Bukanlah Butiran Debu

Bukanlah Butiran Debu
Memasukkan Musuh.


__ADS_3

Irene dan Alex turun ke bawah bersama kedua buah hatinya. Mereka menemui baby sitter yang di kirim dari yayasan. Kedua pasangan itu hendak mewawancarai calon pengasuh kedua anak kembarnya.


Dilihat sepintas, penampilan mereka tampak sederhana. Mereka berdua juga bersikap sopan. Alex mewawancarai mereka satu per satu.Ketika di rasa sudah meyakinkan, Alex menerima mereka bekerja di rumahnya.


"Kalian saya terima bekerja di sini".


"Selanjutnya, tugas kalian adalah membantu istri saya mengasuh si kecil".


"Tolong kerjasama nya".


"Baik pak".


Pengasuh baru itu langsung di antar menuju ke kamar mereka. Nina dan Nita nama mereka berdua.Mulai.hari ini resmi menjadi baby sitter di rumah Irene.


Sesampainya di kamar, Nita langsung menelpon ponsel Roger. Tapi dia tidak dapat tersambung. Niatnya hanya ingin melapor, kalau dirinya sudah berhasil masuk ke rumah Irene.Rupanya Roger tengah melarikan diri, jadi dia mematikan semua ponselnya.


Semalam, polisi menggerebek apartemen nya di Paris. Tapi, Roger berhasil kabur sebelum


polisi sampai. Sampai sekarang polisi belum menemukan keberadaan nya. Alat komunikasi yang di miliki Roger sudah di matikan, sehingga GPS tidak bisa melacaknya.


Irene memanggil Nita dan Nina ke kamar bayi. Mereka.harus memandikan si kembar.


Sementara Irene sendiri menyiapkan keperluan Alex untuk berangkat ke kantor.


"Wah....Nina, rupanya nyonya rumah ini sangat kaya".


"Kau lihat perabotan di sini,, mahal-mahal dan berkelas".


"Sudah lah,, jangan mengurusi hal lain, kita mandikan saja majikan kecil kita ini".


"Ya...ya.....mereka kan pemilik rumah ini".


"Makanya kita harus memanjakan dia".


Di hari pertama, kedua baby sitter itu terlihat kompak. Tapi sifat Nita sudah jelas dari awal.


Maklum, dia lah orang yang di bayar Roger untuk menjadi baby sitter di rumah Irene.


Di kamar utama, Irene sedang menyiapkan baju kantor Alex. Tak lupa dia membawakan segelas kopi ke kamar. Alex masih berada di kamar mandi.


"Sayang, ponsel mu berbunyi, ada telepon dari Vera".


"Biarkan saja Irene,,tak usah di angkat".


Alex menjawab sambil keluar dari kamar mandi. Dia langsung memeluk istrinya dari belakang dan menciumi lehernya.


"Memangnya kalian ada urusan apa??".


"Kemarin dia juga menelpon ku kan??".


"Tidak ada,,,,aku malah sedang punya urusan dengan mu saat ini".


"Jangan bercanda Alex,,aku belum melihat anak-anak sehabis mandi tadi".


"Mereka mungkin sudah kembali tidur".


"Aku yang membutuhkan diri mu saat ini".


Alex menyandarkan kepalanya di pundak istrinya, sambil tangan nya aktif menyentuh bagian favoritnya. Sesekali dia mencium pipi Irene yang tampak berisi setelah melahirkan.


"Kalau kau seperti ini terus, bisa-bisa kau tak jadi ke kantor nanti".


"Tenang saja sayang, kantor bisa menunggu".

__ADS_1


"Tapi, momen berdua dengan mu seperti ini, akan jarang sekali ku dapatkan".


Seketika Irene berbalik, dia mencium lembut bibir suaminya. Alex sangat terkejut, namun sesaat kemudian dia berusaha membalas ciuman dari istrinya. Jarang sekali Irene mau berinisiatif seperti barusan. Tentu saja hal itu membuat Alex sangat senang.


"Tumben,,kau bersikap seperti ini".


"Aku bisa libur sehari lagi dari kantor kalau kau menginginkan nya".


"Kau kemarin kan sudah libur Alex".


"Berangkat lah sekarang, nanti malam saja kita pergi berdua".


"Baiklah,, aku pasti tidak sabar menunggu sampai malam tiba".


Sekali lagi Irene mencium bibir Alex dan langsung menyuruhnya berpakaian


Sementara dia sendiri langsung ke kamar bayi. Mereka sudah terlelap sehabis mandi pagi tadi.


"Kalian berdua sarapan saja dulu, biar aku yang jaga si kecil".


"Baik Bu".


Irene duduk di meja sambil menghadap ke laptop. Dia memeriksa laporan dari tokonya.


Sudah beberapa lama Irene tidak berkunjung ke sana. Sejak butiknya tutup, dia jadi punya waktu untuk mengurus bisnis lama nya tersebut.


Alex masuk ke kamar dengan membawa tas kerjanya sekalian. Dia mencium mesra kedua buah hatinya. Alex lalu menghampiri istrinya dan mencium keningnya lembut.


"Aku berangkat dulu sayang".


"Alex,,apa kau sudah pikirkan nama untuk anak-anak kita?".


"Nanti kita bicarakan lagi saat makan malam".


"Aku pasti pulang cepat hari ini".


"Ya Alex,, hati-hati di jalan".


Alex bersemangat berangkat ke kantor. Dia tidak sabar menunggu sore hari untuk makan malam dengan Irene. Sampai di kantor dia bertemu dengan Doni. Mukanya kusut seperti habis begadang.


"Kau sepertinya kurang sehat, lihatlah wajah mu".


"Aku hanya kurang tidur Alex, setelah minum kopi nanti, pasti lebih baik".


"Jangan terlalu di paksakan kalau memang kau sakit".


"Istirahat saja dulu di rumah".


"Alex, boleh aku bertanya sesuatu padamu??".


"Katakan Don,, apa yang ingin kau tahu?".


"Apa sekarang cinta Irene sudah di berikan kepadamu?".


"Ku lihat, akhir-akhir ini kalian sering bersama".


"Padahal kalian bilang, akan bercerai begitu bayinya lahir".


"Dengar Don,, mungkin sekarang Irene sudah menyadari kalau anak-anaknya jauh lebih penting dari apapun".


"Kami bukan lagi anak kecil kan??".


"Jadi kami harus bertanggung jawab dengan apa yang telah kami lakukan".

__ADS_1


"Maaf Doni,, tolong hormati keputusan Irene".


"Jangan buat dia terlalu banyak pikiran".


"Masalahnya kemarin pun belum juga selesai".


"Kau benar Alex,, sebagian besar itu terjadi karena salah ku".


"Aku terlalu percaya dengan Roger".


"Padahal dia orang yang sangat jahat".


"Apa sudah ada kabar darinya?".


"Semalam dia bisa lolos dari sergapan polisi".


"Saat ini mereka masih melakukan pengejaran".


"Semoga saja dia segera tertangkap".


"Jadi kau mau kerja atau pulang saja Don?".


"Aku masuk saja Alex".


Alex melangkah kan kakinya menuju ke ruangan kantornya. Saat dia masuk, rupanya Vera sudah menunggunya di dalam.


"Bagus...kau.sudah datang Alex".


"Kau berutang penjelasan padaku".


"Katakan siapa wanita yang bersama mu kemarin?".


"Kau lagi....berhentilah mengganggu ku Vera".


"Aku sudah bilang kan, wanita itu hanya teman".


"Selama ini aku bersama mu, tapi aku tak tahu kau punya teman macam itu".


"Kau kan lebih banyak di luar negeri".


"Sudah,, masalah ini anggap saja sudah selesai".


"Sekarang, biarkan aku kerja".


"Kau sama sekali tak menghargai aku rupanya".


"Vera,, ku mohon padamu,, aku dan Irene sudah berbaikan".


"Jadi jangan hal kecil yang kau lihat, seolah masalah besar dan kau sampaikan pada Irene".


"Ini hidup ku dan Irene, biar kami jalani berdua".


"Ku minta kau jangan ikut campur".


"Ok,,, baiklah kalau memang seperti itu".


"Tapi, aku cuma ingin bilang padamu,, hati-hati dengan wanita seperti dirinya".


"Biasanya wanita seperti itu bisa melakukan tindakan yang tak terduga".


"Jangan sampai karena kau tak jujur, hubungan mu dan Irene harus berakhir".


Vera melangkah keluar dari kantor dengan rasa kecewa. Penjelasan yang di harapkan nya keluar dari mulut Alex, tidak terjadi. Dia malah berkesan menutup-nutupi identitas wanita yang bersama nya. Vera akhirnya menyerah dan membiarkan Alex mengatasi masalahnya sendiri.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2