masih ingin meniti karir".
__ADS_1
"Bukan nya fashion show mu sukses besar??".
"Iya,, dan aku sudah membuka butik bersama Tamara,, kalian bisa ke sana nanti".
"Oh,,, pasti aku akan langsung ke sana,, dan kau mengontrak di sini".
"Ku lihat kalian hanya berjalan kaki".
"Kalian lihat toko Frozen food di depan,, itu milikku, aku sedang memeriksa stok tadi".
"Nanti kalian bisa belanja di sana juga".
"Wah.....Irene kita rupanya sudah sukses sekarang".
Alex sejak tadi hanya diam saja, menunggu makanan belum di sajikan. Teman-teman Irene ini tak mau meninggalkan nya barang sedikit pun. Mereka juga banyak bicara dari tadi. Alex bahkan merasa tak dianggap.
"Permisi,, Irene harus makan sekarang".
"Ngobrolnya nanti lagi saja ya".
"Alex,,, kau perhatian sekali,, aku jadi kepingin cepat nikah kalau begini".
"Kau beruntung sekali Irene,,dapat suami cakep, perhatian, sabar, penuh cinta lagi".
"Tolong Carikan yang seperti ini buat ku dong!!".
Irene hanya tersenyum menanggapi omongan teman-teman nya. Memang benar, akhir-akhir ini Alex semakin sabar dan perhatian kepadanya. Sejak peristiwa malam itu, Alex sudah banyak berbeda sekarang.
Irene menghabiskan bakso nya dengan lahap.
Sejak tadi perutnya memang sudah keroncongan. Teman-teman nya masih nongkrong di warung bakso tersebut, ketika Irene pamit hendak pulang.
"Aku duluan ya,,,apartemen kami lumayan jauh dari sini".
"Ya ampun,,,terima kasih banyak mas Alex".
"Semoga kita bisa sering ketemu di restoran ya".
"Lumayan,,,bisa dapat gratisan".
Lagi-lagi Alex hanya tersenyum dan langsung menarik tangan Irene keluar. Mereka berjalan menghampiri mobil di depan toko. Irene dan Alex segera masuk mobil dan kembali ke apartemen.
Sebelum sampai di apartemen, Alex sempatkan membeli makan dan cemilan. Mana tahu Irene nanti kelaparan tengah malam. Mengingat dia sekarang sedang hamil.
Tiba di apartemen sudah malam, untung semua barang sudah di rapikan oleh pegawai Alex. Jadi mereka berdua tinggal mandi dan istirahat.
"Mandi lah dulu Irene, aku belakangan saja".
"Iya,,badan ku juga sudah gerah".
Irene pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara ponsel nya berdering. Ada panggilan masuk dari Doni. Alex hanya melihatnya saja, ingin tahu bagaimana reaksi dari Irene nanti.
Setelah selesai mandi, Alex memberi tahunya. Dia kemudian melihat ponselnya.
"Doni yang menelpon, entah ada keperluan apa".
"Kau tak mau menelponnya lagi??".
"Nanti saja,,,mungkin masalah butik".
__ADS_1
"Giliran mu mandi, biar aku siap kan makan malam".
Alex bergegas masuk ke kamar mandi. Dia sempat tersenyum karena Irene sudah lebih terbuka padanya kali ini. Dia pun juga tidak merespon panggilan telepon dari Doni.
Alex keluar dengan rambut masih basah. Makan malam sudah di siapkan oleh Irene.
Mereka kemudian makan malam bersama.
"Kau nanti tidur di kamar saja Irene, biar aku tidur di sofa".
"Tapi, ini kan apartemen mu, aku tak enak kalau kau yang harus tidur di sofa".
"Tak apa, aku sudah biasa".
"Lagipula, anak ku dan ibunya harus merasa nyaman".
Di tengah makan malam, Doni kembali menelpon Irene. Dia menjawab panggilan dari lelaki tersebut.
"Irene, apa kau sedang sibuk saat ini??".
"Aku sedang makan Don,, ada perlu apa??".
"Butik kalian sudah selesai dibuat,,tinggal peresmian saja".
"Sebenarnya aku bisa ke hotel untuk membicarakan ini dengan mu".
"Aku sudah keluar dari hotel,, bsk saja aku hubungi lagi".
"Oke,, aku tunggu kabar dari mu"
"Alex, apa boleh Doni datang ke apartemen ini?".
"Kami harus membicarakan kelanjutan bisnis butik dengan Tamara".
"Ini tempat tinggal mu, tentu saja aku tidak boleh sembarangan membawa orang masuk bukan?".
"Kalau kau keberatan, aku janjian dengan nya di restoran saja".
"Kau boleh mengundangnya kemari Irene".
"Akan lebih baik kau dirumah saja dalam kondisi mu sekarang ini".
"Kau juga harus mengurangi aktivitasmu di luar".
"Jangan sampai kau kelelahan dan berakibat buruk pada bayi kita".
"Iya,, aku mengerti".
Irene yang sudah selesai makan, hendak membereskan piring dan mencucinya di dapur. Mengingat di apartemen hanya berdua, Irene harus mengerjakan semuanya sendiri.
Irene bangkit dan mengangkat piring kotor tersebut dari meja. Namun tiba-tiba Alex mencegahnya. Dai kemudian mengambil piring tersebut untuk di cucunya sendiri. Irene mengikutinya di belakang, karena dia tahu Alex tak pernah sekalipun melakukan pekerjaan rumah tangga.
"Kau istirahat saja Irene, biar aku yang kerjakan semuanya".
"Aku tak yakin kau bisa,, yang ada piring ini nanti habis di pecah oleh mu".
"Hanya cuci piring, apa susahnya!!".
"Duduk saja di situ, dan lihat bagaimana aku bekerja".
__ADS_1
Alex mengambil kursi dan menyuruh Irene untuk duduk. Dia sendiri sedang mencuci piring satu-persatu dengan hati-hati. Irene memperhatikan dengan seksama. Walaupun masih kaku, rupanya Alex bisa melakukan nya. Suatu keajaiban, tuan muda yang manja seperti Alex bisa turun ke dapur juga.
...****************...